alexametrics
Minggu, 29 Nov 2020
radarkudus
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Tak Alami Gangguan Kejiwaan, Bapak Pembunuh Anak Jadi Tersangka

03 November 2020, 15: 01: 44 WIB | editor : Ali Mustofa

Tak Alami Gangguan Kejiwaan, Bapak Pembunuh Anak Jadi Tersangka

KUDUS – EG, 48, warga Desa Ngembal Kulon, Jati, Kudus, mengakui telah membunuh anaknya IIM, 12. Polisi menetapkan dirinya sebagai tersangka dalam kasus itu.

Penetapan status hukum tersebut lantaran hasil psikologis tersangka menunjukkan yang bersangkutan dinyatakan sehat dalam hal kejiwaan. Tidak gila.

Diberitakan sebelumnya EG, diduga membunuh anaknya IM Kamis (8/10) malam. Dugaan, EG merasa terpapar korona dan takut menulari anak yang memiliki penyakit asma. Setelah membunuh IM, EG mencoba bunuh diri dengan menyanyat lengan dengan pisau. Tapi usahanya gagal.   

Malam itu, warga mendapati EG dan IM tergeletak di rumahnya di RT 3/RW V, Desa Ngembal Kulon, Jati, Kudus. IM ditemukan di kursi dan terlilit sarung. Sedangkan EG tergeletak di lantai dengan tengan kiri mengeluarkan darah.

Nyawa EG tak tertolong saat perjalanan menuju rumah sakit. Sementara EG berhasil diselamatkan. EG sempat menjalani perawatan di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus sekitar sepekan.

Kasat Reskrim Polres Kudus AKP Agustinus David mengatakan EG diperiksa kejiwaanya di RSJD dr. Amino Semarang. Hasil dari pemeriksaan tersebut keluar akhir bulan lalu. ”Secara kejiwaan EG sehat. Setelah diketahui sehat, kami tetapkan dia (EG, Red) sebagai tersangka,” katanya.

Saat ini kepolisian mengakui masih proses melengkapi berkas perkara EG. Sembari menunggu berkas lengkap, EG ditahan di tahanan Polres Kudus.

”Kami segera selesaikan berkas. Setelah berkas lengkap, kami kirim ke Kejaksaan untuk proses sidang,” ungkapnya.

Dalam pengakuan EG, dirinya sengaja membunuh anaknya lantaran khawatir tertular Covid-19. Awalnya EG mengaku hanya ingin bunuh diri. Namun ketika melihat anaknya sedang nonton tv sendirian, dirinya lantas terpikir untuk menghabisinya juga.

”Dia ingin bunuh diri karena merasa terpapar Covid-19,” jelasnya.

Saat melihat anaknya, dia ingat jika beberapa hari sebelum kejadian anaknya yang sakit asma juga ikut terpapar Covid-19. Lalu anak yang saat itu nonton televisi ikut dibunuh.

Hasil otopsi jenazah IIM oleh tim dokter forensik dari Polda Jateng dibantu dokter forensik RSUD diketahui terdapat luka akibat hantaman benda tumpul pada bahu bagian kanan. Selain itu juga ada bekas jeratan pada leher. Kemudian ada tanda-tanda jika korban meninggal karena lemas.

Atas perbuatannya itu, EG dijerat pasal 338 tentang pembuhuhan. Dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

(ks/daf/zen/top/JPR)

 TOP