alexametrics
Jumat, 23 Oct 2020
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang
Suka Duka Tukang Ledeng Kota Garam VI

Sudah Pontang-panting Tetap Dapat Cibiran Pelanggan

13 Oktober 2020, 10: 20: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Moh Syukron Umar

Moh Syukron Umar (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

Pria yang masuk PDAM tahun 2010 itu mengaku melayani ribuan pelanggan memang tak gampang. Khususnya saat musim kemarau tiba. Hampir setiap hari harus pontang-panting membantu proses distribusi.

Melalui jalanan kampung-kampung hampir semua hafal. Termasuk paling jauh di Sedan. Sekalipun itu saat posisinya mengemudikan truk tangki berkapasitas 4.000 dan 5.000 liter.  Ada banyak pengalaman tak mengenakan yang dia rasakan saat mengirim bantuan air. Namun, dia merasa senang dengan aktivitasnya tersebut. Ada kepuasan batin bisa membantu walaupun hanya mengantarkan.

”Suka duka saat dropping air di kampung-kampung. Banyak masyarakat gremeng. Utamanya para pelanggan air tidak mengalir itu sudah biasa,” beber pria kelahiran Desember 1982.

Sebagai driver di saat musim kemarau memang harus ekstra. Tak hanya siang hari, bahkan sampai tengah malam. “Minimal 4-5 rit per hari bolak balik mengisi dan distribusi. Menyesuaikan tingkat kebutuhan. Ini butuh proses. Kadang juga harus antre giliran,” katanya

Ketika panjang dia sempatkan istirahat sejenak. Untuk jaga stamina kesehatan. Biar tidak mudah sakit. Ketika sudah penuh langsung tancap gas. Biasanya saat ambil di Nyikaran, kirimnya di Sulang-Rembang-Sumber. Kalau Pamotan dikirim Pamotan dan sekitarnya. Dari Sluke kirim Lasem-Kragan.

”Saya jalani rutinitas pukul 07.30. Kalau saat kekeringan sampai malam. Itu setiap hari. Bisa sampai pukul 24.00. Itu untuk dropping pelanggan di Lasem dan Sarang. Ini semua saya jalani dengan senang hati demi memuaskan pelanggan,” ungkapnya.

Baginya dimarahi pelanggan tak masalah. Ia sadar betul selain harus loyal kepada perusahaan, ia juga punya tanggung jawab memberikan hak pada pelanggan. “Di lapangan dimarahi pelanggan sudah ibarat sego jangan alias biasa. Harus mengalah. Karena kondisinya memang baru kekurangan air baku,” imbuhnya. 

(ks/ali/noe/top/JPR)

 TOP