alexametrics
Rabu, 21 Oct 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Di Balik Piala dari Kuningan Itu

05 Oktober 2020, 09: 58: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Share this      

JAWA Pos Radar Semarang dan Radar Kudus kembali memberikan penghargaan untuk orang-orang berprestasi. Pialanya sudah disiapkan. Bahkan, sebagian telah diserahkan.

Pemberian penghargaan ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Sejak Maret lalu sampai hari ini pandemi Covid-19 belum berlalu. Tidak boleh ada kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Panitia sempat ragu. Akankah Anugerah Radar Semarang dan Radar Kudus tetap dilaksanakan? Dalam situasi pandemi banyak kegiatan terhenti. Dengan terpaksa atau dipaksa. Banyak orang yang tidak tahu lagi jalan yang harus dilalui.

Tentu, tidak semua orang berpasrah diri. Mereka tetap mewujudkan mimpi. Berinovasi. Bertindak di tengah pandemi. ”Mereka harus diberi apresiasi,” kata saya kepada panitia.

Sampai akhir kuartal ke-3 tidak ada tanda-tanda pandemi berhenti. Panitia berkonsultasi. ”Jangan ikut frustrasi,” pinta saya.

Penghargaan tetap diberikan. Tidak dalam pesta. Ini tantangan.

Tahun-tahun sebelumnya kedua perusahaan menyelenggarakan acara bergengsi. Dikemas secara eksklusif, mewah, dan agung. Penerima penghargaan diundang. Diberi piala dalam acara selebrasi. Dipestakan.

Tahun ini piala diantar ke masing-masing penerima. Tentu tidak bisa bersamaan. 

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menerima piala pertama kali. Seluruh pimpinan Radar Semarang, termasuk saya, mengantarnya ke Balai Kota Semarang Jumat, 25 September 2020. Pak Hendi –sapaannya- didampingi Ibu Mardiana, asisten III, dan Wing Wiyarso, kabag Humas dan Protokol Satda Kota Semarang.

Hendi menerima penghargaan karena terobosan dan inovasinya menggerakkan masyarakat lewat program Tilik Kampung. Dia bukan hanya bertemu masyarakat, tetapi melihat langsung kondisi wilayahnya. Banyak persoalan dipecahkan di tempat. Melibatkan masyarakat itu sendiri. Akhirnya mereka merasa andarbeni. Ditiliki atau tidak mereka bertindak.

Penerima penghargaan kedua dari Radar Semarang adalah Hevearita Gunaryati Rahayu. Mbak Ita –panggilannya- menerima anugerah berkat kegigihannya menerapkan urban farming di Kota Semarang. Wakil Wali Kota Semarang itu sering terlihat bersama ibu-ibu menanam aneka sayuran.

Ita terciduk. Sebuah back drop kecil menghadang di depan pintu menuju ruang kerjanya. Senyumnya mengembang. “Ini surprise. Saya tak menyangka bisa mendapat penghargaan ini,” kata Ita yang mengenakan kerudung merah. Dia tak mengira apa yang dilakukan selama ini diapresiasi pihak lain. Bahkan, diberi penghargaan.

”Saya tahu persis Mbak Ita suka memetik terong dan pare yang besar,” kata saya ketika mengantar penghargaan. Dia tertawa ngakak. “Saya senang, masyarakat antusias memanfaatkan lahan sempit untuk bercocok tanam,” sahutnya.

Penghargaan dari Radar Semarang selanjutnya diberikan kepada Kajati Jateng Priyanto SH MH dan pengusaha properti Sunata 8 Oktober mendatang. Seterusnya untuk penerima yang lain.

Sementara itu, Radar Kudus masih menggodog tokoh-tokoh yang bakal menerima anugerah. Nominatornya sudah ditentukan. Piala juga sudah disiapkan. “Masih menunggu kesiapan pihak-pihak yang menerima penghargaan,” kata Ali Mahmudi, ketua panitia.

Penentuan penerima penghargaan ini melalui jalan panjang. Baik Radar Semarang maupun Radar Kudus mengamatinya sejak awal tahun. Wartawan yang berada di lapangan merekam jejaknya. Redaktur mencatatnya. Panitia mengkajinya satu persatu. Akhirnya ditentukan nominator. Diputuskan pemenangnya.

Dengan proses yang panjang itu, piala yang dari kuningan menjadi sangat berharga, eksklusif, dan bermakna. Penerimanya adalah pahlawan di bidangnya. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya