alexametrics
Rabu, 20 Jan 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

KPAD Kudus Temukan Empat Remaja Penyuka Sesama Jenis Terinfeksi HIV

02 Desember 2020, 20: 59: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

LAWAN HIV/AIDS: Koordinator KPAD Kabupaten Kudus Eni Mardiyanti saat menjelaskan penemuan empat remaja terinfeksi HIV. 

LAWAN HIV/AIDS: Koordinator KPAD Kabupaten Kudus Eni Mardiyanti saat menjelaskan penemuan empat remaja terinfeksi HIV.  (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS – Komisi Penanggulangan AIDS (KPAD) Kabupaten Kudus menemukan empat remaja terinfeksi HIV. Empat remaja ini, tertular setelah hubungan seksual sejenis.

Koordinator KPAD Kabupaten Kudus Eni Mardiyanti menyatakan, empat remaja berusia 14 tahun hingga 19 tahun. Keempatnya berjenis kelamin laki-laki. Usia remaja cenderung penasaran akan seksual.

Dari obeservasi di lapangan, pihaknya menemukan remaja mendapatkan edukasi ketertarikan  berhubungan seksual antar-sesama jenis. ”Saya tanya ke mereka diberikan edukasi lewat aplikasi, penggunaan handphone dengan mengakses kebebasan informasi ada sisi negatifnya,” terangnya.

Dia mengatakan, pendidikan seksual sejak dini sangat diperlukan. Anak usia produktif akan terlindungi kemauan seksualnya. Sekaligus terhindar dari pergaulan yang bersifat negatif.

Sementara terkait, pencegahan virus tersebut, Eni kini mengecek notifikasi pasangan. Para pasangan tersebut dibentuk wadah atau komunitas. Agar prilakunya mudah dipantau.

Selain menemukan empat kasus itu, KPAD Kudus juga menemukan sejumlah kasus lain. Tujuh orang biseksual (Penyuka sejenis dan lawan jenis, Red) dan delapan orang ibu hamil.

”Kasus paling mendominasi orang berorientasi heteroseksual,” ungkapnya.

Total kasus pada 2020 ini, tercatat ada sebanyak 121 kasus terinfeksi HIV. Dan 21 di antaranya meninggal dunia. Tahun lalu kasus mengalami kenaikan. Ada 154 orang yang terinfeksi. Namun temuan kasus remaja pada 2020 mengalami peningkatan.

Pada hari peringatan HIV/AIDS sedunia ini, KPAD Kudus mendorong semua pihak turut berperan aktif dalam penyuluhan. Baik dari pemerintah daerah, masyarakat, pemangku kebijakan, dan stakeholder.

Pemkab Kudus juga diharapkan menggalakkan program 90-90-90. Ini berupa 90 persen kelompok rentan ter-screening, 90 persen pasien tak menulari, dan 90 persen penderita diobati.

Sementara itu penyitas HIV AIDS Fajar mengaku dulu terjangkit melalui beberapa indikator gejala. Di antaranya, sering diare, terdapat gejala jamur pada mulut, dan mengalami penurunan nafsu makan.

”Berat badan saya turun dari 60 menjadi 40 Kg. Setelah itu saya menjalani pengobatan, saya di-screening dan diberikan obat,” ungkapnya.

Kini dia sudah aktif kembali. Sekaligus menjadi penyuluh dalam penanggulangan HIV/AIDS.

(ks/gal/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya