alexametrics
Senin, 18 Jan 2021
radarkudus
Home > Blora
icon featured
Blora

Lomba Krenova, Pembuat Tusuk Sate Ini Kalahkan Anggota Dewan

25 November 2020, 18: 25: 12 WIB | editor : Ali Mustofa

PEMENANG: Marjuanto saat menerima hadiah sebagai juara I Krenova di Aula Bappeda baru-baru ini.

PEMENANG: Marjuanto saat menerima hadiah sebagai juara I Krenova di Aula Bappeda baru-baru ini. (MARJUANTO FOR RADAR  KUDUS)

Share this      

BLORA – Keberanian Marjuanto untuk membuat tusuk sate dengan mesin berbuah prestasi. Dia menjadi juara Lomba Krenova (Kreatifitas Inovasi Masyarakat) tingkat kabupaten. Bahkan mengalahkan anggota DPRD Achlif Nugroho yang membuat aplikasi “Posyandu”.

Marjuanto bercerita, usahanya tersebut bermula pada 2016 silam. Sebagai Kota Sate, Blora memang telah memiliki sentra produksi tusuk sate. Namun, produksinya masih secara tradisional.

”Saya sebelumnya studi banding dulu ke Tulungagung dan Blitar sekitar 2015. Kemudian, kita mulai memproduksi tusuk sate dengan peralatan modern. Selain hasil produksinya lebih banyak, kualitasnya juga seragam. Ini yang membuat produk kita laku keras di luar daerah,” tutur dia.

Benar saja, produk tusuk sate Marjuanto berhasil menembus pasar di kawasan Rembang dan Grobogan. Marjuanto mengaku dirinya memang lebih memilih pasar di luar daerah supaya produk tusuk sate tradisional tetap laku.

”Kita milih pasar luar daerah saja. Supaya yang tradisional juga tidak mati. Intinya sama-sama jalan. Kita bukan mengejar profit saja. Kita juga ingin usaha ini semakin berkembang dan secara nyata meningkatkan penghasilan pekerja,” tambahnya.

Di musim pandemi seperti sekarang ini, banyak orang yang tidak bekerja. Terutama ketika menunggu musim tanam. Banyak petani yang meninggalkan cangkulnya sementara. Pilihan bekerja sampingan membuat tusuk sate bisa menopang kebutuhan rumah tangga. Kebetulan, di kampungnya bambu melimpah dengan harga yang murah.

”Ya bisa dibilang ini kerja nyambi (sampingan, Red), selagi libur dari kegiatan bertani. Tapi Alhamdulillah cukup layak untuk biaya hidup sehari-hari. Untuk tiap kilonya, kita jual seharga Rp 10-15 ribu. Rata-rata tiap minggu kita jual sampai empat kuintal,” paparnya.

Sebelum nekat menjadi pengusaha tusuk sate, Marjuanto adalah pekerja swasta. Selain menjadi servis kompor keliling, dia juga menjual perabotan dengan sistem kredit. Dia mengaku nekat membuat usaha tusuk sate dengan tujuan ingin membantu memberikan penghasilan kepada masyarakat sekitar. Kini total ada 35 pekerja di tempatnya.

(ks/ful/lid/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya