alexametrics
Rabu, 02 Dec 2020
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Tim Pengabdian PPPUD UMK Bina Pengusaha Mainan Tradisional di Jepara

17 November 2020, 13: 04: 48 WIB | editor : Ali Mustofa

Pengrajin mainan anak Karanganyar Welahan Jepara, memanfaatkan website untuk penjualan online.

Pengrajin mainan anak Karanganyar Welahan Jepara, memanfaatkan website untuk penjualan online. (UMK for Radar Kudus)

Share this      

KUDUS - Universitas Muria Kudus (UMK) melalui skema Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) fokus terhadap pembinaan Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM). Kali ini pembinaan dilakukan kepada pengusaha mainan tradisional kitiran, sorongan, dan lele-lelean di desa Karang Anyar, Welahan, Jepara. Mainan tradisional tersebut berbasis struktur lingkungan pesisir pantai. Bentuknya sederhana dan bisa diproduksi dari bahan bekas.

Menurut ketua Tim Pengabdian PPPUD UMK Imaniar Purbasari S. Pd., M. Pd., Mainan tradisional sarat dengan muatan budaya lokal dan bisa dimanfaatkan sebagai pembelajaran pendidikan berkarakter bangsa. Selain memiliki nilai ekonomis, mainan tradisional juga bisa dikemas dan dikembangkan sebagai alternatif untuk mengenalkan keberagaman budaya. 

”Untuk itu, upaya pelestarian mainan anak perlu mendapat dukungan dari sisi usaha. Baik menejemen produksi maupun menejemen kualitas produk.  Tujuannya adalah untuk mendukung  keberlangsungan usaha kecil,” ungkapnya.

(UMK for Radar Kudus)

Bersama anggota tim lainnya Jayanti Putri Purwaningrum S.Pd., M.Pd., dan Hutomo Rusdianto SE., MBA., QWM., CBV., usaha mainan tradisional di Karanganyar, Welahan, Jepara mulai dilakuan pembinaan. Mulai dari bahan baku, misalnya saja spon yang awalnya harus dibeli di Tangerang, kini sudah mulai dipasok langsung ke desa. Selain itu, alat pencetak mainan juga sudah menggunakan mesin pemanggang listrik. ”Perubahan teknologi tersebut meningkatkan kuantitas produksi,” ungkapnya.

”Untuk desain mainan, juga sudah mulai terkonsep. Bahkan sudah disiapkan 20 jenis desain yang siap diproduksi. Juga sudah disesuaikan dengan standar keamanan bagi anak dan harga jual yang terjangkau,” jelasnya.

Dengan pembinaan dari tim PPPUD UMK, sekarang ini produksi mainan bisa mencapai 1000 unit per hari. Selain itu, mainan tersebut juga sudah menggunakan pewarnaan yang aman bagi anak. ”Dengan  kapasitas produksi yang makin meningkat, maka keterserapan tenaga kerja juga semakin meningkat. Proses produksi melibatkan warga setempat lulusan SD sampai SMA,” tuturnya.

Skema program pengembangan produk unggulan daerah (PPPUD) tahun 2020 merupakan program pengabdian pada masyarakat dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Riset dan Teknologi atau Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek atau BRIN), LLDIKTI6, dan UMK. (lia)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya