alexametrics
Rabu, 20 Jan 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Tahlil Virtual untuk Habib Nyentrik

04 Januari 2021, 09: 51: 10 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

SEPERTI tidak ada hujan tidak ada angin. Banjir tiba-tiba menerjang. Demikian dahsyat. Sehingga masyarakat syok. Itulah wafatnya Habib Ja’far Al-Kaff. Persis di tahun baru 1 Januari 2021 di Samarinda. Jenazahnya dimakamkan di Kudus hari berikutnya. Sebelumnya, tidak ada kabar sakit sama sekali. Dan, beliau memang tidak sakit.

Banyak orang yang mafhum, Habib Ja’far yang asli Kudus adalah waliyullah. Penampilannya nyentrik. Rambut, kumis, dan jenggotnya dibiarkan memanjang. Di depan umum beliau mengenakan celana hitam, kemeja putih pendek, dan peci hitam. Kewaliannya diketahui lewat keanehan-keanehan (jadzab) yang beliau perlihatkan. Ternyata itu adalah isyarat.

Habib Ja’far adalah orang ‘alim yang moderat. Beliau bergaul dengan semua golongan masyarakat. Ajarannya: wong serik ceraki, wong gething sandingi (Baca Jawa Pos Radar Kudus edisi 2 Januari 2021). Dekati semua orang, sekalipun mereka membenci dan sakit hati.

Wafatnya beliau mengukir duka yang mendalam bagi sebagian masyarakat Indonesia. Mulai wong cilik hingga para penggede. Kalau tidak dibatasi dengan ketat pentakziah membanjir. Itu pun masih banyak orang yang memadati sekitar kediaman beliau di Jalan Pangeran Puger, Kudus. Meski pengamanan sangat ketat. Karangan bunga berjajar di sepanjang jalan. Termasuk dari wakapolri dan presiden RI.

Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Lutfi dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menjemput jenazah di Bandara A. Yani, Semarang. Sedangkan Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya dan Habib Ali Zainal Abidin dari Pekalongan menyalati di rumah duka.

Saya ikut menghormati kepergian beliau dari rumah. Sore setelah pemakaman saya mengajak beberapa teman di Radar Kudus dan Radar Semarang untuk tahlil, mendoakan beliau. Tentu tidak ke rumah duka. Melainkan secara virtual. Ustaz Zainal Abidin yang sehari-hari menjadi pemimpin redaksi di Radar Kudus menjadi imam. Dia sampai menangis ketika berdoa.

Beberapa pekan sebelum beliau wafat, saya sudah mengajak beberapa teman di Radar Kudus untuk mengaji di rumah beliau di Demaan Kudus. Tapi, belum kesampaian. Kabarnya jadwal beliau demikian padat. Apalagi belakangan tinggal di Samarinda.

Saya terkesan kemoderatan beliau. Sejak sebelum dikenal banyak orang, sampai dihormati banyak pejabat. Beliau mengajarkan nilai-nilai keagamaan dengan cara sederhana. Diterapkan kepada semua lapisan masyarakat.

Di mata beliau, semua orang adalah sama derajatnya. Yang membedakan adalah hatinya. Hati yang bersih. Yang tidak dirasuki oleh keduniawian. Karena itu beliau selalu mengajarkan keikhlasan. Beliau pernah membuang uang ratusan juta ke laut adalah cermin keikhlasan itu.

Kemoderatan itu pula yang sering didengungkan oleh KH Bahaudin Nursalim dalam berbagai pengajiannya. Memandang dunia itu tidak hitam putih. Karena yang berhak menghakimi orang hanyalah Allah SWT. Para ’alim ulama cukup mengajarkan ilmunya. Menunjukkan jalannya ke surga dan ke neraka.

Gus Baha -panggilan KH Bahaudin Nursalim- selalu menekankan bahwa masuk surga itu gampang. Ini pula yang dilakukan oleh para nabi, sahabat-sahabatnya, serta ’alim ulama yang menjadi penerusnya. Sehingga kehidupan beragamanya menjadi semarak.

Kemoderatan para alim ulama itu, mendapat tempat di hati masyarakat. Karena itulah kiai-kiai dan para habaib semakin diburu umat. Seperti Habib Luthfi dan Habib Ali Zaenal Abidin di Pekalongan, Habib Syeh di Solo, KH Sya’roni di Kudus, Gus Baha dan keluarga KH Maimoen Zubaer di Rembang, serta Habib Ja’far yang baru saja wafat.

Mereka adalah perekat umat, kiai, dan umaro’. Sehingga kehidupan beragama menyatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya