alexametrics
Rabu, 20 Jan 2021
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Lebih Dekat Komunitas Film Rembang (KFR)

Wadahi Talenta Muda, Sudah Hasilkan Tiga Film

08 Januari 2021, 09: 55: 23 WIB | editor : Ali Mustofa

ACTION: Tim Komunitas Film Rembang saat melaksanakan syuting baru-baru ini.

ACTION: Tim Komunitas Film Rembang saat melaksanakan syuting baru-baru ini. (KFR REMBANG FOR RADAR KUDUS)

Share this      

Film berjudul ”Ndulang” menjadi salah satu garapan terbaik Komunitas Film Rembang (KFR). Beberapa waktu lalu dilombakan di Anti Coruption Film Festival (ACFFest) yang digagas KPK.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Rembang, Radar Kudus

SPEAKER masjid berdenging. ”Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…,” bunyinya seperti mengumumkan ada orang kepaten. Scene pun berpindah ke suasana kantor. Lalu pindah lagi ke rumah sederhana.

Perempuan pirang berdaster berlari kecil menuju pojok rumah berdinding kayu. Scene berpindah lagi. Kini penonton disuguhkan adegan seorang bapak berbaring di kasur lusuh. Sambil memeluk secarik kertas.

”Ora kabeh sing mbok tandur bakal mbok unduh (tidak semua yang kamu tanam bakal kamu panen),” kata si pengisi suara menjadi penutup video triler film pendek garapan putra Rembang berjudul ”Ndulang”.

Memang, film independen karya Komunitas Film Rembang (KFR) ini, baru bisa dinikmati triler-nya. Tapi tenang, tak lama lagi bisa menikmati secara utuh. Sebab, proses syutingnya sudah rampung. Karena film pendek, kata Co Founder KFR Galih Sujiwo, durasi film ini hanya sekitar 20 menit. Meski demikian, proses produksi dan kreatifnya bisa memakan waktu lebih dari dua bulan.

Prosesnya, mulai menentukan cerita, menulis skrip, rapat-rapat internal, hingga pemilihan talent dan lokasi. Baru dieksekusi. Sedikit spoiler, akan ada konflik keluarga. Pak Kliwon, seorang bapak tanpa istri dan kedua anaknya. Tetapi dibalik konflik itu, diawali dengan tokoh Pak Kliwon yang keukeuh tak mau menerima suap dari kawannya masa SD yang sedang mencalonkan diri sebagai lurah.

Calon lurah itu, merupakan calon tunggal. Pak Kliwon diminta untuk menyalonkan diri, agar kawannya tadi tak melawan kotak kosong saat hari pemilihan. Tetapi Kliwon menolak. Karena wataknya yang memang antikorupsi. Tetapi, sikap idealis itu ternyata berimbas kepada anak-anaknya. Kehidupan kedua buah hatinya pun tak berjalan mulus.

Film ini sudah dikonsep sebagai best product. Beberapa waktu lalu juga sempat dilombakan di festival film yang diselenggarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). ”Plotnya dipelintir sedikit, biar memperkuat unsur antikorupsinya,” jelasnya.

Untuk pemilihan talent sendiri, dicari dari para anggota komunitas. ”Kami nyarinya talent akan lebih mudah dengan adanya komunitas,” katanya. Film yang melibatkan 27-30 orang ini, rampung sekitar akhir tahun lalu.

KFR sendiri, saat ini memiliki 30-an anggota. Jumlah ini menunjukkan antusiasme para pemuda di Kota Garam tentang film. Jika dibanding saat awal terbentuk pada 1 Juli 2020 lalu yang hanya beranggotakan empat orang. Yakni Galih Soedjiwo, Ludfi Anas, Aftan Hafil, dan Abdur Razaq.

Alasan mereka membuat komunitas ini, untuk membuat wadah bagi para pecinta film pendek. Tak harus piawai dalam videografi, akting, audio, dan berbagai teknis lain. ”Nggak cuma pelaku, orang yang tertarik bisa buat modal untuk gabung komunitas ini,” imbuhnya.

Jika ngumpul, mereka berbagi tentang cara penulisan naskah, pendalaman karakter keaktoran, dan lain sebagainya. Saat ini, mereka intens membahas dan memproduksi film pendek. Hal itu karena melihat prospek yang lebih baik.

Sampai saat ini, mereka sudah memproduksi tiga film. Satu sudah rilis dan dua lainnya masih menjadi rahasia. Dalam prosesnya, mereka juga kerap bekerja sama dengan komunitas-komunitas lain. Seperti cerita ruwetnya menghadapi pewawancara kerja. Di film bertajuk ”Meja HRD” itu, galih dan kawan-kawan berkarya bareng komunitas Stand Up Comedy Rembang.

Selain berkarya di bidang perfilman, merka juga menggarap video clip, video pernikahan, iklan, dan company profile. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya