alexametrics
Kamis, 26 Nov 2020
radarkudus
Home > Pati
icon featured
Pati

Terdampak Covid, Seniman Pati Gelisah Kehilangan Panggung dan Penonton

26 Oktober 2020, 14: 14: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

MENOLAK MATI : Bincang kreatif bersama seniman, praktisi, dan akademisi seni tari.

MENOLAK MATI : Bincang kreatif bersama seniman, praktisi, dan akademisi seni tari. (DINPORAPAR FOR RADAR KUDUS)

Share this      

PATI - Acara Bincang Kreatif (Bingkai) kembali hadir menyapa pemirsa melalui tayangan youtube Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pati pada Sabtu (24/10) malam lalu.

Tema kali ini adalah Eksistensi Seni Tari di Tengah Pandemi. Tiga narasumber hadir mengisi bincang-bincang kreatif tersebut. Mereka adalah Dhanu Prasetyo sebagai seniman tari, Any Wuryaningrum akademisi kesenian tari, serta Evi Septimardiati dari kalangan praktisi kesenian tari.

Tayangan bincang kreatif ini dibuka dengan tarian "Gathotkaca Kiprah". Yang dimainkan Dhanu Prasetyo. Dia mengenakan pakaian tokoh wayang yang merupakan putra Werkudara salah seorang anggota Pandawa Lima.

Dhanu sendiri berkisah tentang awal mulanya menggeluti dunia tari. Hingga keseriusan serta kegigihannya dalam belajar menari secara khusus.

Sementara itu, Any Wuryaningrum mengungkapkan, dirinya sudah 30 tahunan menekuni dunia tari. Termasuk menciptakan sebuah tarian khas untuk mengangkat daerah.

"Menekuni  dunia tari itu harus semangat. Apalagi di masa pandemi seperti ini. Kreativitas jangan lupa. Itu yang penting," paparnya.

Senada dengan Any Wuryaningrum, Evi Septimardiati juga sadar betul untuk terus kreatif. Terutama di masa pandemi yang serba sulit seperti ini. Dimana para seniman kehilangan panggung.

"Semua Seniman hari ini gelisah. Kita kehilangan panggung, kehilangan penonton. Maka yang terjadi apa, kita harus kreatif. Kita bisa menciptakan panggung sendiri. Rumah bisa jadi panggung itu. Pentas virtual bisa dilakukan," papar perempuan yang baru saja menciptakan Tari Prihatin ini.

Di tengah-tengah acara bincang-bincang, Tari kontemporer itu ditayangkan. Tari itu sendiri bercerita tentang keprihatinan di masa pandemi seperti ini. Tari ini dimainkan dari Sanggar Pandu.

Selain itu ditampilkan pula tarian Kidung Tolak Corona yang dimainkan anak-anak dari Sanggar Paringgajatiraras. Yang diciptakan oleh Budiono.

Terpisah, Kepala Dinporapar Kabupaten Pati Slamet Singgih Purnomojati berharap, dengan virtual even ini akan semakin memotivasi para pelaku ekonomi kreatif untuk dapat beradaptasi dan tetap berkarya memasuki era kebiasaan baru.  

(ks/aua/him/top/JPR)

 TOP