alexametrics
Selasa, 11 Aug 2020
radarkudus
Home > Grobogan
icon featured
Grobogan

Pengambilan Daging Kurban Idul Adha Terapkan Protokol Kesehatan Ketat

01 Agustus 2020, 12: 14: 41 WIB | editor : Ali Mustofa

JAGA JARAK: Ratusan warga Kecamatan Purwodadi antre mengambil daging kurban di halaman Masjid Jabalul Khoir Simpang Lima Purwodadi kemarin.

JAGA JARAK: Ratusan warga Kecamatan Purwodadi antre mengambil daging kurban di halaman Masjid Jabalul Khoir Simpang Lima Purwodadi kemarin. (SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN - Pembagian daging hewan kurban di Grobogan masih menggunakan kupon antrean. Seperti di Masjid Jabalul Khoir Simpang Lima Purwodadi.

Panitia pembagian kurban mewajibkan warga mengambil kupon pada pagi hari. Sedangkan pengambilan daging baru dibuka pukul 14.00. Namun, pelaksanaannya molor 30 menit. Bungkusan 800 daging ludes dalam setengah jam pembagian.

Meski didatangi ratusan warga, panitia menerapkan protokol kesehatan ketat. Yakni mewajibkan warga yang mengambil daging bermasker, serta antre berbaris berjarak satu meter dan tertib. Untuk memberi tanda sudah mengambil daging, sebelumnya warga harus celupkan jari ke tinta. Baru menyerahkan kupon untuk ditukar dengan daging kurban.

RAMAH LINGKUNGAN: Panitia kurban di Masjid JHK membungkus daging dengan daun jati kemarin.

RAMAH LINGKUNGAN: Panitia kurban di Masjid JHK membungkus daging dengan daun jati kemarin. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Mayla, warga Desa Ngembak, Purwodadi, mengaku sudah dua tahun mengambil daging kurban di Masjid Jabalul Khoir. Dia datang pagi untuk mengambil kupon dan siang hari ambil daging. ”Tadi antrenya lama, karena harus baris tertib satu-satu. Tapi nggak papa saya bisa dapat daging kurban,” katanya.

Ketua panitia kurban Masjid Jabalul Khoir Tugiman mengatakan, ada delapan sapi dan 25 kambing yang disembelih. Salah satu sapi Bupati Grobogan Sri Sumarni. Hewan itu kemudian dijadikan 800 bungkus daging. ”Pembagiannya menggunakan kupon. Yang meminta harus pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan,” ujarnya.

Sementara itu, di Masjid Baitul Makmur Purwodadi penyembelihan menggunakan protokol kesehatan. Yakni memakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan sebelum masuk masjid. ”Pendistribusian daging menggunakan kupon dan plot di masing-masing daerah yang meminta. Ada 1.150 bungkus yang dibagikan,” kata Ketua Takmir Masjid Baitul Makmur Nur Kholis.

Protokol kesehatan ketat juga dilakukan panitia pelaksanaan penyembelihan kurban di Masjid Jam’iyyatul Hujjaj Kudus (JHK). Mulai dari semua perewang memakai masker hingga mengatur jarak. Seperti saat proses pembungkusan. Semula lesehan kini pakai meja. ”Pakai meja untuk mengatur jarak perewang. Kami juga menerapkan satu alat untuk dipakai satu orang,” kata Alex Fahmi, sekretaris panitia pelaksanaan kurban JHK Kudus.

Penerapan protokol kesehatan tak hanya sebatas pemakaian masker dan jaga jarak. Malam hari jelang pelaksanaan, pihaknya telah menyeterilisasi tempat. Dengan menyemprot cairan desinfektan. Panitia juga menyiapkan tempat cuci tangan yang dilengkapi sabun.

Tahun ini JHK menerima enam kerbau dan enam kambing. Meski di musim pandemi, jumlah ini tak jauh beda dengan tahun sebelumnya. Tahun lalu ada enam kerbau dan tujug kambing. Dalam proses penyembelihan sampai pembagian, melibatkan sekitar 50 perewang.

Proses pembagian daging dilakukan usai Salat Jumat. Untuk menghindari kerumunan, pihaknya membagikan melalui sembilan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kudus.

Selain itu, panitia juga melaksnakan aturan pemerintah untuk meminimalisasi penggunaan plastik. Daging kurban yang dibagikan dibungkus dengan daun jati. ”Panitia menyiapkan lima bal daun jati. Sebenarnya kami sudah lama membungkus dengan daun jati,” tuturnya.

Santo, 40, salah satu perewang mengaku sedikit tak nyaman karena harus menggunakan masker. Namun dia tetap harus menggunakan untuk mengantisipasi penularan Covid-19. ”Aslinya pengap. Tapi untuk kebaikan bersama tidak apa-apa. Biar semua aman,” katanya.

Sedangkan di Jepara, pengurus Masjid Agung Baitul Makmur Jepara tak menyembelih hewan kurban. Pengurus Masjid Agung Baitul Makmur Jepara A. Sholeh mengatakan, pihaknya hanya menggelar Salat Id. Salat berlangsung sesuai dengan protokol kesehatan. Jaga jarak, membawa masker, dan pengecekan suhu sebelum masuk masjid.

Sementara di Masjid Masjid Agung Baitul Muttaqin, Desa Bugel, Kedung, menyembelih 31 ekor sapi dan delapan kambing kemarin. Selama proses kurban hanya ada belasan warga yang menonton. Warga sudah diimbau untuk tak berkerumun menyaksikan proses pemotongan. Distribusinya diantar panitia ke rumah warga.

Ketua panitia Sarwadi mengaku, satu bungkus berisi 1,2 kilogram daging. Tulang dan organ dalam tak ditimbang. Hanya dibagikan sebagai tambahan. Ada 2.400 KK yang menerima.

Di Masjid Agung Rembang kurban tetap dilaksanakan kemarin. Ada delapan sapi dan empat kambing. Paling besar ukurannya lebih dari setengah ton. Warnanya hitam putih. Sapi yang paling besar berbobot 56 kwintal itu, disembelih giliran pertama.

Panitia kurban memang sudah menargetkan penyembelihan dan pendistribusian selesai satu hari. Ketua Panitia Muhammad Nafan Fuadi menuturkan, daging dibagikan ke sembilan desa. Pihaknya sudah menyiapkan satu orang sebagai koordinator di desa. Teknis pembagian selanjutnya, dilaksanakan warga setempat. ”Tujuannya menghindari kerumunan,” ujarnya.

Hal berbeda dilakukan panitia kurban di Masjid Agung Baitun Nur Pati. Penyembelihan hewan kurban tidak di masjid. Melainkan di rumah pemotongan hewan (RPH). Tujuannya, menghindari kerumunan. ”Ada dua ekor sapi dari bupati dan wakilnya, dua ekor sapi lain, dan lima ekor kambing dari jamaah,” jelas Ahmad Yunus, ketua panitia kurban.

Sementara itu, di Rumah Jagal Arum ada lima penjagal. Selain menggunakan plastik, mereka menggunakan besek untuk membungkus daging. Panitia membagi menjadi 1.500 bungkus. Butuh waktu tiga jam untuk menyembelih hingga distribusi daging.

Sementara itu, salah satu dokter hewan yang bertugas dari Puskeswan Pati Any Setiyowati menjelaskan, seluruh sapi yang disembelih di rumah jagal Arum sehat dan layak dikonsumsi. Sebelum disembelih, pihaknya memeriksa kondisi fisik sapi. Mulai dari gigi sampai seluruh tubuh sapi. Setelah disembelih, pihaknya memeriksa bagian-bagian tertentu, seperti jerohan.

Kabid Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pati Andi Hirawadi mengaku menugaskan enam dokter dan 17 mantri hewan di kecamatan. 

(ks/mun/daf/war/vah/qih/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia