alexametrics
Jumat, 15 Jan 2021
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Peringatan Ampyang di Kudus yang Berbeda dari Tahun Sebelumnya

30 Oktober 2020, 15: 27: 07 WIB | editor : Ali Mustofa

AMPYANG MAULID: Gunungan diarak dari Balai Desa Loram Kulo menuju Masjid Wali Loram Kulon kemarin. berdoa bersama.

AMPYANG MAULID: Gunungan diarak dari Balai Desa Loram Kulo menuju Masjid Wali Loram Kulon kemarin. berdoa bersama. (DONNY SETYAWAN/Radar Kudus)

Share this      

KUDUS – Peringatan Ampyang tahun ini digelar secara berbeda dari sebelumnya. Jika biasanya warga mengarak 10 gunungan, saat ini hanya satu gunungan.

Selain jumlah gunungan, rute arak-arakan juga berbeda. Jika biasanya dimulai dari Lapangan Kongsi hingga masjid, kini dimulai dari Balai Desa Loram Kulon. Jumlah pesertanya juga dibatasi.

Kemarin, satu gunungan setinggi sekitar 1,5 meter itu diarak dari Balai Desa Loram Kulon menuju Masjid At-Taqwa. Gunungan berbentuk segitiga itu berisi bungkusan krupuk, nasi yang dibungkus dengan daun jati (sego kepel). Untuk mempermanis, di ujung gunungan ditancapkan buah nanas.

Gunungan yang diarak warga juga diiringi perempuan pembawa nampan. Nampan-nampan itu berisi jajanan pasar dan ingkung. Setelah gunungan tiba, warga lantas membacakan Al Barzanji. Seusai rangkaian maulid selesai, nasi kepal yang berada di gunungan lantas dibagikan.

Kepala Desa Loram Kulon Muhammad Syafi'i menyatakan, di tengah pandemi Covid-19 tradisi Ampyang Maulid tetap dihelat. Namun dikemas secara sederhana. Hal ini sebagai upaya melestarikan budaya lokal sekaligus hormat Rasul saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

"Tahun kemarin ada sembilan sampai 10 gunungan, sekarang hanya satu," tambahnya.

Juru Pemelihara Cagar Budaya Masjid Loram Kulon Afroh Amanuddin menyatakan, tradisi tersebut turun temurun dari leluhur terdahulu. Dulu namanya ancaan.

Pada tahun 1996, kata dia, tandu-tandu dihiasi kerupuk berwarna-warni. Masyarakat menamainya ampyang.

”Pada 2010 masuk (Didaftarkan, Red) ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, lalu dinamakan Ampyang Maulid,” ceritanya.

Sedangkan isi gunungan sendiri berupa, nasi kepal yang dibungkus daun jati, lauk, hasil bumi, dan kerupuk ampyang. 

(ks/gal/mal/top/JPR)

 TOP