alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Sukamto, Kepala SMKN 1 Purwodadi

Pimpin Berbagai Organisasi Guru di Grobogan

14 Oktober 2020, 11: 10: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Sukamto, Kepala SMKN 1 Purwodadi

Sukamto, Kepala SMKN 1 Purwodadi (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

Kepala sekolah harus memberikan perubahan yang baik. Prinsip ini dipegang teguh Kepala SMKN 1 Purwodadi Sukamto. Jiwa kepemimpinannya ditunjukkan dengan dipercaya memimpin berbagai organisasi guru di Grobogan.

INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus

SELAMA enam tahun Sukamto menjabat sebagai kepala SMKN 1 Purwodadi. Ratusan prestasi di kancah nasional telah disabet sekolahnya. Tak hanya itu, alih-alih merasa semakin berat dengan tanggung jawab yang diemban. Ia malah memimpin berbagai organisasi guru di Kabupaten Grobogan.

Karakter kepemimpinannya ditunjukkan melalui berbagai jabatan. Mulai dari kepala sekolah sejak 2014 hingga sekarang, ketua PGRI khusus Dikmen Kecamatan Purwodadi, ketua MKKS SMK Grobogan, dan ketua Yayasan Bina Insani yang menaungi PAUD, TK, SD, dan SMP Islam Terpadu (IT) Al-Firdaus. Dalam waktu dekat, ia akan mendirikan boarding school di Kecamatan Toroh.

Sukamto merasa terpacu dan enjoy menjalani semua ini. Dia punya prinsip fleksibel dan humanis, tapi tetap punya prinsip dan sikap tegas.

Dengan pemilihan sikap seperti itu, ia merasa bisa membangun kerja sama tim yang luwes. Namun, dengan berbagai keaktifannya di berbagai organisasi tingkat kabupaten itu, ia harus merelakan waktunya untuk berkumpul keluarga terpotong.

”Memang jarang ada waktu untuk keluarga. Jika biasanya akhir pekan saya habiskan untuk keluarga, dengan semakin aktif di berbagai organisasi, saya memang harus merelakan waktu libur bukan untuk keluarga,” ujar bapak yang kelahiran 2 Maret 1972 ini.

Namun, saat ia sedang ada acara organisasi ke luar kota di waktu akhir pekan, biasanya sekaligus ia mengajak keluarga sekalian berlibur. Dengan begitu, tak ada waktu yang sia-sia. ”Sukamto manfaatkan waktu dengan sebaik mungkin,” katanya.

Selain tetap ingin bersikap adil terhadap keluarga di tengah kesibukkannya, dia juga menenteramkan para siswa didiknya. Lantaran berkat kepemimpinannya ia mampu membawa sekolahnya menjadi sekolahnya para juara.

Bermula dari slogan ”Sekolahnya Para Juara” mampu menjadi motivasi hingga menggerakkan cita-cita besar para siswa dan guru. ”Slogannya memang singkat dan mudah diingat, tapi semoga selalu bisa menginspirasi,” harapnya.

Dengan slogan itu mampu meningkatkan prestasi SMKN 1 Purwodadi setiap tahunnya. Dari menyabet 15 kejuaraan pada 2015/2016, lalu meningkat menjadi 31 kejuaraan pada 2016/2017. Bahkan, pada 2017 sampai awal tahun ini, sudah menyabet 39 kejuaraan baik kabupaten, provinsi, maupun nasional.

Makna juara pun bukan sekadar menang dalam setiap perlombaan. Bapak empat anak ini, membaginya menjadi tiga makna. Pertama, membentuk mental juara. Yakni tangguh, optimistis, dan pemberani. Kedua, mampu menjuarai dalam berbagai even. Ketiga, menjadi juara setelah lulus.

”Juara setelah lulus maksudnya, siswa bukan hanya meraih prestasi saat di sekolah. Tapi, jika kuliah mampu berprestasi di kampusnya. Ketika bekerja juga tetap tangguh. Serta jika berwirausaha, menjadi wirausahawan sukses,” ungkapnya.

Dia mengaku, ”sihir” slogan tersebut tak akan ampuh jika para guru tak gencar melatih mental anak didiknya. Baginya, pembentukan karakter menjadi hal utama. Maka para guru sigap melakukan pembinaan dan pendampingan siswa.

Tak hanya itu, selama memimpin di SMKN 1 Purwodadi, ia juga menunjukkan karakter berwibawa. ”Kalau ada kesalahan misalnya, saya tidak akan main tegur, tapi langsung mengajak komunikasi dan sama-sama mencari solusi. Itulah yang saya ciptakan, sehingga semuanya enjoy," tuturnya.

Bahkan, sejak satu tahun terakhir ini, ia memiliki program unggulan, program ketarunaan. Di mana anak didik mendapatkan lima karakter, religius, gotong royong, mandiri, nasionalis, dan integritas.

Menurutnya, program unggulan itu dimaksud untuk melatih mental anak didik sekaligus pembentukan karakter siswa. Selama setahun mereka akan digembleng. Nantinya akan di wisuda dan mendapatkan sertifikat khusus. Dengan pakaian khusus, ransel, kaus, dan sepatu.

”Kegiatan ini sebagai pengganti pengenalan sekolah. Ketarunaan sebagai wujud menjawab tantangan. Anak lulusan SMK harus siap jika setelah lulus langsung bekerja, wirausaha, maupun harus melanjutkan ke jenjang kuliah. Sebab, selama ini masih banyak siswa yang karakternya belum terbentuk dengan baik ,” imbuhnya.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP