alexametrics
Rabu, 02 Dec 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Amelia Diaz Dwi, Sulap Jedebog Jadi Keripik

Bahan Baku Melimpah, Penjualan hingga ke Jepang

18 November 2020, 10: 14: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

INOVATIF: Amelia Diaz Dwi Rahayu memperlihatkan keripik gedebog yang sudah dikemas.

INOVATIF: Amelia Diaz Dwi Rahayu memperlihatkan keripik gedebog yang sudah dikemas. (DOK PRIBADI)

Share this      

Pandemi Covid-19 membuat warga semakin inovatif. Seperti yang dilakukan Amelia Diaz Dwi Rahayu dengan mengubah gedebog menjadi keripik.

SUBEKAN, Radar Kudus

BIASANYA gedebog (pohon pisang) terbuang percuma. Tak banyak yang tau bagaimana memanfaatkan pelepah pisang itu. Di tangan Amelia Diaz Dwi Rahayu, pohon pisang yang jarang dimanfaatkan itu, diolah menjadi keripik yang gurih. Bahkan, diklaim dapat mencegah sembelit dan memperlancar buang air besar (BAB). Namanya Kripik Gedebog.

Amelia Diaz Dwi Rahayu mengaku, inovasi ini dilakukan sejak pandemi Covid-19. Saat seluruh kegiatan dihentikan. Termasuk kuliah yang sehari-hari menjadi kuwajibannya.

Saat itulah, warga Desa Jepangrejo, Kecamatan/Kabupaten Blora, ini memutar otak. Kemudian menemukan ide menyulap gedebog menjadi makanan siap saji dengan varian rasa. Sebab, selama ini pelepah pisang jarang dimanfaatkan.

Cara pembuatannya cukup mudah. Pertama, pelepah pisang diambil bagian dalamnya. Berikutnya direndam dengan garam dan kapur sirih selama 24 jam atau maksimal dua hari dua malam. Tujuannya untuk menghilangkan getahnya.

Setelah itu, baru dilapisi tepung kripik. Lalu digoreng. Setelah itu, baru diberi varian rasa. Mulai rasa original, balado, ekstra pedas, jagung bakar, hingga barbeque.

”Pertama mencoba sempat gagal. Tapi saya terus mencoba. Akhirnya berhasil,” terang anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Putri dari pasangan Slamet dan Hartini ini mengaku, dalam sehari dia bisa menghasilkan ratusan bungkus Keripik Gedebog. Setiap bungkusnya dijual Rp 7 ribu.

Makanan ringan hasil kreasinya ini diminati berbagai kalangan. Baik di dalam hingga luar luar kota, seperti ke Semarang, Jawa Barat, dan Padang. Bahkan hingga luar negeri, ke Jepang.

”Untuk perizinan masih proses. Sementara penjualan lewat online dan media sosial,” beber perempuan berjilbab ini.

Menurutnya, usaha ini berkat kerja keras dan bimbingan petugas lapangan dari Dinas Pemuda Olahraga (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) melalui Program Pengembangan Kepedulian dan Kepeloporan Pemuda (PKKP).

Dia mengaku tertarik dengan pelepah pisang karena bahannya mudah didapat. Selain itu, tidak perlu membeli. Sebab, di sekitar pekarangan warga, pohon pisang masih mudah dijumpai.

Untuk memproduksi Kripik Gedebog, dia tidak bisa bekerja sendiri. Dibantu kedua orang tuanya, beberapa tetangga, dan keluarganya. ”Bapak dan ibu mencari gedebog. Dua orang mengiris, dan satu orang menggoreng. Adik dan temannya membungkus dan mengantar pesanan,” ucap mahasiswi semester V di salah satu universitas di Semarang ini.

Menurutnya, keripik berbahan pelepah pisang ini, sudah diuji di laboratorium Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora. Hasilnya diketahui, makanan ini tidak berbahaya untuk dikonsumsi.

Berkat inovasinya itu, alumni SMA Negeri 2 Blora ini, sudah mampu mendapatkan penghasilan sendiri. Bahkan, tiap bulan bisa meraih jutaan rupiah. Rencananya, setelah izin Produksi Pangan-Industri Rumah Tangga (P-IRT) keluar, dia akan merambah pemasaran ke toko dan swalayan. ”Doakan semoga segera keluar izinnya,” harap perempuan berusia 20 tahun ini. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya