alexametrics
Senin, 25 Jan 2021
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Dua Jam di Rumah Habib Luthfi

30 November 2020, 11: 00: 26 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

AIR mata saya yang sudah lama berlinang nyaris menetes. Kata-kata tertahan. Sulit keluar dari mulut. Berbicara menjadi terbata-bata. Itu saking haru dan bangganya bisa diterima Hadratus Syeh Dr Maulana Habib Muhammad Luthfi Bin Yahya.

Sore itu (23 November 2020) menjadi momen yang bersejarah. Bagi saya dan seluruh rekan di Jawa Pos Radar Semarang. Kami diterima di kediaman Habib di Pekalongan. Suatu kehormatan yang tidak diperoleh setiap orang. Sama dengan ketika saya dan rekan-rekan Jawa Pos Radar Kudus diterima Gus Baha (KH Bahaudin Nursalim) di rumah Narukan, Rembang.

Saat itu ada tamu seorang pengasuh pondok pesantren yang memiliki santri ribuan orang. Sudah dua hari dua malam di markas Kanzus Sholawat. Itu pusat kegiatan sholawat dan pengajian yang diasuh Habib. Dia belum bisa bertemu lantaran jadwal kekasih Allah yang demikian padat.

Kami beruntung punya perantara Ida Noor Layla, redaktur pelaksana Radar Semarang, yang menjadi santri Habib Luthfi. Dia sudah sering keluar-masuk rumah Habib.

Sampai duduk di ruang tamu utama, rasanya masih tidak percaya bakal bersalaman dan mencium tangan beliau. Apalagi duduk berdampingan dengan kekasih Allah itu. Bagi saya, beliau adalah wali. Keturunan Nabi Muhammad SAW. Telah berulang-ulang saya membaca silsilahnya.

Habib Luthfi adalah kiai yang paling berpengaruh. Apalagi setelah wafatnya KH Maemoen Zubair, Sarang, Rembang. Beliau ahli syariat dan thoriqoh. Pimpinan para tokoh sufi dunia. Menjadi Rois Aam Jam’iyah Ahlu Thoriqoh Almuktabaroh Annahdliyah. Di negeri ini dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

Sejujurnya saya takut memandang langsung wajah beliau. Sama seperti sahabat-sahabat ketika bertemu Nabi Muhammad SAW. Tapi saya memberanikan diri (Mohon maaf, Habib, kalau tidak sopan).

Saya teringat sejarah Nabi Muhammad dalam kitab Diba’ yang ditulis Syeh Abdurrahman Addiba’i. Digambarkan wajah Nabi itu berseri-seri. Giginya putih bersinar. Kalau berbicara terlihat seperti mutiara berjatuhan. Disebut dalam kitab itu, Man nadloro fi wajhihi ‘alima annahu laisa biwajhihi kadzdzab (Orang yang melihat wajahnya segera tahu bahwa di wajah itu tidak tergambar sifat pendusta).

Saya perhatikan betul wajah Habib Luthfi, salah seorang keturunannya. Bersih dan berseri. Kumis dan jenggotnya juga bersih. Rambutnya pendek rapi. Sore itu kiai mengenakan kopiah hitam. Baju koko dan celana warna senada, putih.

Beliau lahir di Pekalongan 10 Nopember 1947. Wajah kearabannya masih kentara. Ayahnya Habib Ali Bin Hasyim Bin Yahya. “Saya masih kebagian warisan hidungnya,” ujarnya dengan tersenyum. Hidungnya lebih mancung dibanding orang Jawa pada umumnya. “Saudara-saudara saya sudah pesek,” candanya.

Kami sowan untuk menyerahkan piala dan piagam Anugerah Jawa Pos Radar Semarang 2020. “Penghargaan ini tidak sebanding dengan apa yang dilakukan Habib dan peran Habib di tanah air. Tapi kami harus memberikannya,” kata saya terbata-bata. “Matur nuwun sanget,” sambut beliau. Saat itulah air mata saya yang sudah lama berlinang nyaris menetes. Apalagi setelah piala berpindah tangan. “Semoga barokah,” tambahnya. Saya tidak bisa berbicara lagi.

Oleh penderek Habib, piala itu lantas ditempatkan di lemari kaca bermuka tiga. Posisinya di tengah. Lemari itu berada di ruang tamu utama. Persis di samping kursi yang diduduki Habib ketika menerima tamu penting.

Kami diterima di ruang itu juga. Ada foto Habib bersama Presiden Joko Widodo terpajang di tembok di atas Habib duduk. Di seberangnya foto Habib bersama Komjen Rycko Amelza Dahniel semasa menjadi Kapolda Jateng. Di tembok samping ada beberapa foto pahlawan nasional.

Semula pisowanan sore itu terasa kaku. Sulis, MC yang mengenakan setelan jas, nderedeg sejak masuk ke ruang tamu. Saya juga. Teman-teman tidak bersuara. Hidangan yang disajikan tak tersentuh. Habib menangkap itu. “Silakan dimakan. Ini bukan sajen,”kata Habib memecah suasana.

Segera saya menyambar kue di depan Habib. Itu kue khamir. Salah satu kue khas arab. Tapi Habib lebih suka menyebut apem. Bentuknya memang persis. Bahan-bahannya juga. Tapi berwarna cokelat karena menggunakan gula aren. “Kalau ada Amir jadinya aneh. Amir makan khamir,” ujar Habib. Suasana lantas mencair.

Suguhan lebih istimewa lagi adalah tausiah. Habib menggambarkan dirinya seperti lebah, salah satu binatang yang disebut dalam Alquran. Lebah itu bekerja keras dan kompak. Madu yang dihasilkan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Mereka tidak egois. Sepenanggungan juga. “Kalau bangsa bisa begitu, ya, luar biasa,” tuturnya.

Secara khusus Habib juga berpesan kepada kami yang mengelola media. Tausiahnya begitu menusuk. Media jangan hanya mencari keuntungan. “Tapi bagaimana bisa menjawab kebutuhan publik.” Penyampaiannya gampang dipahami. “Saya tidah banyak menggunakan bahasa ilmiah,” tambahnya.

Tausiah beliau cukup panjang. Bisa dilihat di www.radarsemarang.id, You Tube radar semarang tv, www.radarkudus.com, dan You Tube radar kudus tv. Saya mengamati tayangan tersebut. Nitizen mengapresiasi. Banyak yang mengatakan tausiahnya adem, bikin sejuk, isinya filosofis.

Kami keluar rumah beliau persis adzan maghrib. Berarti sekitar dua jam di rumah Habib.

Pisowanan ini membawa berkah bagi tamu-tamu Habib yang lain. Usai kami beracara, mereka langsung merangsek bersalaman dengan beliau. Barokallah. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP