alexametrics
Kamis, 29 Oct 2020
radarkudus
Home > Blora
icon featured
Blora

Perusahaan Dinyatakan Pailit, Karyawan PT GCI Blora Wadul ke Bupati

08 Oktober 2020, 09: 19: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

PENENGAH: Bupati Djoko Nugroho memberi masukan saat audiensi Serikat Pekerja Kontrak Pertamina (SPKP) Cepu di ruang pertemuan Setda Blora kemarin.

PENENGAH: Bupati Djoko Nugroho memberi masukan saat audiensi Serikat Pekerja Kontrak Pertamina (SPKP) Cepu di ruang pertemuan Setda Blora kemarin. (HUMAS SETDA BLORA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

BLORA - Karyawan PT Geo Cepu Indonesia (GCI) wadul ke Bupati Blora Djoko Nugroho. Terkait tindak lanjut penyelesaian hak buruh setelah perusahaan tersebut dinyatakan pailit. Namun belum ada titik temu dari audiensi itu.

Ketua Serikat Pekerja Kontrak Pertamina (SPKP) Cepu Agung Pujo Susilo menyampaikan, pada 2014 Pertamina bekerja sama dengan PT GCI sebagai KSO yang menggandeng PT. Caraka sebagai sub kontraktor. Namun pada 2017, PT GCI dinyatakan pailit. Sehingga diambil alih PT Pertamina sejak Agustus 2017.

”Yang datang dalam hal ini buruh masih bekerja serta buruh tidak dibayar haknya. Dengan dalih pada saat itu buruh masih bekerja sebagai pekerja PT Caraka,” ungkapnya.

Agung menambahkan, pihaknya telah melaksanakan mediasi dengan PT Caraka. Hasilnya siap untuk membayar. Namun tak ada kejelasan siapa yang membayar upah mereka. Apakah PT Caraka atau PT Pertamina. "Setahu saya, hasil minyak atau kurator masuk ke PT Pertamina,” ungkap Agung Pujo Susilo di ruang Pertemuan Setda Kabupaten Blora kemarin.

Sementara itu, Andi Putro selaku perwakilan PT Pertamina Field 4 Cepu mengatakan, bahwa status PT GCI merupakan pemegang lapangan yang di KSO-kan oleh PT Pertamina. Sementara kontrak GCI habis pada September 2017.

”Dengan habisnya kontrak, maka KSO dikembalikan ke Pertamina. Sejak September 2017 dikelola langsung oleh PT Pertamina," jelas Andi.

Pada saat peralihan GCI bisa dikatakan pailit karena tidak bisa menyelesaikan kewajibannya terhadap karyawan. Agung mengklaim, apabila Pertamina dibilang tidak tanggung jawab, tidak bisa disalahkan. "Karena ketika KSO dipegang GCI, Pertamina tidak ada tunggakan dengan GCI,” terangnya.

Menurut Andi Putro, pada saat diserahkannya KSO oleh PT GCI ke Pertamina, seharusnya hak-hak pekerja harus sudah dibayar oleh PT GCI. “Berdasarkan informasi yang saya terima, PT GCI memang sudah tidak bisa membayar karyawan maupun barang yang sudah digunakan,” tambahnya.

Mendengar hal itu, bupati menyimpulkan intinya gaji karyawan tidak dibayarkan oleh PT. GCI pada saat masa peralihan PT GCI ke PT Pertamina. Sehingga dalam hal ini perlu adanya pimpinan masing-masing PT. Yaitu PT Pertamina, PT GCI sebagai KSO dan PT Caraka sebagai sub kontraktor PT GCI.

”Di mana permasalahannya, hasil minyak atau kurator pada Agustus 2017 apakah sudah masuk ke Pertamina atau masih masuk di PT GCI. Saya minta kepada bapak Andi untuk dicek kembali kurator tersebut. Sehingga permasalahan ini bisa dicarikan titik temu," ucap bupati.

Menurut bupati, audiensi ini belum bisa menemui titik temu. Sehingga perlu ada pertemuan lanjutan. Bupati meminta agar OPD terkait bisa menjadwalkan pertemuan lanjutan dengan pihak-pihak terkait. ”Saya anggap ini pertemuan awal. Ke depan harus diundang lebih lengkap,” tegasnya.

(ks/sub/lid/top/JPR)

 TOP