alexametrics
Selasa, 24 Nov 2020
radarkudus
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Tips Praktis Membuat Bonsai, Tak Harus Besar, Tapi Terlihat Tua

23 Agustus 2020, 12: 12: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

BUTUH KESABARAN: Penghobi bonsai yang tergabung dalam Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Kudus foto bersama di sekitar bonsai koleksinya.

BUTUH KESABARAN: Penghobi bonsai yang tergabung dalam Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Kudus foto bersama di sekitar bonsai koleksinya. (M. ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS - Bonsai termasuk seni dengan media tanaman. Tujuannya, menciptakan replika pohon besar, namun terkesan alami. Dari masa ke masa penggemarnya selalu ada. Bahkan, saat ini kembali nge-hits.

Bonsai, tanaman yang bisa memikat bagi orang yang melihatnya. Ketertarikan tidak sekadar untuk mempercantik pemandangan, tapi rasa ingin tahu dengan bentuk bermacam-macam. Sampai terbentuk komunitas yang diakui nasional bahkan internasional.

Seperti di Kudus, penghobi bonsai ada yang tergabung dalam Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI). Salah satunya Sugeng, yang dianggap senior dalam hal bonsai. Ia tertarik bonsai dari keinginannya mengkredilkan atau membuat replika dari pohon-pohon besar.

HARUS PUNYA JIWA SENI: Fahrurr Rozi, salah satu trainer bonsai di Kudus sedang memangkas ranting pohon yang di-training menjadi bonsai.

HARUS PUNYA JIWA SENI: Fahrurr Rozi, salah satu trainer bonsai di Kudus sedang memangkas ranting pohon yang di-training menjadi bonsai. (M. ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

”Sebenarnya wujud nyata dari seni rupa. Seninya, dari bentuk atau gerak dasar pohon, keserasian dan idealnya percabangan, hingga seni merawat,” katanya.

Diakui, merawat bonsai perlu ketelatenan ekstra. Sebab, selain sabar menunggu tumbuh, juga perlu memperhatikan media tanam. Agar media tanam yang sedikit itu, tetap bisa mencukupi kebutuhan makan tanaman.

Dia menjabarkan, bahan pohon yang bisa dibuat bonsai. Seperti kimeng, sakura mikro, hokianti, serut, anting putri, beringin, dan cemara. ”Intinya tanaman yang batangnya keras dan daunnya bisa menjadi kecil,” ungkapnya.

Nah, untuk mengecilkan daun itu, tanaman harus sering dipruning (daun dipangkas semua).

Sedangkan untuk pergantian media tanam, rata-rata enam bulan sekali. ”Media tanam ada yang menggunakan pasir Malang dicampur kompos,” ujarnya.

Salah satu anggota PPBI yang juga trainer bonsai Fahrur Rozi mengatakan, pembentukan bonsai dimulai dari menumbuhkan dengan subur tanaman. Kemudian yang paling utama membentuk gerak dasar tanaman. ”Inilah yang menentukan bagus atau tidaknya bonsai,” ujarnya.

Baru kemudian mengatur percabangan. Baik untuk pembentukan gerak dan percabangan, bisa dengan ditarik dengan tali, dikawat, atau dengan pemangkasan.

”Bonsai itu tak harus besar. Kecil tidak masalah, asal kelihatan tua. Dan yang terpenting terlihat alami. Ada bonsai yang jenisnya justru kecil. Ukuran maksimal hanya 15 cm. Dinamakan mame atau bonsai mini,” ungkapnya.

Pembentukan bonsai tergantung imajinasi pembuatnya. Bisa meniru pohon besar di alam, misal tertiup angin, pohon yang patah bagian dahan, atau pohon yang bekas tersambar petir (kering dan pecah tak beraturan bagian pucuk). Ada juga yang dengan pola tegak lurus, cascade (air tejun), atau semi cascade.

”Untuk kontes, gaya tegak lurus yang paling detail dinilai. Mulai dari akar, bentuk batang, hingga percabangan harus seimbang. Sedangkan misalkan gaya cascade akar tidak begitu bagus tak masalah,” katanya.

Dia menambahkan, pohon untuk dijadikan bonsai ada yang dari mengambil dangkel (bonggol) pohon dari alam. Ada juga yang hasil budidaya seperti mencangkok, stek, atau dari biji.

Dia dan rekan-rekan di PPBI lebih memilih dari hasil budi daya. Sebab, tidak merusak alam, karena mengambil dari alam. Kalaupun mengambil dangkel, sebaiknya mengganti dengan tanaman. Sehingga keberadaan pohon tetap terjaga. 

(ks/san/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya