alexametrics
Selasa, 20 Oct 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Indra Karyanto, Petani Hidroponik Asal Blora

Tolak Gaji Rp 20 Juta, Kini Punya 10 Ribu Lubang Tanam

12 Oktober 2020, 12: 01: 53 WIB | editor : Ali Mustofa

BERDAYAKAN WARGA: Indra di kebun hidroponiknya.

BERDAYAKAN WARGA: Indra di kebun hidroponiknya. (Dok. Pribadi)

Share this      

Banyak godaan sebelum Indra Karyanto sukses berkebun hidroponik. Dia pernah menolak tawaran pekerjaan bergaji Rp 20 juta. Langkahnya tepat. Kini, selain diapresiasi Gubernur Ganjar Pranowo, dia juga berhasil menyabet penghargaan.

SAIFUL ANWAR, Radar Kudus

DI-PHK dari perusahaan perminyakan pada 2016 lalu, menjadi momentum Indra Karyanto nekat bertani. Berawal dari tayangan televisi, bapak dua anak itu mantab memanfaatkan tanah yang dibelinya untuk sepenuhnya menanam tanaman dengan system hidroponik.

Pesangon yang didapatkannya cukup besar. Sekitar Rp 130 juta. Uang itu dibelikan tanah ukuran 40x20 meter di Desa Gandu, Kecamatan Sambong, Blora. Saat membeli tanah itu, dia hanya berniat untuk investasi. Saat itu, belum tahu untuk apa nanti.

Saat memulai, pria yang tinggal di Perumahan Cepu Asri, Kelurahan Pojokwatu, Sambong, Blora, itu hanya memanfaatkan 36 lubang. Dia hanya memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menyusun paralon dan mengisinya dengan tanaman hidroponik.

”Awalnya 36 lubang tanam. Tanamannya selada dan sawi hijau. Alhamdulillah hasilnya bagus,” tutur pria kelahiran Sukoharjo, 18 Mei 1982 itu.

Karena hasilnya memuaskan, dia pun memperbanyak lubang tanam menjadi 90 lubang. Indra pun mulai menitipkan sayurannya ke warung sekitar. Pada minggu ketiga, Indra menyebut pengalamannya dengan ”lebih banyak minta maaf”.

”Maksudnya minta maaf karena stoknya habis. Jadi, setiap hari minta maaf terus, karena banyak yang pesan tapi kehabisan stok,” tutur Indra yang tinggal di Blora sejak 2012 itu.

Indra pun mengembangkan pertanian airnya ini, menjadi 1.000 lubang. Tak lama setelah itu, dia mengikuti agenda pertemuan dengan para petani hidroponik nasional di Bojonegoro. Saat itu, ada satu hal yang sangat membekas di benaknya.

”Kalau setengah-setengah, mending tidak usah. Harus totalitas, begitu,” kenangnya.

Menurut Indra, memang kekhawatiran besar menjadi petani hidroponik adalah soal pasar. Ya, bagaimana menjualnya nanti kalau sudah punya banyak panenan.

Indra kemudian ingat salah satu poin penting dari hasil pertemuan di Bojonegoro pada akhir 2016 itu. ”Jangan khawatir pasar. Kalau kita punya produk bagus dan kontinyu, orang pasti mencari. Tapi harus kontinyu,” paparnya.

Dari situ, dia mulai memanfaatkan tanah yang dibeli dari pesangon PHK-nya. Total modal yang dikeluarkannya tidak tanggung-tanggung. Hingga Rp 300 juta. Dia juga akhirnya merekrut seorang pekerja tetap dan dua pekerja tidak tetap.

Masalah yang dihadapi Indra tidak ringan. Setelah nekat membangun besar-besaran kebun hidroponiknya, masalahnya kembali lagi kepada pasar. Sebab, hotel-hotel di Cepu pada 2017 mulai sepi. Sebab, setelah pembangunan kilang minyak selesai, penghuni hotel berkurang drastis.

”Hotel-hotel dibangun itu kan untuk tenaga migas. Setelah pembangunan kilang migas selesai, hotel jadi sepi. Padahal hotel jadi salah satu pasar yang bagus,” kata Indra.

Akhirnya penjualan pun melalui pintu ke pintu rumah warga. Tak butuh waktu lama, tanaman hidroponiknya menjadi viral sekitar Maret-Mei 2017. Sebab, banyak pembeli yang datang langsung ke kebunnya. Saat itu, tanamannya ada kangkung, sawi, selada, seledri, dan kale.

Saat itulah, cobaan lain datang. Sebuah perusahaan menawarinya pekerjaan dengan gaji Rp 20 juta per bulan. Tentu saja dia galau. Apalagi, pekerjaan itu sesuai dengan latar belakang studinya, Teknik Geodesi di Universitas Gajah Mada (UGM).

”Ditawari pekerjaan di Kalimantan, gajinya Rp 20 juta. Itu cobaan terbesar saya. Tapi akhirnya saya memantapkan diri menolak,” tutur Indra.

Penolakan itu tidak sia-sia. Pada akhir 2017, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengunjungi kebun hidroponiknya di sela kunjungannya ke Cepu. Orang nomor 1 di Jateng itu, mengapresiasi kerja kerasnya. Indra mengaku sangat bangga.

”Setelah diapresiasi Pak Ganjar pesenan makin banyak. Paling ramai kalau ada kunjungan sekolah,” akunya.

Belakangan, Indra juga mendapat penghargaan dari bupati Blora. Yakni sebagai pelopor pertanian hidroponik. Pada 2018, dia juga mendapat penghargaan Kalpataru se-Jawa Tengah peringkat kedelapan mengenai pengabdian lingkungan.

Indra kini juga sering menjadi mentor penanaman hidroponik di sekolah-sekolah adiwiyata. Dia pun banyak mengisi pelatihan-pelatihan di desa-desa. Setidaknya, ada satu sekolah yang menjadi adiwiyata, karena terinspirasi darinya. Sedangkan perorangan, ada sekitar 10 individu.

Sebelum datangnya pandemi, kebunnya bisa menghasilkan omzet sekitar Rp 9 juta. Namun adanya pandemi, omzetnya tinggal separo, bahkan sepertiganya.

”Untungnya masih di seputar pangan. Jadi tetap bisa jalan. Beda kalau di sektor jasa atau yang bukan pangan, pasti sangat jatuh,” kata Indra.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP