alexametrics
Selasa, 19 Jan 2021
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan
Prokes Ketat di Ponpes Riyadlotut Thalabah

Produksi Disinfektan Sendiri sejak Awal Pandem

31 Oktober 2020, 08: 23: 33 WIB | editor : Ali Mustofa

PRODUKSI SENDIRI: Petugas di Poskestren Riyadlotut Thalabah, Sedan, Rembang memproduksi disinfektan yang sudah dimulai sejak munculnya Covid-19 di Rembang.

PRODUKSI SENDIRI: Petugas di Poskestren Riyadlotut Thalabah, Sedan, Rembang memproduksi disinfektan yang sudah dimulai sejak munculnya Covid-19 di Rembang. (PONPES RIYADLOTUT THALABAH REMBANG FOR RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG - Ponpes Riyadlatut Thalabah, Kecamatan Sedan, Rembang, menorehkan prestasi dalam ajang Duta Pondok Pesantren Jogo Santri. Ponpes yang didirikan KH Munawir ini, mendapat urutan ke-6 se-Jateng.

Madrasah Aliyah (MA) Riyadlatut Thalabah Rabu (28/10) siang tampak lengang. Halaman sekolah itu sunyi. Hanya diisi gawang futsal tak berjaring. Tetapi, di sisi lain ada puluhan motor terparkir di dekat gedung hijau bertingkat yang dinamai Al Munawir IV F. ”Sedang ada pertemuan,” kata Nafisatun Nurroh, salah satu pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Riyadlotut Thalabah, Sedan, Rembang.

MA ini sudah memberlakukan pembelajaran tatap muka baru-baru ini. Hanya, siang itu sudah tidak ada kegiatan belajar-mengajar (KBM). Biasanya, KBM diikuti sekitar 40 siswa dalam satu kelas. Karena pandemi, saat ini sekelas hanya diisi separo dari jumlah santri. Selain itu, satu jam pelajaran juga dipangkas menjadi 20 menit.

PRODUK PONDOK: Nafisatun Nurroh, Pengurus Ponpes Riyadlotut Thalabah, Kecamatan Sedan, Rembang, menunjukkan disinfektan racikan pihak pondok sendiri.

PRODUK PONDOK: Nafisatun Nurroh, Pengurus Ponpes Riyadlotut Thalabah, Kecamatan Sedan, Rembang, menunjukkan disinfektan racikan pihak pondok sendiri. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Sementara itu, di ruang guru ada tiga remaja perempuan yang tengah sibuk menata kertas. Di dekat mereka berjajar botol-botol disinfektan. Ini merupakan lokasi memproduksi disfektan mandiri di pondok ini.

Cairan itu sudah diproduksi sejak awal Covid-19 menyambangi Kota Garam sekitar Maret lalu. Saat itu, mencari disinfektan memang langka. Bahan-bahan dasar pembuatan juga terbatas.

Kebetulan, salah satu alumni ada yang menjadi apoteker. Sehingga bisa membuat disinfektan sendiri. Meskipun dengan jumlah terbatas. ”(Disinfektan produksi sendiri) untuk guru-guru. Karena saat itu santri-santri dipulangkan,” katanya.

Ia mengajak wartawan koran ini ke pondok. Tempatnya tak jauh dari MA. Hanya berjarak sekitar 50 meter. Di depan gerbang pondok yang berwarna hitam itu, sudah diberi tulisan imbauan. Menegaskan area ini wajib bermasker. Di dekat gerbang juga disediakan tempat cuci tangan.

Berbeda dengan sekolah yang tampak sunyi. Di pondok yang dihuni sekitar 180 santri putri ini, terlihat ramai. Mereka lalu lalang dari asrama ke musala yang ada di dalam pondok.

Nafis –sapaan akrab Nafisatun Nurroh- mengatakan, sejak kembali mondok setelah Idul Adha lalu, para santri sudah tidak diperbolehkan disambangi sanak keluarga. Itu memang kebijakan pihak ponpes dalam menerapkan protokol kesehatan (prokes).

Dikhawatirkan, si virus akan terbawa oleh tamu. Mengingat warga pondok banyak yang berasal dari luar kota. Kalaupun hendak mengirim sesuatu, keluarga bisa menitipkan kepada pengurus.

Nafis berjalan masuk meleweti lorong. Sementara wartawan koran ini yang seorang laki-laki menunggu di halaman. Di ponpes ini, ada batas area bagi tamu pria.

Tak berselang lama Nafis keluar. Sambil membawa dua botol disinfektan. ”Sekarang sudah bisa memproduksi dalam jumlah banyak. Bisa memenuhi kebutuhan di yayasan sini. Selain itu, terkadang juga bekerja sama dengan pondok lain untuk menyuplai kebutuhan disinfektan,” ungkapnya.

Produk ini, menjadi salah satu penilaian dalam seleksi Duta Pondok Pesantren Jogo Santri. Penilaiannya terkait penerapan prokes di pesanten secara menyeluruh. Ada berbagai persyaratan. Mulai administrasi, mengirimkan video, hingga pembentukan gugus penanganan Covid-19 di tingkat pondok.

Pondok ini tampaknya sudah berpengalaman di bidang penanganan kesehatan. Beberapa tahun lalu sudah dibentuk Pusat Kesehatan Pesantren (Poskestren). Ya, mirip dengan puskesmas. Tapi berada di lingkungan pesantren. Para pegiat di Poskestren itulah yang menjadi pentolan dalam Gugus Penanganan Covid-19 di tingkat pondok.

Dari 190-an pondok yang mengikuti duta pesantren, Riyadlotut Thalabah lolos seleksi administrasi di antaranya 153 ponpes. Kemudian diambil finalis menjadi 30 ponpes. Lalu, dikerucutkan lagi menjadi 15 ponpes. ”Salah satunya sini (Riyadlotut Thalabah, Red). Kami mendapat urutan nomor 6,” ujar Nafis. 

(ks/vah/lin/top/JPR)

 TOP