alexametrics
Sabtu, 31 Oct 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Kisah Mashita Cherani di Daerah Konflik

Dihantui Peluru Nyasar saat Lindungi Rakyat Sudan

15 Oktober 2020, 11: 40: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Ketua Bhayangkari Kudus Bigadir Mashita Cherani Asaat Said Ali

Ketua Bhayangkari Kudus Bigadir Mashita Cherani Asaat Said Ali (Dok Pribadi)

Share this      

Tinggal di daerah konfl ik (Sudan) memang tidak mudah. Selain melindungi rakyat sipil, Bigadir Mashita Cherani Asaat Said Ali juga harus bertahan saat kondisi sulit: peluru nyasar, tembakan meriam, kekurangan air, hingga perihnya iritasi kulit saat musim panas.

DIYAH AYU FITRIYANI, Radar Kudus

Dibalik sosoknya yang riang, Ketua Bhayangkari Kudus Brigadir Mashita Cherani Asaat Said Ali memiliki pengalaman berat. Perempuan kelahiran Surabaya, 4 Agustus 1990 itu sempat bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di negara konflik. Dia tergabung dalam anggota Satgas Garuda Bhayangkara 11 FPU UNAMID selama 1,7 tahun.

SAAT BERTUGAS DI SUDAN: Brigadir Mashita Cherani Asaat Said Ali saat bertugas menjadi pasukan pengamanan PBB di Sudan.

SAAT BERTUGAS DI SUDAN: Brigadir Mashita Cherani Asaat Said Ali saat bertugas menjadi pasukan pengamanan PBB di Sudan. (Dok Pribadi)

Saat bertugas pada Maret 2019, Mashita, sapaan akrabnya, merupakan pasukan Polwan pertama yang berangkat tugas dengan ikatan kontingen. Di sana tak ada perbedaan tugas saat turun di daerah misi. Perempuan dan laki-laki, sama saja.

”Saat pendaftaran saingannya banyak banget. Dan rata-rata dari brimob. Alhamdulillah setelah melewati rangkaian tes, saya terpilih. Satu kontingen ada 104 orang. Polwannya ada 12 orang,” katanya.

Sebagai anggota pasukan perdamaian PBB sekaligus tim Polwan pertama yang diberangkatkan ke misi perdamaian PBB butuh proses persiapan yang tidak mudah. Setelah menjalani seleksi ketat, dia harus menjalani latihan yang menguras fisik dan mental di Cikeas. Hampir setiap hari harus lari belasan kilometer dengan membawa beban belasan kg.

Latihan fisik yang diakunya cukup keras ini memudahkannya beradaptasi di daerah misi. Sebab saat bertugas, semua pasukan wajib selalu mengenakan body vest dan senjata seberat 15 kg. Baik di dalam maupun di luar camp.

Di daerah konflik, kata dia, nyaris setiap ada ada suara tembakan. Bahkan kadang-kadang ada peluru nyasar. ”Jadi dari dalam tenda, saya bisa mengetahui tembakan dari arah mana. Saya sampai fasih karena terlalu sering,” tuturnya.

Belum lagi, kata dia, saat musim kemarau, pasukan harus pintar mengatur penggunaan air. Sebab di sana sulit mencari air bersih. Anggota hanya diberi jatah satu ember untuk keperluan mandi, nyuci hingga buang air.

”Kadang tidak mandi sampai tiga hari. Jadi kalau mandi itu airnya tidak dibuang. Jadi saya mandinya di atas ember, biar airnya tidak terbuang. Karena air kotor pun di sana berharga sekali. Nanti airnya disimpan buat nyuci,” ujarnya. Saat panas suhunya 36 derajat celcius. Tak heran kulit menjadi kering dan kusam. Sedangkan saat musim dingin suhunya bisa mencapai 7 derajat celcius. ”Hujannya bukan salju lagi, tetapi es,” kenangnya.

Waktu tugas, Mashita dan kontingennya sebagai pasukan perdamiaan lebih lama dibanding kontingen sebelumnya. Jika biasanya tugas setahun, kontingennya tambah tujuh bulan. Jadi total 1 tahun 7 bulan. Penambahan waktu ini lantaran adanya pandemi Covid-19 yang terjadi di sejumlah negara. Termasuk Sudan.

Meskisempat merasa berat lantaran harus menanggung rindu dengan keluarga, namun kini Mashita bersyukur. Dia mendapatkan pengalaman hidup yang luar biasa dari kehidupan di daerah misi. Dia kini bisa bersyukur dan menghargai apa yang ada.

”Saya bersyukur menjadi warga Indonesia. Di sana jangankan makanan bagus. Apa yang dibuang di tong sampah itu mereka pungut. Pakaian yang kami beri itu dipakai sampai robek,” tuturnya.

Saat berangkat bertugas, anak bungsu dari dua bersaudara ini baru lima hari menikah dengan AKBP Aditya Surya Dharma yang saat ini menjabat sebagai Kapolres Kudus. Bahkan, hingga saat ini mereka mengaku belum melangsungkan resepsi.

”Saya sudah niat ikut seleksi ini sejak lama. Niatnya pulang misi baru nikah, tapi mertua nyaranin nikah dulu. Akhirnya nikah. Baru lima hari sudah terbang ke Jakarta untuk persiapan berangkat,” ungkapnya.

Saat ini Mashita masih bertugas sebagai polwan di biro SDM Polda Sulteng. Karena sudah mengemban amanah baru sebagai ketua Bhayangkari Kudus, dia pun bertekad untuk bisa menjalankan tugas keduanya dengan baik. ”Harus pintar-pintar bagi waktu. Karena sekarang tugasnya ganda,” katanya lantas tersenyum. 

(ks/mal/top/JPR)

 TOP