alexametrics
Rabu, 25 Nov 2020
radarkudus
Home > Pena Muda
icon featured
Pena Muda
Anggota DPRD Kudus Abdul Basyidh Shidqul Wafa

Sekolah Keagamaan sejak TK

27 Oktober 2020, 11: 36: 10 WIB | editor : Ali Mustofa

SUKA SARUNGAN: Anggota DPRD Kudus Abdul Basyidh Shidqul Wafa mengenakan sarung dan peci saat ditemui tim Pena Muda di gedung DPRD Kudus baru-baru ini.

SUKA SARUNGAN: Anggota DPRD Kudus Abdul Basyidh Shidqul Wafa mengenakan sarung dan peci saat ditemui tim Pena Muda di gedung DPRD Kudus baru-baru ini. (YAQUB/PENA MUDA)

Share this      

ABDUL Basyidh Shidqul Wafa kini menjabat sebagai anggota DPRD Kudus dari Partai Gerindra. Dia bisa dikatakan salah satu anggota dewan yang konsisten menempuh pendidikan di jalur agama.

Dimulai dari pendidikan setingkat taman kanak-kanak (TK). Dia masuk di RA Miftahul Falah Dawe, Kudus. Kemudian berlanjut di almamaternya dengan jenjang yang lebih tinggi, MI Miftahul Falah.

Setelah lulus, dia melanjutkan mondok sekaligus sekolah di MTs dan MA TBS Kudus. Selepas itu, dia malanjutkan studi di Universitas Islam Malang (Unisma), Jawa Timur.

TURUN LANGSUNG: Anggota DPRD Kudus Abdul Basyidh Shidqul Wafa saat menyerap aspirasi warga.

TURUN LANGSUNG: Anggota DPRD Kudus Abdul Basyidh Shidqul Wafa saat menyerap aspirasi warga. (DOK PRIBADI)

Menurut pria yang akrab disapa Wafa ini, bisa bersekolah di madrasah adalah sebuah keunggulan yang tidak dimiliki semua orang. Sebab, di samping dibekali ilmu umum, juga mendalami ilmu agama, sosial, dan juga adab (akhlak) dalam bermasyarakat, yang merupakan hal terpenting dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Dia menceritakan, selama mondok dia punya sejumlah kenangan. Di antaranya, bisa mondok di asrama yang ”limited”. Tak mudah untuk bisa masuk di tempay itu. Seleksinya cukup sulit. Peserta seleksinya banyak, namun hanya sedikit yang berhasil lolos. ”Selama mondok itu, dituntut untuk menjadi seseoang yang mandiri,” katanya.

Sementara disinggung mengenai kiprah di dunia politik, dia mengaku, baginya semua orang bisa terjun ke dalamnya. Saat ini, dengan menjadi anggota DPRD Kudus, dia ingin menunjukkan bahwa santri itu tidak hanya sarungan dan berpeci. Santri juga harus bisa menguasai dunia politik, agar tidak dikuasai oleh orang-orang yang tidak baik.

Sebelum menjadi menjadi anggota dewan, dia pernah menjadi ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pimpinan Anak Cabang (PAC) Dawe selama dua periode. Pada akhir masa jabatannya, dia diminta untuk mencalokan diri menjadi ketua GP Ansor Cabang Kudus. Namun, dia belum terpilih.

Kemudian, pada 2014 lalu, dia mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Kudus. Di sini dia belum beruntung. Belum terpilih untuk menjadi wakil rakyat. Namun, itu tak menjatuhkan seluruh semangatnya. Berkat dukungan dan doa keluarga serta teman-temannya, lima tahun berikutnya, dia kembali mencalonkan diri. Di pencalonannya kedua ini, dia berhasil melenggang ke kursi legislatif periode 2019-2024.

Setelah menjadi anggota DPRD Kudus, prinsip-prinsip santri masih terus dipegang. Di antaranya salat lima waktu dan menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan Allah. ”Di DPRD Kudus juga masih ada kegiatan ala santri, seperti santunan anak yatim. Saya juga sering mengikuti kegiatan keagaman. Baik acara dewan atau di masyarakat umum,” katanya.

Memfasilitasi santri sesuai dengan passion dan bakat masing-masing, juga dia lakukan. Dengan harapan, semoga impian para santri bisa tercapai. Karena santri harus bisa lebih dari seorang santri.

Dia juga mendidik anak-anaknya di dunia santri. Dengan memilihkan sekolah di madrasah dan memasukkan pondok. ”Awalnya mondok itu, memang keinginan orang tua. Tapi, nanti anak-anak juga akan terbiasa dengan sendirinya. Karena selain ilmu keagamaannya bertambah, ilmu umum dan sosialnya pun juga bertambah, karena anak-anak juga di sekolah diajari,” imbuhnya. (arzaq/dian/yaqub/fina/vicka)

 

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP