alexametrics
Jumat, 14 Aug 2020
radarkudus
Home > Rembang
icon featured
Rembang

Masjid Jami Lasem Siapkan 70 Liter Disinfektan Berbahan Daun Sirih

30 Juli 2020, 11: 48: 32 WIB | editor : Ali Mustofa

TAK BERBAHAYA: Para jamaah Salat Jumah melewati bilik disinfektan herbal di Masjid Jami Lasem baru-baru ini. Bilik ini juga disiapkan untuk jamaah Salat Idul Adha.

TAK BERBAHAYA: Para jamaah Salat Jumah melewati bilik disinfektan herbal di Masjid Jami Lasem baru-baru ini. Bilik ini juga disiapkan untuk jamaah Salat Idul Adha. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG - Kantor Kementrian  Agama (Kemenag) Rembang menegaskan, pelaksanaan Salat Idul Adha besok dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat. Sejumlah masjid menyiapkan sarana pra sarana untuk ini. Di antaranya Masjid Jami Lasem. Uniknya, disinfektan yang disiapkan berbahan herbal.

Di Masjid Jami Lasem memang sudah dipasang bilik disinfektan sejak April lalu. Selebar dua meter dan berwarna hijau. Tapi, bilik ini tak membahayakan. Sebab, bahannya alami. Dari daun sirih. Setiap Jumatan penyemprot ini beroperasi. Biasanya menghabiskan sekitar 50 liter.

Pengurus Masjid Jami Lasem Abdullah Hamid menyampaikan, untuk pelaksanaan Salat Idul Adha secara umum dilaksanakan seperti Salat Idul Fitri. Sarana pra sarana sudah disiapkan. Untuk persiapan idul adha, ia belum bisa memastikan berapa liter disinfektan sirih yang disiapkan. Kemungkinan besar sama saat pelaksanan Salat Idul Fitri. ”Kira-kira tiga sampai empat jeriken. Ya sekitar 70 liter,” imbuhnya.

PATUH PROTOKOL: Petugas parkir Masjid Jami Lasem cuci tangan di depan bilik disinfektan herbal kemarin.

PATUH PROTOKOL: Petugas parkir Masjid Jami Lasem cuci tangan di depan bilik disinfektan herbal kemarin. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Terpisah, Kepala Kemenag Rembang Athoilah menegaskan agar pelaksanaan Idul Adha menggunakan protokol kesehatan. Aturan ini sesuai dengan surat edaran menteri agama. ”Harus dipetakan apakah jamaah warga sekitar atau penduduk dari luar,” katanya. Jamaah juga diminta membawa sajadah dari rumah dan tak mengadakan kontak fisik, seperti salaman. Untuk wilayah zona merah atau hitam diimbau untuk Salat Id di rumah. Saat penyembelihan hewan kurban juga demikian. Agar tidak berkerumun. Pendistribusian dilaksanakan door to door,” imbuhnya.

Di Jepara, Bupati Jepara memutuskan masyarakat Jepara bisa menggelar Salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban. Hanya, semua harus dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Ini setelah menggelar rapat bersama dengan jajaran forkompimda dan perwakilan ormas Islam kemarin malam.

Masyarakat diizinkan melaksanakan ibadah Idul Adha, tetapi harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Izin ini dikecualikan bagi daerah yang belum dinyatakan aman dari Covid-19. Bupati Jepara Dian Kristiandi menyatakan, Jepara masuk zona merah. Tetapi dari tingkat risiko termasuk resiko sedang. ”Karena risikonya sedang, masyarakat diizinkan menggelar Salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban, tetapi dengan syarat harus disiplin mematuhi protokol kesehatan,” katanya.

Pihaknya berharap, ormas Islam mengeluarkan imbauan supaya pelaksanaan Idul Adha dan berkurban tak mengesampingkan soal kesehatan. Sebagai pengawasan akan ada bantuan penerjunan anggota TNI dan Polri. Pemkab Jepara juga meminta ormas Islam yang memiliki satuan pengamanan internal, agar membantu menertibkan jamaah di tempat ibadah.

Wakil Ketua PCNU Jepara Hisyam Zamroni menyatakan, secara resmi PB NU tak menerbitkan edaran terkait Salat Idul Adha. ”Tapi sudah menjadi keharusan jika Salat Id harus menerapkan protokol kesehatan ketat. Begitu juga saat penyembelihan,” imbuhnya.

(ks/vah/emy/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya