alexametrics
Kamis, 24 Sep 2020
radarkudus
Home > Politik
icon featured
Politik
Perang Jargon di Pilkada Rembang

Harno-Bayu pilih “Matoh” karena Lebih Lokal

13 September 2020, 16: 50: 06 WIB | editor : Ali Mustofa

RAKSASA: Baliho raksasa bergambar pasangan calon bupati-wakil bupati Rembang Harno-Bayu lengkap dengan Jargon “Matoh” terpampang di Jalan Pantura Surabaya-Semarang.

RAKSASA: Baliho raksasa bergambar pasangan calon bupati-wakil bupati Rembang Harno-Bayu lengkap dengan Jargon “Matoh” terpampang di Jalan Pantura Surabaya-Semarang. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG – Pasangan calon bupati dan wakil bupati Rembang Harno-Bayu Andriyanto telah mengusung jargon Maju, Tanggap, Kokoh atau Matoh pada Pilkada Desember mendatang. Jargon dibuat sejalan dengan penjabaran dari visi-misi, karakter calon, dan kondisi Kota Garam.

Baliho raksasa hingga poster kecil berisi jargon Harno-Bayu telah tersebar di sudut kota hingga pelosok desa di Kabupaten Rembang. Tak hanya di baliho raksasa, jargon-jargon tersebut juga telah berseliweran di media sosial mulai di grub WhatApp, Facebook, Instagram hingga Twitter milik masing-masing pendukung. 

Menurut kubu bakal calon Harno-Bayu yang telah resmi mengusung jargon “MATOH”.  Jargon tersebut didapat saat acara  kumpul-kumpul bersama anggota fraksi koalisi. Didasari dari kondisi dan realita masyarakat di Rembang. Kemudian kata “matoh” yang telah akrab dan familiar di masyarakat lokal, akhirnya jargon tersebut terpilih.

Harno-Bayu Andriyanto

Harno-Bayu Andriyanto (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

. “Matoh itu kata khas wong Rembang. Jika diterjemahkan bahasa Indonesia bisa disebut sesuatu yang hebat,” ungkap Wakil Ketua tim pemenangan Harno-Bayu, Gunasih.

 Jargon tersebut merupakan penjabaran dari visi dan misi. “Kata MA atau maju. Supaya visi dan misi untuk memajukan Kabupaten Rembang dari segala hal. Dari pembangunan, masyarakat, pendidikan dan lain sebagainya. Kemudian kata TA atau tanggap. Dalam hal ini pemerintah harus tanggap, mengerti dan pengertian dengan orang-orang masyarakat di bawah,” terangnya

Kemudian, KOH atau kokoh akan menjadikan masyarakat kabupaten Rembang menjadi masyarakat yang kokoh, tangguh dan kuat. Dari sisi perekonomian, pendapatan dan persatuan dan kesatuan.

”Sehingga menjadikan komplet. Sudah maju daerahnya, perekonomian dan segala bidang. Tanggap harus selalu dimengerti, memahami yang diinginkan dan butuhkan. Biar kokoh kuat persatuan, gotong-royong. Ini yang harus dibina dan pupuk,” bebernya.

Politisi senior asal Sluke itu menambahkan, jargon Matoh itu memang disesuaikan dengan khasan Kota Garam. Timnya tak ingin membuat jargon yang terkesan dipaksakan supaya enak di dengar. “Kami benar-benar berfikir keras sebelum mendeklarasikan jargon MATOH ini,” imbuhnya.

Dibalik lahirnya kata MATOH hasil buah pikir bersama. Saat mengumpulkan semua fraksi pendukung 20 orang. Rapat-rapat awal untuk pencalonan. Kata matoh di luar Rembang tidak ada. Ini seperti yang ada di daerah tertentu. Mengunggulkan Sip atau luar biasa.

”Jadi akan pas sekali kata dirangkai menjadi suatu kata. Dan itu di lokal. Disamping kesederhanaan dari pak Harno. Familiar slogan kata Piye apike dan piye enake . Pie Apike Pie Enake mengandung arti kebersamaan. Tiap ada masalah, diselesaikan secara musyawarah mufakat. Ketika ingin memutuskan minta pertimbangan teman-teman,” imbuhnya.

(ks/noe/ali/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya