alexametrics
Selasa, 26 Jan 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Guru di Pelosok Jabar Peroleh Bantuan Tas Bakti Guru Kunjung

21 Desember 2020, 14: 22: 51 WIB | editor : Ali Mustofa

Dedi Sopandi, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat

Dedi Sopandi, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat (Dok Humas Disdik Jabar for Radar Kudus)

Share this      

BANDUNG - Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat (Jabar) bekerja sama dengan PT SMI, JAGI Foundation, Rumpun Indonesia, menggagas program bantuan bernama Tas Bakti Guru Kunjung sebagai solusi bagi para guru di pelosok atau daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur pendidikan saat memberikan pembelajaran kepada peserta didik di saat pandemi Covid-19.

"Untuk tahap awal pihaknya akan mengadakan tas bakti guru kunjung itu sekitar 300 buah. Namun yang dibagikan pada 'launching' tas bakti guru kunjung hari ini sebanyak 150," kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Dedi Sopandi saat peluncuran Tas Bakti Guru Kunjung secara daring, Sabtu (19/12).

Tas Bakti Untuk Guru Kunjung ini terdiri atas perlengkapan protokol kesehatan seperti masker, handsanitizer dan face shield, yang dilengkapi dengan meja dan papan tulis jalan serta USB yang berisi bahan pengajaran dari Tikomdik Disdik Jawa Bara lalu video motivasi untuk tetap berintegritas.

Adapun isi di dalam Tas Bakti ini mengandung nilai kearifan lokal gotong royong dan pembuat maskernya adalah SMKN 9 Bandung, pembuat handsanitizer adalah pelajar SMKN 5 Bandung, pembuat tas yang bisa diubah menjadi meja dan papan tulis adalah alumni desainer ITB. Kemudian pembuat materi bahan ajar pembelajaran kontektual-kolaboratif yang telah diunduh ke dalam USB disusun oleh Tikomdik Disdik Jabar dan para talent siswa SMA/SMK/SLB.

Kadisdik Jabar mengatakan, dalam menghadapi tantangan pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi Covid-19, terdapat banyak guru di Jawa Barat yang memiliki integritas dan dedikasi tinggi. Para guru tersebut melakukan kunjungan ke rumah siswa untuk tetap memberikan layanan pendidikan bagi siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi dan akses teknologi.

Untuk itu, Jabar Masagi sebagai program unggulan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di bidang pendidikan karakter khas Jawa Barat berkolaborasi dengan PT SMI, JAGI Foundation, Rumpun Indonesia, dan Tikomdik Disdik Jawa Barat memberikan Tas Bakti Guru Kunjung sebagai solusinya.

Kadisdik Jabar mengatakan hampir delapan bulan sejak pandemi Covid-19 mulai masuk ke Indonesia, para pelajar di Jawa Barat terpaksa belajar di rumah. Sehingga dengan kebijakan belajar di rumah ini, sebagian peserta didik bisa tetap berkomunikasi dengan gurunya melalui perangkat teknologi informasi.

Akan tetapi, di daerah terpencil atau pelosok Jawa Barat, sebagian guru dan peserta didik kesulitan mengakses jaringan komunikasi akibat rumahnya masuk dalam kawasan blank spot tanpa jaringan atau sinyal internet. Oleh karena itu, para guru melakukan pertemuan terbatas dengan para pelajar atau muridnya, sampai mendatangi ke rumah-rumah mereka untuk memberikan materi pengajaran.

Kadisdik Jabar mengatakan hal tersebut sudah berjalan di sejumlah kawasan di Jawa Barat, semenjak kasus-kasus Covid-19 bermunculan dan menyebar. Selain itu, tidak jarang para guru harus berjalan sampai ribuan meter untuk berkeliling mengunjungi rumah-rumah pelajar atau muridnya.

Menurut Dedi, pembelajaran secara daring memang merupakan sebuah tantangan berat bagi semua pihak di dunia pendidikan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun menyadari pembelajaran daring ini mempunyai kelemahan, terutama di kawasan yang tidak terlayani jaringan internet.

Tidak semua pembelajaran, katanya, bisa dilakukan dengan daring, terutama bagi pelajar SMK yang memiliki mata pelajaran praktik.

Dinas Pendidikan Provinsi Jabar memberikan 2,2 juta paket data internet kepada para pelajar dan guru untuk membantu proses pembelajaran daring. Termasuk peminjaman gawai milik sekolah kepada pelajar yang tidak memiliki gawai.

"Ternyata itu pun juga belum semua memenuhi karena kondisi geografis di Jawa Barat ini masih banyak memiliki area yang blank spot. Ada sekitar 1.200 desa dengan status desa desa hutan," kata dia.

"Kalau letak sekolahnya mungkin masih ada di pusat kecamatan, tapi siswa-siswanya kebanyakan di pelosok yang tidak terjangkau jaringan. Akhirnya, tidak sedikit guru yang berkunjung ke rumah-rumah siswa," tandas Dedi.

(ks/top/top/JPR)

 TOP