alexametrics
Rabu, 21 Oct 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Kenangan Mantan di Ujung Masa Kerja

03 Agustus 2020, 10: 14: 14 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus

Direktur Jawa Pos Radar Kudus (Radar Kudus)

Share this      

SAYA terharu berat ketika mendapat ucapan terima kasih dari Tri Sutristiyaningsih. Dia pensiun menjelang Idul Adha 2020. Di pengunjung masa kerjanya itu dia masih mendapat fasilitas berkurban dari kantor Radar Semarang.

“Ini merupakan kenangan yang paling indah dan semoga dapat bermanfaat bagi masyarakat yang membutuhkan,” katanya lewat WA. “Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas kebahagiaan untuk keluarga saya,” tambahnya.

Tia, panggilannya, adalah salah seorang karyawan Radar Semarang yang mendapat fasilitas berkurban tahun ini. Dia membeli kambing di desa. Harganya relatif lebih murah dibanding kalau membeli di kota. Kemudian disembelih di kampung tempat tinggalnya di Semarang.

Ucapan terima kasih yang sama saya terima dari karyawan Radar Kudus. “Alhamdulillah bisa berkurban tahun ini. Semoga berkah barokah,” kata Ika Rahayu, sekretaris di kantor Radar Kudus biro Jepara. Dia bergabung dengan Radar Kudus sekitar lima tahun lalu.

Baginya berkurban tahun ini sangat bersejarah. “Baru pertama seumur hidup,” tambah ibu satu anak itu. Dia menunjukkan gambar kambingnya berwana putih hitam. Kebanggaan yang sama ditunjukkan Samsu Rizal, office boy.

Sejak tahun lalu Radar Semarang dan Radar Kudus mengfasilitasi karyawannya berkurban. Saat itu ada 10 orang di masing-masing perusahaan yang mendapat kesempatan. Tahun ini menyusul 14 karyawan Radar Semarang dan 15 karyawan Radar Kudus.

Pembelian hewan kurbannya diserahkan kepada masing-masing karyawan. Ada yang membeli sapi secara patungan tujuh orang. Ada yang membeli kerbau dengan cara yang sama. Yang terbanyak membeli kambing.

Tempat penyembelihannya juga dibebaskan. Ada yang di rumah. Ada juga yang diserahkan kepada panitia di masjid. Pratono, redaktur Radar Semarang yang asli Semarang, menyalurkannya di Dusun Grojogan, Tegowanu, Grobogan.

Fasilitas diberikan agar mereka mendapat pengalaman spiritual sebagaimana Nabi Ibrahim. Ternyata banyak karyawan yang seumur hidupnya belum pernah melakukan hal itu. Bisa jadi, mereka mampu sejak lama. Tetapi tekad bulatnya baru muncul saat itu.

Berkurban itu tidak gampang. Godaannya sangat besar. Itulah yang dialami Nabi Ibrahim ketika diperintah oleh Allah untuk menyembelih putranya Nabi Ismail. Berhari-hari dia merenung. Terjadi perang batin yang maha hebat. Ismail adalah anak kesayangannya.

Umat Islam diperintah (sunnah) bukan untuk menyembelih anaknya. Melainkan hanya berkurban dengan raja kaya. Bisa kambing, sapi, kerbau, atau unta. Godaannya cukup besar. Tidak besar. Apalagi sangat besar. Itu pun banyak yang tidak mampu.

Saya melihat banyak karyawan yang secara materi berkecukupan. Apalagi hanya membeli kambing seharga Rp 3 juta. Tidak lebih mahal dari sepeda pancal yang mereka naiki. Karena itu, Radar Kudus dan Radar Semarang mengfasilitasi mereka agar tidak terasa menyisihkan harta yang mereka cintai itu.

Kadang-kadang keinginan saja tidak cukup menggerakkan orang untuk berbuat baik. Masih perlu dorongan dari luar agar keinginan itu berubah menjadi tekad yang akhirnya berwujud tindakan.

Di media sosial sebenarnya sudah banyak motivasi yang berseliweran. Nadanya memang guyonan. Tetapi artinya sangat serius. Misalnya, “Membeli sepeda saja mampu, masak membeli kambing tidak mampu.”

Saya juga ikut-ikutan nyetatus. “Bukan sepedamu yang mahal dan kekuatanmu menggenjot yang menyelamatkanmu dari api neraka, melainkan sekecil apa pun kambing yang kamu sembelih bisa menyeberangkanmu melewati jembatan sirotol mustaqim.” Dalam suatu riwayat, kelak hewan kurban bisa dinaiki saat menyeberangi lautan api pada hari kiamat nanti.

Ajaran berkurban itu, kata khotib salad id di kampung saya Sidoarjo, Jatim, sudah ada sejak zaman Nabi Adam. Demikian berat godaannya sampai Qobil dan Habil, dua putra Adam, bertengkar hebat. Hingga terjadi pembunuhan.

Pada Idul Adha Jumat lalu itu, saya sudah bisa salat id di masjid dekat rumah. Kondisi memang masih pandemi covid-19. Masjid itu dibuka untuk salad Idul Adha menggantikan salat di tempat terbuka. Namun belum untuk salat Jumat yang hukumnya wajib. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya