alexametrics
Rabu, 20 Jan 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Perang Mematikan, Dulu dan Sekarang

21 Desember 2020, 09: 36: 14 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

SEORANG wartawan tiba-tiba menjadi objek perburuan petugas Covid-19. Dia menjadi tersangka penderita. Rumahnya didatangi orang-orang yang perpakaian ala astronot. Menggunakan alat pelindung diri lengkap. Di saat lain petugas kelurahan mendatanginya. Memberi bantuan sembako. Padahal sama sekali dia tidak terkena Covid-19.

Cerita itu nyata. Wartawan itu bernama Abd. Rochim. Dia pernah bertemu salah seorang yang positif terinfeksi virus mematikan itu. Ketika itu bersama saya dalam sebuah acara. Dia hanya bersalaman. Sedangkan saya duduk berdekatan. Mengobrol hampir dua jam. Tetapi justru dialah yang diuber-uber petugas.

Kejadian itu dulu ketika awal Covid-19 mewabah di negeri ini. Saat itu masyarakat heboh. Pemerintah melakukan apa saja untuk mencegah menularnya virus yang belum ada penangkalnya itu. Apalagi setelah pasukan perangnya pada bertumbangan. Banyak dokter dan perawat meninggal. Justru terkena serang balik virus itu. Aparat pemerintah bergelimpangan.

Orang-orang yang diduga terkontaminasi dikarantina. Dibiayai sepenuhnya. Yang terinveksi diobati. Sampai akhirnya semua tempat yang digunakan untuk itu penuh. Dana pemerintah habis.

Sekarang, jangankan orang yang dicurigai terkontaminasi, orang yang sudah posisitif Covid-19 pun dibiarkan. Ini nyata. Salah satu korban bernama Luqman. Wartawan juga. Dia sudah menjalani tes swab. Setelah pengambilan sampel lendir, dia dibiarkan pulang. Sepuluh hari kemudian ternyata hasilnya positif. Pemberitahuannya lewat surat yang ditujukan ke kantornya.

Luqman yang akhirnya tahu bahwa dirinya menderita Covid-19 bengong. Orang-orang di sekitarnya juga demikian. ”Ya, khawatir saja,” ujarnya.

Selama 10 hari sejak pengambilan sampel sampai keluarnya hasil, dia masih bebas bergerak. Bekerja seperti biaya. Rapat juga. Bertemu banyak orang. Tidur sekamar dengan temannya. ”Waktu itu saya kan belum tahu positif apa tidak,” katanya. Syukur, teman sekamar dan orang-orang sekantornya nonreaktif.

Dia tidak memiliki gejala. Badannya segar bugar. Tidak batuk, tidak panas, tidak sakit tenggorokan, dan tidak mual. Namun dia tahu diri. Dia dan teman-temannya mencari fasilitas kesehatan. Kecewa. Tidak ada yang mau merawat. Alasannya, tempatnya penuh. Dia juga dari luar daerah. Akhirnya diputuskan isolasi mandiri.

Setelah 14 hari dia tetap sehat. Namun belum yakin kalau dirinya sudah terbebas dari Covid-19. Karena selama karantina itu, juga tidak ada perawatan apapun kecuali hanya makan yang bergizi dan mengonsumsi vitamin. Lagi-lagi dia mencari fasilitas kesehatan yang bisa melakukan swab. Ternyata ditolak. ”Katanya sudah cukup isolasi mandiri,” ujar Luqman.

Demikianlah salah satu perbedaan penanganan Covid-19 dulu dan sekarang. Banyak perbedaan lain. Padahal pandemi Covid-19 dulu dan sekarang masih sama. Korban naik-turun. Di Jateng malah belakangan meningkat.

Dulu pemerintah gencar semprot-semprot fasilitas umum. Alun-alun, pasar, kantor pemerintah, angkutan, taman, bahkan jalan raya juga disemprot. Sekarang tidak terlihat lagi pemandangan seperti itu. Padahal Covid-19 belum berlalu.

Saat pandemi merebak itu, akses masuk pusat kota ditutup. Terutama malam hari. Kampung-kampung juga diblokade. Didirikan pos pencegatan di setiap jalan masuk kampung. Sekarang semua sudah bebas. Padahal Covid-19 belum bablas.

Saya sering dibentak-bentak aparat lantaran melepas masker. Padahal saya naik mobil pribadi. Hanya seorang diri. Tidak ada orang yang menulari atau ketularan. Ketika itu gencar dilakukan operasi masker di jalan. Di kota sampai desa. Yang terbanyak terkena razia adalah pengendara motor. Sekarang nyaris tidak ada lagi.

Ketika itu tracking terhadap orang yang positif Covid-19 dilakukan sampai luar kota. Dilakukan secara berantai. Yang pernah melakukan kontak dengan penderita dites. Yang positif langsung dirawat. Sekarang tak terdengar lagi cara-cara seperti itu. Padahal Covid-19 belum berlalu.

Dulu, masyarakat awam disantuni. Ada bantuan langsung tunai. Sembako disebar ke mana-mana. Korban PHK diperhatikan. Bahkan, karyawan yang masih aktif dan gajinya tidak dipotong juga diberi bantuan. Sekarang sudah mulai hilang kedengarannya. Padahal Covid-19 belum hilang juga.

Masih banyak lagi contoh-contoh lain. Yang membuktikan cara-cara yang ternyata tidak efektif. Silakan diingat-ingat sendiri. Yang masih aktif sekarang adalah menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai hand sanitizer.

Mari terus kita lawan virus yang tak kelihatan tersebut. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya