alexametrics
Rabu, 02 Dec 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Melihat Terapi ABK di Pondok RN Asha, Rembang

Diberi Permainan yang Munculkan Efek Kejut

19 November 2020, 09: 32: 24 WIB | editor : Ali Mustofa

JALANKAN KEWAJIBAN: Santri di Pondok RN Asha Desa Dadapan, Sedan, Rembang, menggendong santri lain setelah bermain modin-modinan.

JALANKAN KEWAJIBAN: Santri di Pondok RN Asha Desa Dadapan, Sedan, Rembang, menggendong santri lain setelah bermain modin-modinan. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

Pondok Pesatren (Ponpes) Raudlatun Nasyi’in Ash Shiddiqiyah (RN Asha) Desa Dadapan, Sedan, Rembang, mendidik santri anak berkebutuhan khusus (ABK). Salah satu terapi diberikan permainan modin-modinan. Di dalamnya ada efek kejut.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Radar Kudus

MUHAMMAD Abadi sudah meminta anak-anak didiknya bersiap di halaman pesantren putra. Beberapa dari satri cilik itu ada yang masih belum memakai kaos. Hanya memakai sarung. ”Ayo berbaris,” ujar Abadi mengondisikan.

Bocah yang hanya pakai sarung dan bertelanjang dada itu pun bergegas memakai kaosnya.

”Ayo bermain modin-modinan,” imbuhnya.

Kemarin, ada sekitar 12 anak. Abadi langsung meminta mereka membagi menjadi dua tim. Dengan memperhitungkan tinggi badan yang sepadan. Setelah para santri bisa dikondisikan, permainan pun dimulai.

Abadi memberi nama kelompok itu Kancil dan Buaya. Mereka diminta berbaris berjajar sambil bergandengan tangan. Jarak antarkelompok sekitar lima meter. Abadi duduk di antara dua kelompok tersebut. ”Saya yang jadi modin,” katanya.

Cara mainnya begini.  Pertama-tama, masing-masing kelompok menunjuk satu perwakilan untuk menemui modin. Kemudian, membisikkan siapa satu nama yang ada di kelompok lawan yang kira-kira akan maju. Begitu selesai, anak tadi akan kembali ke barisan. Kemudian ganti kelompok sebelah yang menemui modin untuk melakukan hal yang sama.

Pola ini akan berlanjut bergantian selama belum ada anak yang berhasil menebak. Sampai nanti ada yang berhasil menebak nama, si Modin akan mengejutkan si anak itu.

Misalnya begini. Adam, dari kelompok Kancil maju menghadap modin. Dia membisikkan nama Hawa, yang notabene merupakan anggota kelompok Buaya. Setelah membisikkan nama, Adam pun kembali ke barisan. Kini, gantian kelompok buaya yang maju.

Apabila kebetulan si Hawa maju, maka Adam dinyatakan berhasil menebak. Kemudian setelah Hawa sampai di depan modin, ia akan dikejutkan dengan teriakan ”Dor !”.  Maka, kelompok Kancillah yang dinyatakan menang. Sehingga, kelompok yang kalah menggendong yang menang. Untuk itulah kenapa di awal permainan postur tubuh dan jarak antar kelompok sudah disesuaikan.

Meski terkesan permainan sederhana, tetapi ini dinilai cukup bermanfaat bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Karena bisa melatih daya tangkap terhadap informasi. Biasanya anak keterbelakangan mental akan kesulitan menyerap tugas-tugas yang diberikan.

Contoh yang Jawa Pos Radar kudus temui kemarin, ketika ada salah satu anak ABK yang menghadap kepada Abadi atau Modin.

”Bisikkan satu nama temanmu di kelompok Kancil,” kata Abadi.

”Kancil,” jawab anak itu.

 Abadipun terkekeh.

”Sebutkan satu nama saja,” imbuh Abadi.

”Satu,” jawab si Anak.

Ya, pola-pola pembicaraan semacam ini kerap terjadi dalam permainan modin-modinan. Dan, sebagai Modin, Abadi harus menjelaskan sampai si anak paham.

Permainan semacam ini sudah ia terapkan sekitar setahun terakhir. Awalnya, kata Abadi, anak-anak masih kesulitan dalam menangkap informasi. Tetapi, seiring berjalannya waktu, secara bertahap mereka bisa menerima informasi atau tugas-tugas yang diberikan dalam permainan.

Sementara teriakan ”Dor !” tadi, kata abadi, bertujuan untuk memberikan efek kejut. Yang menurutnya baik untuk terapi ABK. Dalam sehari, lanjut dia, anak-anak keterbelakangan mental yang ada di Ponpes RM Asha harus diberikan efek kejut. Karena para santri ABK tadi cenderung kosong atau melamun.

”Efek kejut itu spontan, biar dia (ABK, Red) langsung mikir,” katanya. 

Sementara gendong-gendongan tadi bisa melatih motorik anak. Permainan ini, kata Abadi, sudah turun-temurun dari kakek-kakeknya.

Awalnya, permainan ini didesain untuk anak-anak normal. Ternyata, bisa diterapkan untuk memberikan efek kejut untuk keterbelakangan mental. Di luar jam ngaji dan hari libur permainan ini diterapkan.  ”Minimal anak senang. Menciptakan enjoy. Energi positif akan tumbuh. Melatih kekompakan, kerja sama tim,” ujarnya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya