alexametrics
Sabtu, 05 Dec 2020
radarkudus
Home > Jepara
icon featured
Jepara
Mengunjungi Karimunjawa saat New Normal (4)

Saat Wisata Sepi, Konsumsi Listrik Turun Drastis

28 Oktober 2020, 12: 00: 53 WIB | editor : Ali Mustofa

MULAI MENGGELIAT: Sejumlah pedagang di Alun-alun Jepara menggunakan penerangan dari listrik PLN.

MULAI MENGGELIAT: Sejumlah pedagang di Alun-alun Jepara menggunakan penerangan dari listrik PLN. (FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

KARIMUNJAWA - Konsumsi listrik di wilayah Karimunjawa mengalami penurunan beberapa bulan terakhir. Sebab, turunnya permintaan dari sektor usaha pariwisata selama pandemi.

Sejak 2017 lalu, Karimunjawa telah teraliri listrik selama 24 jam. Khusus Desa Karimunjawa dan Kemujan disuplai oleh PLN. Sementara pulau lain, pasokan listrik bersumber dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).

Ketersediaan listrik 24 jam memang sangat dibutuhkan masyarakat Desa Karimunjawa dan Kemujan. Sebab dua desa itu tujuan utama wisata. ”Dulu hanya 12 jam. Dengan listrik 24 jam sangat membantu, terutama saat ada tamu (wisatawan),” kata Aminah, salah satu warga Desa Karimunjawa.

Baca juga: Wisata Karimunjawa Dibuka, Pedagang Kembali Jajakan Suvenir

Dia menuturkan, dulunya saat ada tamu yang menginap di homestay miliknya dia harus menyiapkan genset dengan BBM. ”Sekarang tak perlu,” ujarnya.

Ketergantungan listrik tak hanya dirasakan saat banyak wisatawan yang datang. Diapun saat ini sudah terbiasa dengan listrik yang menyala 24 jam. ”Dulu listrik hanya menyala 12 jam sudah biasa. Tapi sekarang listrik padam satu jam saja sudah bingung,” tuturnya.

Baca juga: Pasca Dibukanya Wisata Karimunjawa, Kuota Dibatasi, Wisatawan Lengang

Supervisor Teknik PT PLN Sub Karimunjawa Prasetyo mengatakan, PLN mulai memegang penuh kelistrikan di Karimunjawa sejak 2017 lalu. ”Pada 2017 itu, ada penyerahan dari Perusahaan Listrik Daerah (PLD) ke PLN. Sebelumnya memang sempat dipegang pemkab,” katanya.

Prasetyo melanjutkan, sistem kelistrikan di Karimunjawa ditopang pembangkit Legon Bajak. Berada di bawah naungan Indonesian Power Semarang.

Baca juga: Lama Tak Diselami, Mudah Temukan Nemo

Saat ini, di PT PLN Sub Karimunjawa ada 2.056 pelanggan, baik pelanggan kecil (rumah tangga) maupun besar. Khusus pelanggan besar ada 29 unit. ”Pelanggan besar yakni pelanggan dengan daya di atas 11 ribu VA,” jelasnya.

Disinggung konsumsi listrik di Karimunjawa, Prasetyo menyatakan, dalam kondisi normal (pariwisata dibuka) satu hari konsumsi listrik 1.400 kwh atau 1,4 megawatt per jam. Namun saat pandemi, terjadi penurunan yang cukup signifikan.

Ada penurunan 270 mega watt per jam setiap bulan. ”Mulai Maret hingga Agustus, perbulannya konsumsi listrik sekitar 1,2 megawatt atau menurun 270 mega watt dari kondisi normal,” ujarnya.

Sementara untuk hitungan per hari, rata-rata mengalami defisit 0,93 megawatt. ”Kami beli di Indonesian Power. Penjualan per hari 21,02 megawatt. Sementara produksinya mencapai 21,95 megawatt. Jadi, per hari rata-rata defisit 0,93 megawatt,” terangnya.

Namun disinggung nominal, Prasetyo mengaku tak mengerti detail. ”Untuk skala rupiah kami tak bisa menyebut, karena itu sudah masuk Indonesia Power. Tapi komulatif defisit 270 megawatt per bulan,” katanya.

Menurunnya konsumsi itu, karena banyak homestay dan hotel yang tutup. ”Kalau untuk rumah tangga dan tambak masih jalan terus,” ungkapnya.

Dia menambahkan, kantor PLN Sub Karimunjawa tetap buka 24 jam untuk pelayanan pelanggan. Di kantornya, ada satu supervisi, satu pegawai, dan delapan pelayan gangguan. ”Untuk bagian pelayan gangguan, semua personelnya dari warga Karimunjawa,” jelasnya.

Pihaknya menyadari betul, saat ini listrik menjadi hal yang vital. ”Untuk itu, kami antisipasi sedemikian rupa, agar tak ada gangguan. Bulan ini, kami baru sekali pemadaman, karena gangguan jaringan PLN,” imbuhnya. 

(ks/lin/emy/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya