alexametrics
Selasa, 19 Jan 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Pesan Habib Luthfi: Tiru Cara Lebah Jaga Nilai Persatuan dan Kesatuan

26 November 2020, 22: 20: 17 WIB | editor : Ali Mustofa

Rombongan Jawa Pos Radar Semarang berkesempatan memberikan apresiasi berupa Anugerah Radar Semarang 2020 di kediaman Habib Luthfi (24/11).

Rombongan Jawa Pos Radar Semarang berkesempatan memberikan apresiasi berupa Anugerah Radar Semarang 2020 di kediaman Habib Luthfi (24/11). (Lutfi Hanafi/Radar Semarang)

Share this      

PEKALONGAN – Gerakan dakwah cinta tanah air oleh Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya punya peran penting untuk menumbuhkan nasionalisme. Syiar Islam konsisten digaungkan dengan cara-cara yang terima semua kalangan. Berdasarkan perjuangannya itu, Jawa Pos Radar Semarang terpanggil memberikan apresiasi.

Dalam dakwahnya di sela pemberian apresiasi Anugerah Jawa Pos Radar Semarang Selasa (24/11), Habib Luthfi menggambarkan siklus kehidupan ini seperti lebah. “Saya pribadi itu seperti lebah, bukan kupu-kupu yang memiliki tirakatnya luar biasa,” ucapnya.

Siklus panjang kesempurnaan metamorfosis kupu-kupu tidak mencerminkan kepentingan bersama. Ulat setelah jadi kupu-kupu, dia hinggap dari bunga ke bunga. Mendapatkan madu untuk dirinya. Tidak tahu madu itu sampai ke rumah kupu-kupu itu. Saat hinggap di bunga kupu-kupu dengan indahnya menampilkan sayapnya. “Cuma hanya sebatas itu. Itu sebagai kritikan,” timpalnya.

Hasil metamorfosis dari ulat, menjadi kepompong, hingga kupu-kupu dianggap memiliki tirakat yang luar biasa. Namun hasilnya tidak bisa dirasakan keseluruhan. Entah itu madunya, atau keindahan sayapnya. Ia menerangkan bahwa sayap kupu-kupu itu abstrak, serta mengandung seni yang tinggi. Namun, belum tentu semua orang bisa menikmati keindahan, nilai seni yang tinggi juga tidak selalu tersampaikan.

Berbeda dengan lebah, kelihatannya menakutkan. Lebah tidak pernah tirakat. Tapi kerjanya sangat luar biasa dan kompak. Dari sarangnya sebelum berangkat, ratunya bisa mengatur. “Nanti berangkat dari jalur ini, pulangnya lewat sini. Itu hebatnya tawon,” terangnya.

Lebah bisa kompak membuat sarang, diameter lubang yang dibuat bisa sama. Saat pulang ke sarang, lebah membawa oleh-oleh, yaitu madu yang dihisap. Kemanfaatannya sangat terlihat. Lebah juga sepenanggungan, siapapun yang menyakiti mereka kompak mempertahankan sarang.

“Kalau bangsa bisa seperti itu, sangat luar biasa. Menjaga nilai-nilai, menjaga persatuan kesatuan yang sangat kuat, seperti lebah tadi. Juga berfikir apa yang bisa bermanfaat untuk bangsa dan republik ini. Seperti halnya madu,” tegasnya. (yan/nra/bas)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya