alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Khosikin, Difabel Bikin Motor Difabel

Harapan Kami, Pemerintah Legalkan Bengkel Ini

13 Oktober 2020, 11: 30: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

UNTUK SESAMA: Mbah Jimin mengerjakan pesanan motor roda tiga di bengkel miliknya baru-baru ini.

UNTUK SESAMA: Mbah Jimin mengerjakan pesanan motor roda tiga di bengkel miliknya baru-baru ini. (YAYAN FOR RADAR KUDUS)

Share this      

Sepeda motor roda dua disulap oleh Khosikin. Jadi roda tiga. Atau model sespan. Sudah 13 motor yang dia modifikasi. Dia pun berharap ada dukungan dari pemerintah agar modifikasi itu legal.

FEMI NOVIYANTI, Radar Kudus

DI tengah keterbatasan fisiknya, Khosikin atau yang lebih dikenal dengan Mbah Jimin mampu memodifikasi sepeda motor roda dua menjadi motor roda tiga dan sespan untuk aksesibilitas kaum difabel. Melalui Bengkel “Okta Berkah”, Jimin juga bisa merakit sepeda motor trail untuk trabas.

Bengkel milik Mbah Jimin tersebut berlokasi di tepi sawah. Tepatnya di RT 03/RW 02, Dukuh Sengkeran, Desa Lebak, Kecamatan Pakisaji. Lokasi tersebut berada sekitar dua kilometer dari pusat Kecamatan Pakisaji. Atau sekitar 15 kilometer dari pusat kota Jepara.

Keterampilan memodifikasi sepeda motor bermula dari kekecewaan Mbah Jimin. Pada 2017, dia memesan ke seseorang  untuk memodifikasi motornya. Pria berusia 39 tahun itu mengeluarkan uang Rp 2 juta. Untuk memodifikasi Yamaha Mio taun 2013. ”Namun sepeda motor modifikasi justru tidak bisa jalan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Karena kekecewaan itu, Mbah Jimin akhirnya bertekad untuk membuat motor difabel. Agar bisa membantu akses teman-temannya sesama difabel di Jepara. ”Saya berjanji dalam hati saya,” tuturnya.

Hingga kini, Mbah Jimin sudah membuat 13 motor difabel. Baik roda tiga maupun sespan. Pemesannya tidak hanya dari Jepara. Ada pula yang dari Semarang. Biaya modifikasinya sendiri beragam. ”Antara Rp 3 hingga 7 juta,” ungkapnya.

Dalam memodifikasi kendaraan para difabel, Mbah Jimin perlu tigasampai empat kali pengukuran dan penyesuaian. Mengingat setiap difabel mempunyai kebutuhan khusus. Dia dibantu dua adiknya. Yakni Abdul Wahid dan Jaiz.

”Memindah gigi dari kaki ke tangan seperti mobil, atau bahkan memindah gas dari kanan ke kiri. Karena tangan kanannya kurang berfungsi maksimal pernah saya buat,” terangnya.

Dengan kemampuannya tersebut, dia menjadi sosok penting dalam city touring yang diselenggarakan oleh Komunitas Motor Difabel Jepara (KMDJ). Sebagian besar motor roda tiga yang dikendarai para penyandang disabilitas tersebut karyanya. Atau setidaknya mendapatkan sentuhan tangannya. Dalam kepanitiaan pun, Jimin didaulat sebagai teknisi dan mekanik.

Saat ini, melalui KMDJ Mbah Jimin berharap ada pembinaan dari pihak kepolisian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, serta Dinas Perhubungan Jepara. ”Mudah-mudahan ada sertifikat dari pemerintah agar usaha bengkel motor difabel ini legal,” pungkasnya.

(ks/emy/lid/top/JPR)

 TOP