alexametrics
Rabu, 02 Dec 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Pembuatan Relief Masjidil Haram Tiga Dimensi

Butuh Waktu Dua Bulan, Tingkat Kerumitan Lebih Tinggi dari Motif Alam

21 November 2020, 10: 55: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

INDAH: Pateman, salah satu seniman ukir di Jepara menunjukkan karyanya relief Masjidil Haram tiga dimensi.

INDAH: Pateman, salah satu seniman ukir di Jepara menunjukkan karyanya relief Masjidil Haram tiga dimensi. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

Motif relief tak melulu panorama alam, hewan, dan manusia. Motif tiga dimensi bangunan juga bisa dibuat seniman ukir relief Jepara. Seperti Pateman yang membuat motif Masjidil Haram.

M. KHOIRUL ANWAR, Radar Kudus

AYUNAN tangan kanan Pateman, 45, memegang palu menghantam ujung pahat. Mata pahat jenis penilap itu, diarahkan ke garis-garis yang membentuk bangunan gedung di sekitar sketsa Masjidil Haram. Pahat itu lalu diletakkan di tumpukan puluhan pahat lain.

KREATIF: Pateman, salah satu seniman relief yang membuat motif Masjidil Haram tiga dimensi.

KREATIF: Pateman, salah satu seniman relief yang membuat motif Masjidil Haram tiga dimensi. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Dengan posisi berdiri dan agak membungkuk ia memilih pahat lain di antara  tumpukan pahat. Giliran pahat penguku yang ia ambil. Palunya kembali diayunkan.

Ketika palu menyentuh ujung pahat, dalam waktu bersamaan mata pahat membentuk lengkungan. Bekas kayu yang terkena pahat atau disebut tatal ditiupnya. Agar tidak menutup mal gambar yang ia buat.

Siang itu, ia melanjutkan proses pembuatan relief tiga dimensi motif Masjidil Haram. Baru 80 persen. Sudah terlihat detail gedung-gedung dan Makkah Royal Tower. Menyisakan detail Kakbah yang masih berupa gundukan kayu. Belum dipahat. Ukuran keseluruhan relief itu 80 x 130 sentimeter. Tebalnya tujuh sentimeter.

”Butuh waktu sekitar dua bulan. Kalau setiap hari dikerjakan. Ini paling pertengahan bulan depan bisa selesai," ujarnya.

Ia mengerjakan pahatan relief itu, di samping rumahnya di RT 4/RW 2, Desa Senenan, Kecamatan Tahunan, Jepara. Kursi dan meja tempat memahat menjadi ”arena” berkreasi.

Untuk memulai proses pembuatan relief tiga dimensi, dia mengandalkan foto sesuai sudut pandang yang diinginkan pemesan. Dari foto itu, kemudian difotokopi sesuai ukuran kayu. Hasil fotokopi jadi mal untuk memulai proses pembuatan relief.

Mengukir tahap pertama untuk membentuk pola dasar. Dilanjutkan membuat cekungan perspektif yang membentuk efek timbul tiga dimensi. Selanjutnya, tahap mengukir detail gambar. Seperti jendela gedung, jam dinding, motif Kakbah, dan pintu-pintu masjid.

”Tingkat kerumitannya lebih tinggi. Karena detail. Ukuran harus simetris. Kalau meleset sedikit pasti tidak sedap dilihat. Jadi, pakai penggaris untuk menentukan dimensinya agar pas," ujarnya.

Jika dibandingkan dengan motif alam, motif Masjidil Haram lebih sulit. Sebab, motif alam tidak memperhitungkan skala dan ukuran. Mengalir sesuai imajinasi. Hal itu pula yang membuat harga motif Masjidil Haram lebih mahal.

Dengan ukuran yang sama motif, Masjidil Haram ia jual di kisaran Rp 15 juta. Sedangkan motif alam Rp 10 jutaan. Selain itu, faktor peminat juga memengaruhi. Karena motif masjid sangat terbatas peminatnya.

Masih jarang pengukir yang menerima pesanan motif masjid. Pasarnya juga dari kalangan konsumen, bukan kolektor. Sedangkan motif alam hampir semua pengukir membuat. ”Saya baru membuat tiga kali yang motif masjid. Pengukir sini (sekitar rumahnya, Red) jarang yang buat (relief masjid)," imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya