alexametrics
Senin, 25 Jan 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Terpaksa Batal Puasa Menulis Pilkada

07 Desember 2020, 09: 56: 22 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

SUDAH lama saya berpuasa yang satu ini. Niat sudah bulat. Yaitu, tidak menulis tentang pemilihan kepala daerah. Rencananya sampai pelaksanaan 9 Desember lusa.

Tiba-tiba kemarin terlintas untuk membatalkan. Padahal tinggal dua hari. Jadilah tulisan ini.

Saya termasuk warga yang berhak ikut pesta demokrasi. Undangan saya terima sore kemarin, ketika tulisan ini dibuat (Nyaris saya tulis belum mendapat undangan, hehehe…).

Sebelumnya banyak orang menyarankan agar saya menulis pesta demokrasi yang akan berlangsung di beberapa daerah itu. Di Jateng saja ada 21 daerah. Itu bagian dari 270 daerah yang menyelenggarakan pemilihan bupati/wali kota dan gubernur di seluruh Indonesia.

Sebagian kawan juga menyarankan agar saya menulis hal itu. Saya menanggapi dengan tersenyum. Namun, sejujurnya dalam hati saya menolak. Sudah terlanjur berniat puasa. Sudah lama pula saya menjalaninya.

Sebagai penulis memang keri. Ada momen sangat bagus yang sengaja saya lewatkan. Banyak angle menarik. Mulai dari figur-figur yang dibutuhkan, petarungan politik, calon-calon yang muncul, kampanye, pelaksanaan, dan pengawasannya.

Di 21 daerah di Jateng tersebut, ada 41 pasangan calon yang maju. Sebagian saya kenal. Bahkan dengan baik. Beberapa kali pula saya pernah bertemu. Di antara yang saya kenal itu, ada yang saling menjadi lawan.

Mereka adalah mutiara di hamparan kerikil. Seberapa pun mencorongnya pasti punya sinar. Mereka adalah sedikit dari warga yang mempunyai nyali besar. Seberapa pun pasti memiliki idealisme membangun daerahnya. Mempunyai kemampuan juga. Secara moral, saya mesti mendukungnya.

Yang saya takutkan adalah terperosok pada penilaian. Apalagi sampai suka – tidak suka. Khawatir mencederai salah satu pihak. Itu alasan utama kenapa saya tidak mau menulis pilkada.

Saya tidak ingin menambah perpecahan. Sudah banyak calon dan pendukungnya yang pecah persaudaraan gara-gara beda pilihan. Banyak keluarga yang bercerai-berai juga.

Dalam suasana kompetisi, kalau tidak boleh dibilang pertarungan, emosi masing-masing pihak sangat sensitif. Semakin mendekati pemilihan, semakin memuncak. Tersulut sedikit saja bisa kebakaran jenggot.

Itu wajar. Mereka telah bekerja keras. Mengerahkan segala kemampuan. Mengeluarkan banyak harta. Membayangkan mimpi-mimpi. Kalau kalah, sakitnya pasti luar biasa. Apalagi kalau kekalahan itu tipis. Bernuansa tidak fair lagi.

Pascapemilihan banyak calon kepala daerah yang terganggu mentalnya. Bahkan kejiwaaannya (jangan disimpulkan meski gila). Maka jangan coba-coba menyakiti hatinya. Sebelum atau sesudah pemilihan.

Pilkada kali ini adalah yang paling menegangkan. Para calon tidak bisa los dol. Tidak boleh ada kampanye umum yang melibatkan banyak massa. Kampanye lewat media juga dikekang. Bagi petahana memang menguntungkan. Tapi, bagi new comer memusingkan. Mereka butuh popularitas yang dalam pesta demokrasi masih sangat menentukan.

Terbatasnya gerakan itu, justru rawan terhadap cedera. Mudah-mudahan money politics tidak semakin merajalela dibanding pesta demokrasi sebelumnya di semua tingkatan. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP