alexametrics
Rabu, 25 Nov 2020
radarkudus
Home > Pena Muda
icon featured
Pena Muda
Anggota DPRD Kudus Muhtamat

Punya Ciri Khas Berpeci

27 Oktober 2020, 11: 54: 07 WIB | editor : Ali Mustofa

BERKIPRAH DI POLITIK: Anggota DPRD Kudus Muhtamat saat mengikuti rapat anggota dewan.

BERKIPRAH DI POLITIK: Anggota DPRD Kudus Muhtamat saat mengikuti rapat anggota dewan. (DOK PRIBADI)

Share this      

MUHTAMAT lahir pada 12 April 1969 di RT 5/RW 4, Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus. Kini, dia berkarir di dunia politik dengan menjadi anggota DPRD Kudus dari Partai Nasdem. Tugasnya, di Komisi D. Dia juga ditunjuk menjadi sekretaris di komisi tersebut.

Sebelum terjun di dunia politik, dia merupakan seorang santri lulusan MTs dan MA NU TBS Kudus lulusan 1991. Di sekolah itu, dia mempunya kenangan mendalam.

Setelah lulus SD Jepang Mejobo, sebenarnya dia ingin masuk di SMP negeri. Namun, kakak keduanya tidak mengizinkan. Muhtamat disuruh sekolah di MTs TBS. Dulunya sekolah ini, terkenal dengan siswanya yang sarungan.

BERPECI: Anggota DPRD Kudus Muhtamat saat bertugas di gedung DPRD Kudus.

BERPECI: Anggota DPRD Kudus Muhtamat saat bertugas di gedung DPRD Kudus. (DOK PRIBADI)

Dia pun mengikuti perintah kakaknya itu. Dia mendaftar dan tes masuk MTs TBS. Namun, dia tidak lolos dan harus mengulang di MI kelas IV. Berlanjut sampai dengan kelas VI. Setelah lulus, dia baru bisa melanjutkan masuk di MTs.

Ternyata, dia nyaman dengan sekolah berbasis agama ini. Sehingga dia melanjutkan di MA TBS. Dia pun lulus pada 1991 silam.

Setelah lulus dari MA TBS, dia dipanggil KH. Arifin Fanani disuruh membantu Pondok Pesantren (Ponpes) MUSYQ (Ma’had Ulumisy Syar’iyyah ‘Yanbu’ul Qur’an’) Kwanaran, Kota, Kudus. Muhtamat disuruh mengelola pondok waktu itu.

Setelah berkeluarga, ia melanjutkan pendidikan dengan kuliah di jurusan hukum di Universitas Muria Kudus (UMK). Lulus S-1, dia pun melanjutkan S-2 di jurusan dan kampus yang sama.

Ditanya tentang kiprah politik. Waktu itu, banyak yang mendorongnya untuk menjadi wakil rakyat. Kemudian Muhtamat memutuskan masuk dunia politik. Dia punya prinsip, politik menjadi sebuah alat untuk berjuang, bukan tujuan. ”Artinya, kalau tidak ada alat ini, bisa (berjuang) pakai alat lain,” kata pria yang aktif di Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jati, Kudus, ini.

Menyadari dari kalangan santri yang terjun di dunia politik, dia pun punya ciri khas sering atau bahkan selalu berpeci selama bertugas menjadi wakil rakyat.

Dia menjelaskan, di zaman milenial ini, akhlak menjadi prinsip yang sudah mulai luntur. Untuk itu, cara memperbaiki akhlak tersebut, dengan cara restorasi atau bisa disebut kembali ke hal yang baik. ”Kalau versi Gus Dur, agar orang Indonesia bisa baik, ya harus ”kepalanya dipotong”. Bukan artinya dibunuh, tetapi cara berpikirnya diubah. Siapa yang diubah, yaitu generasi muda yang menggantikan generasi tua," tutur pria yang juga menjadi pengusaha konveksi tas ini.

Meskipun kesibukannya di dunia politik, tak menurunkan martabat santri di dalam dirinya. Seperti prinsip santri yang masih dipegangnya, ialah memakai peci dan sering ziarah. Harapannya, ia mampu mengendalikan diri dan bisa membuka mata hatinya.

Tradisi santri yang masih dilakoni dalam dunia politik, termasuk manaqib setiap memulai program, santunan yatim piatu, dan juga halalbihalal di kalangan anggota dewan.

Sedangkan perjuangannya untuk para santri saat ini, dia berusaha sekuat tenaga mempertahankan julukan ”Kudus Kota Santri”. ”Selain julukan, juga menyangkut esensi. Kalau julukannya saja ”Kudus Kota Santri”, ya di kota ini harus lebih banyak hal-hal positif daripada negatifnya,” tegasnya.

Di momen sekitar Hari Santri ini, dia berharap ke depan anak-anak terutama santri bisa memilah dan mengembalikan roh santri dari semua lapisan. ”Kita harus bisa merestorasi generasi muda dengan tidak pernah meninggalkan akhlak,” ucapnya. (ni'mah/sari/kholif/aslichah/ayu/nanik)

 

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP