alexametrics
Minggu, 29 Nov 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Sulitnya Jadi Kader Tertib BAB di Rembang

Dicemooh, Halaman Rumah jadi Sasaran Poop

14 November 2020, 09: 59: 55 WIB | editor : Ali Mustofa

BERPRESTASI: Solihati dan Ayatullah Dwi Cahyono (memegang plakat) menerima penghargaan STBM di kantor Bupati Rembang kemarin.

BERPRESTASI: Solihati dan Ayatullah Dwi Cahyono (memegang plakat) menerima penghargaan STBM di kantor Bupati Rembang kemarin. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

Dua orang Rembang berhasil menyabet penghargaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Perjuangannya tak mudah. Harus merubah mindset dan perilaku masyarakat yang masih buang air besar (BAB) sembarangan.

 VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Radar Kudus

”LAGI dadi ngono wae wis ngurusi wong ngising!,” tutur Solihati, salah satu kader Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) asal Desa Sendang Mulyo, Kecamatan Kragan, Rembang. Menirukan cemoohan seorang warga. Sekitar 10 tahun lalu, kondisi sebagian warga lingkungan sekitarnya memang masih BAB sembarangan.

Bayangkan saja. Saat itu, dari satu RW ada sekitar 200 rumah. Hanya separo yang memiliki jamban. Dan, tugas dia harus merubah mindset dan perilaku mereka. ”Dulu hampir 50 persen masyarakat buang air besar di sungai,” kenangnya.

Dari 2010 itu, ia pun telaten menekuni kewajibannya sebagai kader. Beragam tantangan dihadapi. Bahkan, pernah di depan rumahnya dipakai buang air besar oleh seseorang. Tetapi dia tetap semangat dan menjadikan peristiwa itu sebagai stimulus untuk merubah mindset masyarakat. Saat itu, beberapa orang beranggapan bahwa membuat jamban butuh biaya mahal.

Sekitar dua tahun kemudian, baru ada program WC sederhana. Solihati bersama kelompok peguyubannya pun memproduksi kloset. ”Dari kami ada pelatihan pembuatan kloset. Kemudian kami bentuk organisasi,” katanya.

Biayanya tak mahal. Sekitar Rp 50 ribu. Lebih murah jika dibanding kloset pada umumnya. Yang kata Solihati harganya sekitar Rp 90 ribu. ”Kalau ada pesanan khusus ada potongan harga,” jelasnya

Kesulitan serupa juga terjadi di Desa Ringin, Kecamatan Pamotan. Kata Ayatullah, peraih penghargaan STBM lain, sebagai kepala desa terbaik, juga mengalami kesulitan dalam merubah mindset masyarakat.

Perjuangkan itu, sudah dilakukan oleh kepala desa sebelumnya. Sehingga pihaknya saat ini meneruskan perjuangan mantan kades yang sebelumnya juga pernah mendapatkan penghargaan.

Saat ini, di Desa Ringin sudah ada pilar-pilar STBM. Di antaranya ketersediaan air bersih, cuci tangan dengan sabun, hingga sanitasi. ”Ada semua. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” katanya.

Pejabat Sementara (Pjs) Bupati Rembang Imam Maskur menyampaikan, untuk tahun ini, STBM berkelanjutan di Kota Garam baru masuk nominasi. Ia berharap tahun depan STBM berkelanjutan bisa meraih penghargaan.

Tetapi dia bangga, karena sudah mendapat dua pengharaggan. Pertama, kepala desa terbaik dalam penggerakan STBM yang diraih Ayatullah Dwi Cahyono Dari Desa Ringin, Pamotan. Kedua, dipertoleh Solihati dengan penghargaan natural leader terbaik dari Desa Sendangmulyo, Kragan.

”Meskipun STBM berkelanjutan baru masuk nominasi, tetapi dua penghargaan ini sudah luar biasa,” katanya.

Ia berharap, mereka berdua bisa lebih aktif dan berinovasi terkait dengan penggerakan masyarakat. ”Ini tingkat nasional dari Kementerian Kesehatan. Yang diserahkan dalam rangka Hari Kesehatan Nasional,” imbuhnya.

Dia menambahkan, indikator penilaiannya, mulai ada proses dari desa, kecamatan, sampai dinas provinsi. Semuanya mendapatkan penilaian.  ”Jadi prosesnya cukup panjang. Alhamdulillah kami mendapatkan penilaian ini sangat luar biasa,” imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP