alexametrics
Minggu, 17 Jan 2021
radarkudus
Home > Jepara
icon featured
Jepara

Lima Titik Tanggul Jebol, Ratusan Rumah di Jepara Terendam Banjir

12 Januari 2021, 11: 31: 39 WIB | editor : Ali Mustofa

KURAS: Warga Tegalsambi menunggu air surut sebelum membersihkan sisa lumpur yang terbawa air sungai sampai ke delam rumah.

KURAS: Warga Tegalsambi menunggu air surut sebelum membersihkan sisa lumpur yang terbawa air sungai sampai ke delam rumah. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA – Selain merendam pusat Kota Jepara, banjir juga terjadi di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara. Sungai Sengapan Desa Tegalsambi meluap kemarin. Derasnya arus sungai mengakibatkan lima titik tanggul sungai jebol. Mengakibatkan 159 rumah di RT 9/RW 2, Desa Tegalsambi, tergenang.

Ketinggian mulai 40 sentimeter hingga satu meter. Air mulai masuk kepemukiman warga sekitar pukul 05.00. Berangasur naik hingga pukul 06.00. Dua jam kemudian mulai surut. Namun masih menyisakan genangan hingga sore kemarin.

Wahib, 28, salah satu warga setempat mengatakan setiap hujan deras Tegalsambi dapat kiriman air bah. Jika meluap akses jalan tergenang. Tidak sampai masuk ke pemukiman warga. Namun kejadian kemarin air masuk ke rumah sampai 20 sentimeter. ”Ada tanggul yang jebol. Jadi air tambah deras masuk ke pemukiman,” tuturnya.

Aktivitas warga pun terhambat. Sebagian besar bekerja di bidang mebel. Kayu-kayu yang hendak diproduksi ikut tergenang. Tempat produksi barang-barang mebel juga mengandalkan listrik. ”Berisiko kalau tetap kerja. Kayunya juga tidak bisa diapa-apakan,” tuturnya.

Genangan air itu justru dimanfaatkan anak-anak setempat untuk bermain dan berenang. Ada juga yang menaiki perahu kayuh. Keliling kampung hingga persawahan yang terendam banjir.

Sementara itu, Petinggi Desa Tegalsambi Agus Santoso menjelaskan Sungai Sengapan masih satu jalur dengan sungai di Desa Mantingan sampai ke hulu bagian timur. Sementara Tegalsambi menjadi bagian hilir. ”Kalau debit air dari daerah atas naik, otomatis di Tegalsambi naik,” terangnya.

Saat mengunjungi pemukiman warga, ia memantau arus air dari sungai yang melewati terpantau deras. Diperkirakan terdapat tanggul jebol. ”Kalau air di pemukiman arus yang lewat kecil itu hanya luapan. Ketika dicek ternyata benar ada tanggul yang jebol,” katanya.

Dari lima titik, dua di antaranya di bagian barat jembatan sungai. Dampaknya di lahan persawahan. Sedangkan tiga titik di sisi timur jembatan sungai. Itu yang mengakibatkan air masuk ke permukiman. Rata-rata lebar tanggul yang jebol sekitar tiga meter.

Pihaknya telah mengajukan karung kepada Pemkab Jepara untuk penahan tanggul yang jebol. Sifatnya sementara. Selanjutnya akan mengajukan proposal pembuatan talud permanen.

Selain di Tegalsambi, luapan sungai juga terjadi di Mantingan, Tahunan. Masih satu jalur aliran sungai dengan Sungai Sengapan, Tegalsambi. Luapan itu di jalan Sultan Hadlirin atau sekitar jembatan Gapura Mantingan. Begitu juga dengan jembatan Desa Mantingan di Jalan Raya Bugel-Jepara. Kendaraan yang hendak melintasi jalan tersebut harus memutar mencari jalan alternatif melewati Desa Krapyak, Tahunan.

Hujan kemarin juga mengakibatkan sampah menumpuk di jembatan RT 1/RW II, Desa Sengonbugel, Mayong, kemarin.

Anggota Koramil 05/Mayong yang dipimping oleh Serma Kasyono bersama petugas dari Pusdataru dari Kecamatan Kudus dan dibantu warga sekitar melaksanakan kerja bakti membersihkan tumpukan sampah yang mengganggu laju aliran air sungai.

Camat Mayong Muhammad Subkhan mengatakan sampah sangat rawan menghambat aliran air dan kondisi ini sangat rawan memicu luapan air yang dapat mengakibatkan banjir.

Selain merendam pusat kota dan rumah penduuk, banjir mengakibatkan korban jiwa. Seorang perempuan Kasminah, 74, terseret arus ketika hendak membuang sampah. Kejadian tersebut terjadi di Desa Nalumsari. Pencarian orang hilang tersebut melibatkan operasi tim sar gabungan yang terdiri dari berbagai lembaga.

Saat koran ini meninjau lokasi pencarian di Blimbingrejo, banyak warga yang turut menyaksikan proses pencarian dari atas jembatan. Dalam operasi pencarian tersebut BPBD Jepara juga dibantu oleh BPBD Kudus.

Saiful Aziz dari bagian Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BPBD Jepara mengatakan korban disinyalir hanyut ke sungai saat hendak membuang sampah. ”Ia melakukan rutinitas di pagi harinya dengan membuang sampah di sungai. Saat itu korban turun ke sungai, tapi tiba-tiba arus datang dari hulu cukup deras sehingga dia turut terseret arus,” ujar Saiful.

Berdasarkan penuturan Saiful terdapat saksi mata yang melihat korban hanyut dan mencoba menolong korban namun tak berhasil. ”Ada saksi yang mencoba melempar tali untuk menolong korban. Tapi korban gak bisa mencapainya akhirnya kembali hanyut,” ungkap Saiful.

Proses pencarian tersebut dimulai dari pukul 08.00 pagi. Dalam operasi pencarian orang hilang di Nalumsari, BPBD Jepara bekerjasama dengan BPBD Kudus dan PMI Kudus. Beberapa lembaga kemanusiaan di Jepara juga turut membantu proses pencarian.

Proses pencarian orang hilang tersebut difokuskan di kawasan aliran Sungai Nalumsari hingga DAM Blimbingrejo. Proses penyisiran dilakukan dengan menyusuri aliran sungai menggunakan tiga buah perahu polytelin. ”Ada tiga buah perahu yang digunakan. Dua dari Kudus, dan satu dari Jepara,” kata Saiful.

Saiful menjelaskan proses pencarian dilakukan di bagian atas DAM Blimbingrejo terlebih dahulu. Namun pencarian akan dilakukan dibagian bawah DAM bila tak membuahkan hasil hingga siang hari. (rom)

(ks/war/zen/top/JPR)

 TOP