alexametrics
Kamis, 26 Nov 2020
radarkudus
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Camilan Gurih Walang Goreng, Cocok Jadi Teman Santai Bersama Keluarga

25 Oktober 2020, 20: 01: 14 WIB | editor : Ali Mustofa

COCOK UNTUK CAMILAN: Salah satu anak Lestari, produsen walang goreng menunjukkan salah satu kemasan yang siap dijual, Jumat (23/10).

COCOK UNTUK CAMILAN: Salah satu anak Lestari, produsen walang goreng menunjukkan salah satu kemasan yang siap dijual, Jumat (23/10). (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

BLORA - Walang goreng yang memiliki cita rasa gurih dalam beberapa tahun terakhir menjadi cemilan yang cukup digemari masyarakat Blora dan sekitarnya. Tersedianya kemasan kecil cocok untuk milenial yang gemar nongkrong hingga kalangan berumur untuk teman jagongan.

Ada empat jenis walang yang biasa digoreng untuk dikonsumsi. Yakni walang kayu, utes, lingi, dan gepuk. Lestari, salah satu penjual walang goreng di Blora menyebut paling gampang mendapatkan pengepul yakni walang kayu. Sebab selalu tersedia di semua musim.

”Kalau walang kayu stoknya selalu ada, jadi otomatis paling laris. Kalau paling enak ya walang lingi, istimewa, karena setahun hanya sekali musimnya,” tutur Lestari.

DUA VARIAN: Walang goreng yang sudah siap dikemas ke berbagai kemasan.  

DUA VARIAN: Walang goreng yang sudah siap dikemas ke berbagai kemasan.   (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Ada dua varian rasa yang dia tawarkan, yakni original dan pedas. Cara memasaknya cukup sederhana. Walang dari pengepul dicuci sampai bersih, termasuk dibuang kotorannya. Walang yang sudah bersih kemudian digoreng.

”Untuk membuangi kotoran ini saya minta bantuan tetangga, per kilo saya kasih Rp 10 ribu. Setelah dicuci dengan air bersih, terus digoreng. Menggorengnya nantinya dua kali,” tambahnya yang tinggal di Dusun Ketanggar, Kelurahan Karangjati, Kecamatan Kota Blora tersebut.

Sekali menggoreng, dalam sehari Lestari bisa langsung 10 kg. Dia menjelaskan, dari 10 kg walang mentah, setelah dibersihkan bisa menjadi 6 kg saja. Sebab, kotorannya menyumbang berat cukup lumayan.

Setelah selesai digoreng tahap pertama, walang kemudian diberi bumbu. Yakni campuran bawang merah, bawang putih, cabe, garam, dan penyedap rasa. Barulah setelah dicampur dengan bumbu, walang kering tadi digoreng lagi.

Khusus untuk walang lingi, rasanya paling enak karena walang yang biasa berkeliaran di kebun tebu. Citarasa walang lebih terasa. Berbeda dengan walang kayu yang berkeliaran di pohon jati. Saat digigit lebih alot.

”Kalau walang otes dari sekitar Blora sendiri. Lebih gurih karena tidak dibuang kotorannya. Kalau yang jenis gepuk itu bentuknya kecil-kecil, hampir sama seperti lingi,” kata Lestari.

Walang goreng, cerita Lestari, mengandung banyak protein. Sehingga, sangat berguna bagi tubuh. Tentu, walang goreng cocok untuk menemani santai sembari ngopi, bercerita apa saja dengan teman, juga membaca koran.

Order Datang dari Berbagai Kota hingga Manca

Dari segi harga, Lestari menyebut juga tidak stabil. Bergantung ketersediaan stok. Pernah, paling mahal yakni satu kilo mentah seharga Rp 200 ribu. Meski, saat matangnya tetap terjual di angka Rp 400 ribu.

Di hari-hari ini, sekilo matang terjual sekitar Rp 270 ribu. Sedangkan paling murah di angka Rp 220 ribu. Dalam sehari, Lestari bisa menjual sebanyak 2-3 kg. Tidak hanya wilayah Indonesia, dia mengaku cukup sering mengirim ke luar negeri.

”Sehari bisa 2-3 kg. Pasti dikirim ke luar daerah. Ke Semarang, Jakarta, Cirebon, hampir semua daerah. Sebelum pandemi dulu sering ke Malaysia, Arab Saudi. Tapi sekarang kan penerbangan dibatasi,” kata ibu empat anak itu.

Di rumahnya, di Karangjati Kecamatan Blora, Lestari juga menjual dalam bentuk kemasan berbagai ukuran. Untuk 90 gram walang otes misalnya, dia menjual sebesar Rp 25 ribu. Sedangkan, dengan harga yang sama, juga berlaku untuk walang kayu untuk ukuran 85 gram.

”Sekarang ini banyak reseller yang dijual lagi di kafé-kafé,” aku Lestari.

Untuk mendapatkan walang-walang itu, Lestari mengaku tak terlalu kesulitan. Sebab sudah ada komunitas pengepul yang siap menyetor walang kapan saja. Bila di Blora habis, dia akan menghubungi pengepul dari Jepara, Kudus, dan sekitarnya.

”Kalau habis semua, ambil dari Jogjakarta, biasanya. Nanti ketemuan di Purwodadi. Begitu terus selalu ada tak pernah kehabisan walang,” cerita dia. 

(ks/ful/him/top/JPR)

 TOP