alexametrics
Kamis, 29 Oct 2020
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang
Suka Duka Tukang Ledeng Kota Garam-VIII

Rela Jaga 24 Jam Demi Kualitas Air yang Jernih

15 Oktober 2020, 13: 55: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Rektono

Rektono (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG - Bergelut dengan sampah plastik dan daun sudah menjadi rutinitas Rektono yang kini bertugas sebagai operator pompa air di Jakinah, Sale. Pria yang sebelumnya pernah bertugas sebagai operator reservoir Ngandang, Sale, bagian pengobatan ini memang memiliki tanggung jawab besar terhadap kualitas air. Sebab jika air ke pelanggan keruh ia yang menjadi sasarannya.

Untuk menjaga kualitas air benar-benar layak, Rektono mengaku memang tak gampang. Selain belajar pada para seniornya. Ia juga belajar tanpa henti mencari formulasi yang tepat agar air benar-benar layak. ”Saat di Ngandang problem air keruh saya bersama teman formulasikan takaran. Ada hitung-hitungan. Saya disitu belajar penjernihan air. Berangkat dari itu saat ada teman yang tidak bisa piket Alhamdulillah ketika diminta bantuan bisa back up,” ungkap pria yang masuk PDAM tahun 2005 tersebut.

Rektono memang tergolong ulet dan pantang menyerah. Kini posisinya di produksi pusat Jakinah, Sumber Semen, Sale. Kerjanya secara global sebenarnya tanpa ada kendala. Makanya enjoy menjalani saat tugas.

Apalagi saat masuk awal PDAM melihat produksi air di sana jernih. Namun semakin tahun berubah. Ketika banjir airnya keruh. Banyak sampah. Tidak seperti dahulu-dahulu. Mungkin ini faktor alam yang mempengaruhi.

”Dulunya setiap kali hujan, banjir, beberapa jam air sudah jernih. Kini sudah jauh beda. Bisa ber jam-jam. Bahkan bisa 24 jam. Air warnanya merah tanah,” ungkap Pria kelahiran September 1982.

Ini biasa dialami saat musim penghujan. Kerjanya harus ekstra. Kebetulan disana saringan permanen belum ada. Sehingga menuntut harus cekatan. Karena kalau dibiarkan, pastinya sampah seperti daun bakalan masuk pompa.

Kalau itu terjadi akan percuma. Ketika pompa berputar, biaya listrik bayar, namun produksi tidak optimal. Untuk menyiasati dilakukan penyemprotan air. Supaya sampah tidak masuk ke pintu air produksi.

”Idealnya pompa air harus bersih. Kalau lumpur tersedot pompa terurai, namun daun atau plastik tidak bisa. Iya repot, tapi sudah pekerjaan harus dijalani profesionalitas. Semua untuk memberikan layanan terbaik kepada pelanggan,” ujarnya.

Meskipun konsekuensi dia harus berjibaku mengangkat pompa. Membersihan saringan. Belum lagi membersihkan air di pintu dari daun ataupun plastik. Kalau sudah buntu harus diangkat. Makanya terus stan by 24 jam.

Komitmennya satu, maksimalkan produksi di Jakinah. Hal ini dilakukan semaksimal mungkin. Terutama pengangkatan pompa. Supaya air tetap lancar. “Caranya mesin pompa dan motor diangkat gunakan derek elektrik. Copot baut. Kalau sudah terangkat saringan diambil sampah. Diturunkan, masukan lagi,” imbuhnya. 

(ks/ali/noe/top/JPR)

 TOP