alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang
Suka Duka Tukang Ledeng di Kota Garam-V

Krisis Jadi Tantangan, Bangun Tengah Malam Jadi Solusi

16 Oktober 2020, 09: 30: 52 WIB | editor : Ali Mustofa

Hendro Wisnu Asmara

Hendro Wisnu Asmara (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG - Hendro Wisnu Asmara sudah 27 tahun mengabdikan diri di PDAM Rembang. Posisinya di bagian satuan kerja (satker). Sejak bulan Maret 2020 ditugasi sebagai Kepala Unit Rembang Kota. Berbagai kendala sering dialami, di antaranya unit kerjanya paling terdampak krisis air, selain itu harus kerja ekstra lantaran harus pandai-pandai membagi air bersih pada pelanggan.

Problem saat ini krisis air. Ini jadi pekerjaan rumah sekaligus tantangan. Namun dia dan tim tidak pernah putus semangat. Baginya itu menjadi tanggung jawab sebagai pelayan. Bagaimana melayani pelanggan secara maksimal dan merata.

Survei malam biasa dilakukan. Keluar pukul 01.00 sampai 02.00 dini hari meninggalkan keluarga. Meski terkadang ikhtiar yang dilakukan kadang tidak sesuai diharapkan. Tujuannya satu, yakni mengalirkan air.

Memang urusan penting. Tidak hanya debit, namun pompa operasional. Problem teknis tersebut terus diurai. Termasuk saat unit Rembang masih dijumpai kendala di Sale. Adanya sumbatan pipa akhirnya dilakukan penggantian.

Kini sudah normal. Namun belum maksimal menambah konsumen. Jadi sebatas memperlancar pelanggan. Dengan catatan tidak ada kerusakan di pelayanan. Kini Rembang dihadapkan krisis air.

Ketika berkurang solusinya digilir. Ujung tombak sukses tidaknya semua penggiliran ada di teman-teman teknik kota. Dan ini dijalankan sesuai standar operasional atas kesepakatan bersama untuk tetap bisa mengalirkan air merata.

”Pekan lalu di unit Rembang terjadi pengurangan aliran air dari Pamotan. Ada penurunan dari pompa dobel, single dan klimaksnya kecil,” kata pria kelahiran 1972 ini.

Operasional harus dimatikan. Terjadi pemadaman air. Mulai pukul 05.00 pagi sampai 13.00 baru operasional. Hal itu terus dipantau kondisi di lapangan.

”Kami terus berusaha melayani pelanggan. Kita optimalkan sumber yang ada. Mulai dari Sale, Gunungsari (Kaliori), dan Pamotan,” ungkapnya.

Di wilayah Pamotan mewakili Rembang atas. Jika tidak terjadi pengurangan debit pelayanan 24 jam. Ketika berkurang digilir 3 hari sekali. Kalau tidak mampu maksimal bisa 4 hari sekali.

”Iya sistem gilir tidak mudah. Air harus stabil. Kalau mati akan terkena jebakan angin. Kita pastikan hingga titik akhir di tempat pelanggan. Terisi atau kosong. Ini butuh peran aktif pelanggan,” keterangan pegawai PDAM yang masuk sejak 1993 ini.

Persoalan di lapangan memang beragam. Kadang ada pelanggan nakal. Pompa langsung dari pipa. Meski tidak bisa menjadi alasan, tanpa ada bukti. Sisi lain untuk pengecekan tidak mungkin dilakukan petugas semua pelanggan.

Wajar kalau kerja sampai malam hari. Memastikan hanya distribusi apakah bisa langsung pelanggan. Karena terkadang tekanan memungkinkan. Namun di lapangan tidak bisa. Maka butuh kepatuhan pelanggan.

”Saat ini di counter jalur Gunungsari. Sebagian untuk mengalir unit Rembang. Ketika ada debit apa pun harus dibagi merata. Untuk penuhi sehari-hari. Syukur-syukur bisa 90 persen terlayani. PR tetap tidak terpenuhi full. Karena hanya 18 jam,” imbuhnya. 

(ks/ali/noe/top/JPR)

 TOP