alexametrics
Rabu, 25 Nov 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Contohlah Alun-alun Pati

02 November 2020, 10: 23: 13 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

PERISTIWA ini sudah agak lama. Jumat, 2 Oktober 2020. Saya dipaksa oleh Pemimpin Redaksi Radar Kudus Zainal Abidin untuk mendampingi para wartawan mengamati Alun-alun Pati. Tempat terbuka hijau di pusat kota itu belum lama ditata ulang.

Alun-alun itu menjadi khas. Ada pusaka Kuluk Kanigara dan Keris Rambut Pinutung. Pusaka daerah tersebut ditempatkan di gerbang yang menjulang sekitar 15 meter. Di bawah gerbang itu ada replika peta Kabupaten Pati. Lengkap dengan nama 21 kecamatan yang ada di wilayah tersebut.

Kesan para wartawan alun-alun itu menjadi nyeni, asri, instagramabel, dan nyaman bagi pengunjung. Ada kursi taman bertuliskan ‘I Love Pati’ yang berjumlah 33 buah. Bisa digunakan masyarakat untuk menikmati taman dengan aneka tanaman hias. Jogging track-nya dihiasi lima gawangan bermotif ukir.

Banyak perbedaan mencolok dibanding wajah alun-alun sebelumnya. Kini tidak ada lagi pedagang yang mengesankan Alun-alun menjadi ruwet dan kumuh. Kiranya ini bisa menjadi contoh pembangunan alun-alun di kota lain.

Sepengamatan saya tidak banyak alun-alun yang sebagus itu. Alun-alun Simpang Lima Semarang yang menjadi pusat ibu kota Jawa Tengah juga ruwet. Bahkan, banyak alun-alun di Jawa Tengah yang sudah ditata ulang pun belum indah.

Dibutuhkan visi, taste, kemauan kuat, dan dana yang cukup, untuk membangunnya. Bupati Pati Haryanto memilikinya. Wakil Bupati Saiful Arifin bisa menerjemahkan dalam berbagai aksi. Saya menangkap jelenterehannya ketika suatu saat berbincang di roof top Hotel Safin. Di lantai paling atas itu terlihat pemandangan indah Kota Pati dan kota-kota sekitarnya.

Mula-mula pedagang kaki lima dipindahkan ke suatu tempat. Diramaikan tempat itu. Mereka kerasan di tempat baru. Ketika alun-alun sudah direnovasi mereka tidak kembali. Inilah kunci alun-alun menjadi indah. Tentu tidak gampang. Karena selama ini pusat kota menjadi lahan penghidupan masyarakat kecil.

Dua minggu lalu saya bertemu Wali Kota Pekalongan HM. Saelany Machfudz. Di penghujung masa jabatannya dia masih getol melaksanakan program Nata Kuta. Keinginannya semua tempat terbuka di Kota Pekalongan juga ramah orang. Sehingga Kota Batik menjadi humanis dan modern.

Ketika saya menyerahkan piala Anugerah Radar Semarang, matanya berkaca-kaca. Dia tidak menduga apa yang dilakukannya diperhatikan pihak lain. Penghargaan itu diberikan Jawa Pos Radar Semarang karena kegigihannya mengubah wajah kota. “Saya terharu,” ujarnya usai penyerahan pada peringatan Hari Santri Nasional.

Anugerah Radar Semarang diberikan kepada orang dan lembaga yang secara spesifik menonjol dalam visi, prestasi, bekerja keras, melahirkan inovasi, demi kepentingan masyarakat. Penghargaan yang sama diberikan Radar Kudus. Minggu lalu dimulai dari ke Jepara. Road Show terus dilakukan. Kelak penghargaan juga diberikan kepada Bupati Pati Haryanto. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP