alexametrics
Kamis, 24 Sep 2020
radarkudus
Home > Grobogan
icon featured
Grobogan

Ditutup Balok, Bukannya Mampet malah Keluar Gas dan Dengungan

15 September 2020, 17: 02: 53 WIB | editor : Ali Mustofa

DITUTUP: Semburan air bercampur gas di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong ditutup warga dengan balok dan koral kemarin.

DITUTUP: Semburan air bercampur gas di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong ditutup warga dengan balok dan koral kemarin. (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN - Air setinggi 50 meter akibat pengeboran terus menyembur hingga kemarin. Untuk itu, kemarin, warga Desa Manggarmas, Godong menutup semburan itu dengan balok dan koral. Namun karena penutupan itu, di lokasi pengeboran malah muncul gas dan dengungan.

Kepala Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Teguh Yudi Pristiyanto melalui Kasi Energi Sinung Sugeng Arianto mengatakan, peninjauan ke lokasi menunggu alat deteksi dari Semarang.

”Kami belum bisa ke lokasi lantaran harus menunggu alat deteksinya. Lokasi pengeboran ini sangat dekat dengan Api Abadi Mrapen. Maka kami akan cari tahu komposisi gas apa yang muncul. Informasinya gas keluar dengan air, bahkan ada bau belerang juga,” ujarnya.

Menurutnya, Kabupaten Grobogan wilayah barat memiliki potensi gas yang sangat besar. Sedangkan wilayah Timur potensi lumpur. Peta indikasi dari Pertamina juga sempat disosialisasikan ke warga.

”Wilayah barat ini potensi keluar gas lebih besar, apalagi Manggarmas ini dekat dengan Api Abadi Mrapen. Saat pengeboran ini juga tidak berizin dulu ke dinas terkait, kemungkinan ngebornya pas diretakan,” keluhnya.

Rata-rata masyarakat malas membuat izin ke dinas dan langsung mengambil tindakan melakukan pengeboran. Bahkan, yang melakukan pengeboran bukan yang memiliki sertifikat. Sehingga tidak mengetahui lokasi tersebut ada potensi bahaya gas atau tidak.

Pihaknya berharap dari petugas keamanan segera memberi garis batas di lokasi tersebut. ”Baru dibatasi rafia dari warga. Jaraknya juga masih terlalu dekat. Dikhawatirkan masyarakat membawa rokok di lokasi tersebut, sehingga berisiko,” keluhnya.

Ketua RT 02 Slamet mengatakan mulanya pengebor mencari sumber mata air ini dilakukan  di kedalaman 30 meter. Namun, pada pukul 21.00 Sabtu, warga memberitahu bahwa sumur tersebut mengeluarkan air yang menyembur ke atas dengan diikuti material pasir, gas belerang dan air bercampur pasir setinggi 25 meter.

”Nah karena semburan tidak berhenti-henti, kami berinisiatif menutupnya dengan 4 buah balok, koral sekitar satu engkel. Awalnya dianjurkan untuk mentup dengan pralon dan pasir agar airnya tetep bisa keluar. Tetapi kami tutup dengan balok dan koral, air masih merembes keluar. Meski sedikit,” ungkapnya. 

(ks/int/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya