alexametrics
Rabu, 20 Jan 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Tanggul Sungai Piji Jebol, Luapan Air Genangi Permukiman Warga

11 Januari 2021, 10: 48: 05 WIB | editor : Ali Mustofa

KERJA SAMA: Berbagai pihak kebut penambalan tanggul di dua titik di Desa Tenggeles, Mejobo, Kudus, kemarin.

KERJA SAMA: Berbagai pihak kebut penambalan tanggul di dua titik di Desa Tenggeles, Mejobo, Kudus, kemarin. (EKO SANTOSO/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS - Tanggul jebol kembali terjadi di Kabupaten Kudus. Sebelumnya tanggul Sungai Gelis di Desa Pasurihan Lor, Jati, Kudus, jebol sepanjang 50 meter. Kini tanggul Sungai Piji, Desa Tenggeles, Mejobo, bernasib sama. Ada dua titik jebol di RT 2/RW II sekitar 10 meter. Dan di Dukuh Badong RT 5/RW I berukuran 5 meter.

Camat Mejobo Aan Fitriyanto mengungkapkan kejadian ambrolnya tanggul sungai Piji di Desa Tenggeles terjadi selepas Maghrib Sabtu (9/1). Akibat jebolnya tanggul itu, air ambyar ke permukiman. Sempat merendam sejumlah rumah warga di RT 2/RW 2.

”Sore kemarin (Sabtu, red) di daerah hulu intensitasnya cukup deras. Setiap daerah hulu hujan deras dengan intensitas lama di hilir aliran sungai piji pasti penuh tanggulnya. Dan kemarin jebol tanggul yang di RT 2/RW 2,” kata pria yang akrab disapa Aan ini.

SENGKUYUNG: Sejumlah personel TNI-Polri dan masyarakat bergotong-royong memperbaiki dengan membuat tanggul darurat dengan karung berdiri tanah padas kemarin.

SENGKUYUNG: Sejumlah personel TNI-Polri dan masyarakat bergotong-royong memperbaiki dengan membuat tanggul darurat dengan karung berdiri tanah padas kemarin. (DIYAH AYU FITRIYANI/RADAR KUDUS)

Tidak ada korban jiwa maupun kerusakan bangunan yang parah akibat kejadian itu. Namun diakuinya air sungai yang ambyar sempat merendam 50 rumah. Dengan ketinggian beragam. Mulai dari 5-30 centimeter.

Sementara itu, pantauan di Desa Kesambi yang juga menjadi langganan luapan air saat daerah hulu hujan deras terpantau cukup terkondisikan pada Sabtu (9/1) malam lalu. Beberapa titik terjadi limpasan. Seperti di jembatan 10.

”Beberapa titik sampai limpas airnya. Karena memang sejumlah titik tanggul rembes. Secara umum pantauan tadi malam di Desa Golantepus, Hadiwarno, termasuk Kesambi masih aman,” jelasnya.

Plt Bupati Kudus Hartopo bersama dengan Kapolres Kudus AKBP Aditya Surya Dharma meninjau lokasi tanggul yang jebol. Sebelumnya Dandim 0722/Kudus Letkol Kav Indarto juga datang untuk mengecek kondisi terkini penyebab banjir di sebagian Desa Tenggeles malam kemarin.

Sejak pagi sekitar pukul 08.00 puluhan aparat yang terdiri dari TNI dan Polri, relawan bencana, BBWS, BPSDA dan masyarakat bergotong-royong memperbaiki tanggul secara darurat. Mereka menanam bambu sebagai pancang dan menata pasir berisi tanah padas.

”Permasalahan crane tidak bisa masuk sampa lokasi. Jadi semua harus dikerjakan secara manual. Sehingga butuh waktu cukup lama," kata Hartopo saat ditemui di lokasi.

Dalam penanganan kebencanaan pada masa seperti ini butuh cara yang kompleks. Sebab, selain terkait bencana itu sendiri juga masalah penanganan pandemi Covid-19. Meskipun banjir sudah surut dan tidak ada ada warga yang mengungsi, Hartopo tetap meminta pihak desa mendirikan dapur umum dan posko kesehatan.

”Hari ini (kemarin, Red) tetap saya minta dapur umum dan tenaga kesehatan stanby di lokasi. Jadi ketika ada warga yang sakit harus segera tertangani,” ucapnya.

Terkait jebolnya tanggul sepanjang 10 meter itu, salah satunya disebabkan permasalahan kompleks. Mulai dari talud di hilir banyak keropos karena abrasi sampai kesadaran warga untuk menjaga lingkungan yang kurang. 

Sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi tanggul jebol di waktu yang akan datang, dirinya meminta sinergitas dari Dinas PUPR Kudus bersama BBWS dan BPSDA. Hal tersebut sebagai bentuk pencegahan dalam mengontrol kondisi talut sungai yang keropos agar segera diperbaiki. Dirinya juga meminta peran aktif pemdes dan masyarakat dalam memantau dan secara swadaya menutup lubang-lubang kecil pada talut tidak membesar.

”Sebetulnya harus ada pemeliharaan tanggul secara rutin dari sinergitas BBWS, BPSDA, dan Dinas PUPR Kudus. Kalau dilihat permasalahannya karena arus deras dan bagian bawah tanggul sudah terkikis, maka ketika musim kemarau harus dikontrol. Selain itu juga perlu koordinasi yang baik dari pemerintah desa dan masyarakat untuk mencegah lubang talut agar tidak membesar,” terangnya.

Pelaksana Sungai BBWS Pemali Juana Danis Handoyo menyebut penyebab jebolnya tanggul sungai Piji di Desa Tenggeles, Mejobo, karena talud rapuh. Karena  tergerus arus.

”Tapi saya prihatin dengan tingkat kesadaran warga. Seperti tidak ada keinginan untuk menjaga lingkungan. Pernah saat kami perbaiki talud, ada warga sambil naik motor ngantar anaknya sekolah, lalu seenaknya membuang sampah di sungai,” katanya.

Sementara itu perbaikan dua tanggul di Desa Tenggeles, Mejobo, dikebut kemarin. Di Desa Tenggeles, tanggul jebol terjadi di dua titik. Pertama di wilayah RT 2/RW II dengan ukuran sekitar 10 meter. Sementara satunya berlokasi di Dukuh Badong RT 5/RW I, dengan ukuran yang lebih kecil 5 meter.

Pantauan wartawan koran ini di lokasi tanggul jebol RT 5/RW I telah selesai diperbaiki sekitar pukul 14.00 kemarin. Sedangkan penambalan di RT 2/RW II, masih berlangsung. Meskipun hujan sempat mengguyur.

Terlihat empat orang warga  masih memasang kawat di antara bambu-bambu yang tertancap. Yang lain, berderet di sepanjang tanggul jebol hingga pelataran rumah warga. Jumlahnya sekitar 30 orang. Mereka secara estafet menyalurkan tanah dalam sand bag untuk di dekatkan di tanggul. Sementara di depan pelataran rumah warga tersebut, sebagian orang mewadahi tanah dalam sand bag.

Setelah itu, sekitar pukul 15.00, proses estafet material tanah dalam sand berakhir. Semua material telah didekatkan di depan tanggul yang jebol. Kemudian, masa beralih, memasukan tumpukan material dalam sand bag ke dalam tanggul.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Kudus Wiyoto menyatakan jika perbaikan tanggul berlangsung sejak pukul 08.00 kemarin. Menurutnya, perbaikan memang sedang dikebut. Ini untuk mengantisipasi jika ada hujan dan bencana susulan lain. “Perbaikan harus cepat. Mengingat sedang musim hujan, banjir dan longsor terjadi di beberapa titik,” jelasnya.

Untuk material penambalan tanggul tersebut, dirinya menyampaikan jika itu disuplai dari pihak BBWS Pemali Juana dan PUPR. Di antaranya ada tanah, sand bag, sertu atau padas. Sementara untuk bambu, diambilkan dari lokasi sekitar tanggul. Mengingat banyak pohon-pohon bambu di sana.

Wiyoto menambahkan jika penambalan bisa rampung hari ini. Meskipun proses pengerjaan sempat tersendat akibat hujan yang berlangsung sejak siang. ”Hari ini (kemarin, Red) dikebut agar selesai. Namun jika terpaksa tidak sempat, mungkin maksimal besok pagi,” tuturnya.

Untuk proses penambalan sendiri, kali ini memang tidak mengunakan alat berat. Hanya dum truk yang memuat material tanah dan sertu. Tidak ada ekskavator. Menurut Wiyoto, hal tersebut karena medannya tidak memungkinkan. Jalannya sempit, jadi tidak bisa masuk.

Terpisah, Slamet, 45, warga RT 2/RW II, Desa Tenggeles, menyampaikan jika sejak semalam warga sudah diimbau untuk terlibat penambalan tanggul. Diumumkan melalui musala-musala. “Ada 2 RT yang terlibat. RT 1 dan 2, yang bekerja secara bergilir,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Unit Bagana Banser Kudus Noor Yanto mengatakan jika pihaknya dalam proses perbaikan tanggul ini menerjunkan sekitar 30 personel. Bahkan sejak semalam, dia telah menginstruksikan personelnya untuk turut mengecek. (tos)

(ks/daf/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya