alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Edy Purwanto, Perajin Boneka Lilit (Bolit)

Karyanya Pernah Diborong Turis Jepang dan Eropa

17 Oktober 2020, 10: 44: 45 WIB | editor : Ali Mustofa

KREATIF: Edy Purwanto, menunjukkan boneka lilit (bolit) karyanya.

KREATIF: Edy Purwanto, menunjukkan boneka lilit (bolit) karyanya. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

Edy Purwanto membuat boneka lilit (bolit) dengan bahan tak lazim, kertas filter rokok sortiran. Karyanya itu, diminati baik di dalam maupun luar negeri.

INDAH SUSANTI, Radar Kudus

DUDUK bersila di angkruk samping rumahnya, Edy Purwanto mengenakan baju hitam dan celana pendek. Dia sibuk melilit kertas berwarna kecokelatan yang ada di paha kanannya. Kertas itu dililit dari ujung. Sedikit demi sedikit. Panjangnya sekitar 30 sentimeter.

Ia mengulangi lagi hal yang sama dari kertas yang masih terurai yang ada di depannya. Setelah kertas itu terpilin semua, dengan telaten Edy merangkai dengan cara melilitkan pada kawat yang sudah dibentuk menyerupai manusia. ”Cara melilitnya seperti itu,” celetuknya.

Di sela aktivitasnya, Edy berbagi cerita tentang kerajinan yang dibuatnya. Yakni boneka lilit (bolit) berbahan kertas tippin rokok atau kertas pembungkus filter rokok.

Dia mengaku, mulai membuat kerajinan itu sejak 2017 lalu. Ide awalnya dari keinginannya memanfaatkan limbah kertas itu.

”Saya dulu menerima orderan kertas tippin rokok dijadikan lilitan. Untuk dibuat tali tas. Bentuk awal sebelum masuk mesin berupa gulungan kertas. Waktu dimasukkan mesin, satu gulung itu tidak sempurna sepenuhnya. Ada yang putus. Nah, yang putus itu saya buat boneka lilit,” jelasnya.

Apesnya, di tengah-tengah bolit sudah banyak orderan, ternyata mesin pemintal kertas tippin rokok itu rusak. Dia pun tak mampu membeli yang baru. Harga mahal. Sekitar Rp 32 juta.

Bagi Edy, uang segitu mending dibelikan bahan baku kertas. Sekali membeli biasanya 100 kilogram. Harga per kilogramnya Rp 60 ribu. Jumlah itu bisa dijadikan sembilan hingga 11 gulung lilitan. Kalau sudah berbentuk lilitan, per gulung Rp 18 ribu.

”Saya beli kertasnya yang masih normal. Kemudian, saya pintalkan di mesin punya tetangga. Karena pelanggan pembuat tas masih ada yang nyari. Sisanya buat produksi boneka lilit,” terangnya.

Produk bolit karya Edy memiliki tema cerita. Contohnya karyanya yang dipajang di angkruk dekat rumahnya. Ia menamakan asbak anti angin. Boneka itu, berasal dari kendi kecil yang sudah pecah. Kemudian dibungkus dengan lilitan kertas tippin rokok itu. Di kendi itu, juga melekat dua bolit.

Ia menerangkan, boneka lilit yang menempel itu menggambarkan orang yang sedang bekerja. Sedangkan boneka satunya pose duduk santai, menggambarkan tak pedulikan temannya.

”Saya sebelumnya juga punya beberapa bentuk yang memiliki cerita. Tapi baru saja laku. Saat ini saya sedang mengerjakan pesanan suvenir bolit gantungan kunci,” terang pria yang menjadi ketua RT 2/RW 2, Desa Jurang, Gebog, Kudus, ini.

Edy yang juga menjadi ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Jurang ini, pernah memajang karyanya di pameran internasional di Jogjakarta pada 2018. Dia mewakili Pokdarwis Kabupaten Kudus.

”Saat itu (pameran di Jogjakart, Red) produk saya diborong turis dari Jepang dan Eropa. Kalau sekarang pesanan masih seputar di Indonesia. Paling jauh dari Kalimantan,” paparnya.

Karya-karya yang sudah dihasilkannya, ada asbak, figura foto, gantungan kunci, wadah korek, dan bentuk lain. Harga kerajinan tersebut dibanderol antara Rp 3.500 hingga Rp 300 ribu.

”Paling murah yang kecil-kecil, seperti gantungan kunci. Biasanya untuk suvenir pernikahan. Kalau termahal boneka lilit yang dipadukan dengan media lain dan mengandung cerita serta filosofi,” kata Edy. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP