alexametrics
Rabu, 02 Dec 2020
radarkudus
Home > Grobogan
icon featured
Grobogan

Dinkes Grobogan Bentuk Kader Tekan Penyebaran Kasus TBC

24 Oktober 2020, 15: 01: 06 WIB | editor : Ali Mustofa

DIRESMIKAN: RS Paru dr Ario Wirawan Salatiga dan Dinkes Grobogan meresmikan kampung siaga di Desa Nampu Kecamatan Karangrayung.

DIRESMIKAN: RS Paru dr Ario Wirawan Salatiga dan Dinkes Grobogan meresmikan kampung siaga di Desa Nampu Kecamatan Karangrayung. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN - Permasalahan Tuberculosis (TBC) bukan hanya menjadi masalah sektor kesehatan tapi juga faktor lingkungan di sekitar tempat tinggal. Pemkab Grobogan bekerja sama dengan RS Paru dr Ario Wirawan Salatiga mencanangkan Desa Sehat Bebas TBC (Sahabat) di Desa Nampu Kecamatan Karangrayung kemarin.

Kepala Dinkes Grobogan Slamet Widodo mengungkapkan, di Kabupaten Grobogan kasus TBC terbilang masih cukup tinggi. Pada 2019 tercatat ada 1.596 kasus yang diobati dengan kematian akibat TBC sebesar 2 persen. Hingga September tahun ini, tercatat 905 kasus TBC dengan kematian 1,62 persen.

”Dengan jumlah tersebut. Keberhasilan pengobatan TBC mencapai lebih dari 90 persen yaitu sebesar 94,58 persen,” ujarnya.

(INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Dijelaskan, sejak 2011 hingga 2020 ada 78 kasus TBC resisten obat ditemukan dan 21 kasus di antaranya telah sembuh. Kemudian 18 kasus masih dalam pengobatan, namun sejumlah 35 kasus meninggal dunia.

Kasus TBC kebal obat (resisten) telah tersebar di sejumlah 24 wilayah puskesmas dari 30 puskesmas yang dimiliki Kabupaten Grobogan. ”Puskesmas Karangrayung 2 merupakan puskesmas dengan kasus TB Resisten obat terbesar yaitu ada 12 kasus dan 5 kasus di antaranya di Desa Nampu ini,” ungkapnya.

Dengan tingginya kasus tersebut Dinas Kesehatan menggandeng OPD terkait bahu-membahu menurunkan angka kasus TBC. Sebab, faktor lingkungan seperti keadaan rumah yang kumuh dan tidak memilki ventilasi juga menjadi penyebab menyebarkan kasus ini dengan cepat.

Di Desa Nampu, Dinkes Grobogan dan RS Paru dr Ario Wirawan melantik kader yang nantinya bertugas untuk melakukan tracing jika menemukan kasus. Sehingga penyebaran bisa segera diatasi. Harapannya mampu menurunkan kasus dengan cepat.

”Temukan kasus, obati sampai sembuh. Karena obatnya berkesinambungan setiap hari tidak boleh berhenti selama enam bulan. Adanya desa sahabat ini dimaksud agar elinimasi TBC bisa terlihat dan terwujud. Kita lihat selama ini hanya pengobatan saja, aksinya dengan menemukan kasus secara aktif,” ungkap Direktur Utama RS Paru dr Paru Ario Wirawan Salatiga Farida Widayati.

Kader nantinya juga melakukan pendampingan agar penderita rutin meminum obat. Lantaran efek sampingnya kalau tidak meminum, selain resisten maka dia akan sebagai penular.

”Makanya kami ikuti setiap hari, kalau ada keluhan bisa langsung menghubungi kami dan komunikasi dengan dokter. Perhatian lebih yang diperkukan mereka agar tidak putus obat. Targetnya 2024 kasus harus turun setengahnya. Karena sampai saat ini masih missing link. Karena orang yang positif tapi masih berkeliaran dan tidak ketahuan ini masih cukup banyak. Ini PR yang harus diselesaikan,” tegasnya. 

(ks/int/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya