alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Anung Satrio, Perakit Senapan Atlet Sea Games

Terjun 2005, Dimulai dari Ngulik Bedhil Uklik

13 Oktober 2020, 11: 05: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

BERKUALITAS: Salah satu senapan rakitan Anung Satrio diletakkan di meja tamu baru-baru ini Anung Satrio Wibowo, Perakit Senapan Atlet Sea Games

BERKUALITAS: Salah satu senapan rakitan Anung Satrio diletakkan di meja tamu baru-baru ini Anung Satrio Wibowo, Perakit Senapan Atlet Sea Games (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

Berawal dari main bedhil uklik, kini Anung Satrio Wibowo mulai diperhitungkan. Siapa sangka, tangan terampilnya mampu merakit senapan si penembak jitu peraih medali emas saat Sea Games tahun lalu.

LABORATORIUM senapan itu dibikin di belakang rumah. Puluhan kaleng-kaleng peluru menggunung di sudut ruang berukuran sekitar 5x5 meter itu. Di sana ada meja meja khusus senapan. Di meja itulah “anaknya” (senapan) itu mapan.

Meja khusus itu terdapat tempat untuk pangkuan ujung senapan. Kata dia, di Indonesia hanya ada lima yang memiliki dudukan jenis ini. Modelnya seperti besi berbentuk huruf H. Pangkuan itu terdapat tuas untuk menggerakkan senapan ke kanan dan ke kiri. Alat ini dia dapat setelah berhasil meraih medali perunggu pada ajang Asean Games tahun lalu. ”Dapat bonus,” katanya.

Dia pun mulai memasang senjata pada dudukan itu. Setelah selesai, dia mengambil satu tele yang bakal dipasang di atas senapan. Sudah ada tempat berbentuk seperti mainan lego. Tele itu pun diletakkan di atasnya lalu dikencangkan dengan obeng. ”Harga Rp 24 juta itu bukan termasuk tele,” katanya. Ya, senapan warna biru dengan panjang 1,7 meter itu sudah ditawar Rp 24 juta.

Senapan sudah siap. Tepat lurus 25 meter dari tempat latihan ini, sudah terpasang selembar kertas berukuran sekitar 40x30 cm. Yang tergambar 30 lingkaran. Masing-masing berdiameter sekitar lima sentimeter. Lingkaran-lingkaran itu merupakan target. Kata warga Desa Sriyombo, Kecamatan Lasem ini sudah sesuai dengan standar sea games. ”Uji cobanya (senapan,Red) ya langsung standar seagames,” katanya.

Anung sendiri sudah menggeluti senapan angin semenjak masih SMP. Pada 2005 lalu. Saat itu dia mengaku paham senjata yang kerap dia pakai berburu burung kala itu pun masih model uklik atau pompa. ”Dulu harganya bekisar Rp 500 ribu,” katanya.

Saat itu dia sempat berhenti menembak. Namun pada 2015 mulai aktif berburu lagi dengan upgrade unit senapan yang lebih praktis.

Setiap berburu, hasilnya dia posting di grub sosial media. Hingga banyak netizen kepo senapan yang dia gunakan. Dari situlah dia melihat peluang. Kemudian tercetus ide untuk membuat jasa custom senapan angin. ”Saya autodidak,” akunya.

Untuk meyakinkan pelanggan, caranya dengan memosting hasil buruan. Semakin banyak hasilnya, kualitas senapan semakin cespleng. Ya, rakitan customnya itu pun laku di pasaran.

Suatu hari dia mendapat kritikan dari senior. Untuk mengurangi aktivitas berburu. Demi menjaga kesetabilan ekosistem, seniornya mengarahkan Anung mengikuti lomba-lomba menembak.

Lomba pun dia ikuti dari kota ke kota. Tujuannya untuk membuktikan senapan rakitannya itu benar jitu. Sampai, singkat cerita, dia mulai dikenal hingga menjadi atlet menembak sea games dan berhasil meraih medali perunggu. ”Unit (senapan,Red) sea games, yang mendapat emas itu unit dari saya,” ujarnya.

Waktu itu, kenang dia, ada satu teman seangkatan ketika mengikuti sea games. Kemudian dia diminta panitia untuk membuat satu unit kepada Fafan, si peraih medali emas itu. Dia pun mulai merakit. Meski Fafan nanti menjadi kompetitor dia saat di Pelatnas, dia berkomitmen tidak akan mengurangi kualitas unit. ”Saya akan memberi unit yang terbaik dari settingan saya untuk semua customer,” tegasnya. Anung mulai mengikuri seleksi Pelatnas dari 8 peserta sampai mengerucut menjadi dua peserta. Dia bersama Fafan pun berhasil lolos menjadi tim inti sea games.

Saat menjadi juara lomba, jasa custom senapannya makin laris. Apalagi setelah meraih perunggu sea games itu. Dalam sebulan, sebelum pandemi, minimal bisa menjual 10 sampai 15 unit. Harganya beragam mulai belasan sampai lebih dari Rp 20 juta. 

(ks/mal/vah/top/JPR)

 TOP