alexametrics
Rabu, 25 Nov 2020
radarkudus
Home > Pena Muda
icon featured
Pena Muda
Dandim Kudus Indarto

Pernah Mondok dan Juara MTQ

27 Oktober 2020, 11: 45: 29 WIB | editor : Ali Mustofa

MONDOK DI KUDUS: Dandim Kudus Indarto mengenakan baju taqwa.

MONDOK DI KUDUS: Dandim Kudus Indarto mengenakan baju taqwa. (DOK PRIBADI)

Share this      

INDARTO, komandan kodim (dandim) Kudus ini, lahir di Kabupaten Demak. Namun, dia besar di Kudus dan berasal dari keluarga yang sederhana. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai buruh tani.

Laki -laki lulusan SD pada 1991 ini, juga pernah mondok di Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Ulum selama sekitar satu tahun. Saat itu, dia juga menimba ilmu di MTs Qudsiyah Kudus selama satu setengah tahun. Kemudian pindah ke SMP Negeri 1 Kudus hingga lulus pada 1995 silam. Setelah itu, melanjutkan di SMA Negeri 1 Kudus. Setelah lulus pada 1998, kemudian memutuskan masuk di Akademi Angkatan Bersejata Republik Indonesia (Akabri) dan lulus menjadi angkatan 2002.

Salah satu alasan beliau masuk ke sekolah militer, karena melihat seragam tentara yang  dirasa keren dan terlihat gagah saat dikenakan. Dari situlah, dia mulai tertarik hingga akhirnya memutuskan mendaftar di sekolah kemiliteran itu.

TUGAS DI KUDUS: Dandim Kudus Indarto membawa tongkat komando saat bertugas di Kodim Kudus.

TUGAS DI KUDUS: Dandim Kudus Indarto membawa tongkat komando saat bertugas di Kodim Kudus. (SHOFIYUL MAULA/PENA MUDA)

Selam berkiprah di dunia militer, dia sempat berpindah-pindah tugas. Di antarnya  menjadi danramil di Tayamba, Maluku Utara. Kemudian PAM di Tanggerang sebagai seorang penyerbu satria dramakala selama enam tahun. Lalu, kembali menjadi danramil di Jakarta Pusat.

Setelah itu, dipindahtugaskan di Padalarang, Bandung, selama satu tahun lebih dua bulan. Dia juga pernah menjadi wakil komandan batalyon di Medan dan menjadi dandim di Manado selama dua tahun 22 hari. Baru setelah itu, dipindah ke Kudus untuk menjadi dandim.

Sebagai seseorang yang pernah menjadi santri, dia juga pengalaman-pengalaman yang di dapatkan saat menjadi santri. Di antaranya kebersamaan, kemandirian, serta rasa saling menghormati antara santri dan kiai. ”Itu yang tak pernah saya lupakan dari seorang santri,” ungkapnya.

Saat nyantri, dia termasuk yang berprestasi. Di antaranya, dia pernah menjuarai lomba musabaqoh tilawatil Qur’an (MTQ).

Baginya, menjadi seorang santri, memiliki peranan yang sangat penting hingga zaman sekarang. Hal ini sudah banyak disadari oleh para orang tua. Dengan lebih memilih memasukan anak-anaknya ke pondok pesantren. Alasannya, agar dapat memberikan bekal untuk anak-anaknya di masa depan kelak.

Sebagai orang tua, dia juga tidak mau ketingalan. Walaupun untuk saat ini belum memasukkan anaknya ke pondok pesantren. Namun, dia rutin mendatangkan guru ngaji untuk membina buah hatinya.

Saat ini, menjadi seorang dandim, prinsip santri masih dipegang. Seperti selalau berusaha untuk menghormati para guru atau kiai. ”Sebab bagi saya, kesuksesan yang didapatkan saat ini, merupakan salah satu hasil dari apa yang telah diajarkan oleh guru atai kiai saya dulu,” imbuhnya. (budi/queen/iiv/dewi/ofi/ma’ruf)

 

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP