alexametrics
Kamis, 26 Nov 2020
radarkudus
Home > Kudus
icon featured
Kudus

Dituntut Kreatif dan Inovatif, Santri Milenial Kudus Buka Agrowisata

22 Oktober 2020, 13: 50: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

TERAPKAN GUSJIGANG: M. Nurul Hakim (kanan) menunjukkan kebun jambunya di RT 2/RW 3, Desa Piji Wetan, Dawe, Kudus.

TERAPKAN GUSJIGANG: M. Nurul Hakim (kanan) menunjukkan kebun jambunya di RT 2/RW 3, Desa Piji Wetan, Dawe, Kudus. (M. NURUL HAKIM FOR RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS - Di era milenial santri dituntut kreatif dan inovatif. Ini sudah diterapkan oleh Muhammad Nurul Hakim. Dia tengah sibuk membuat projek agrowisata di desanya.

Pria yang pernah mondok di Pondok Pesantren (Ponpes) Mamba'ul Pakis, Tayu, Pati, mengaku, pembukaan agrowisata di RT 2/RW 3, Desa Piji Wetan, Dawe, Kudus, tersebut untuk pemberdayaan kampung. Sekaligus bisa menjadi jujukan tempat rekreasi edukasi.

”Di sana saya tanami jambu madu deli hijau dan kristal," katanya.

Saat ini dia belum membuka tempat itu untuk umum. Meski demikian, dia tak menutup seseorang untuk berkunjung ke lokasi. Hal ini untuk bertukar pikiran tentang tanaman.

Meski belum berbuah, saat ini pihaknya juga menjual bibit. Setelah resmi dibuka nanti, konsep yang diusung adalah petik buah. Pengunjung juga akan diajari cara menanam jambu, mencangkok, dan menstek. ”Baru dipersiapkan pilot project ini, kami membuka masyrakat jika ingin bermain," tambahnya.

Persiapan agrowisata itu, kata Hakim, sudah dipersiapakan sekitar satu tahun lalu. Sedangkan ia menekuni bidang cocok tanam sejak 2008 lalu. Dulunya ia aktif berkegiatan di Djarum Foundation Trees For Life mulai 2008 melalui program beasiswa. Dia optimistis bisa mengembangkan agroedukasi dan wisata itu.

Alumni MA NU TBS Kudus ini menuturkan, era milenial seperti sekarang santri dituntut memiliki semangat juang yang tinggi. Sebab, persaingan sangat kompetitif. Sekaligus wajib memiliki berbagai keterampilan, kreativitas, dan menjadi santri serba bisa.

”Tidak hanya memecahkan permasalahan agama, santri mampu hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai problem solver dalam berbagai problematika keagamaan dan sosial," harap pemuda kelahiran Kudus, 7 Januari 1983 ini.

(ks/lin/gal/top/JPR)

 TOP