alexametrics
Sabtu, 08 Aug 2020
radarkudus
Home > Features
icon featured
Features
Abdul Azis, Nulis Kitab Diterbitkan di Mesir

Berawal dari Permasalahan Islam Minoritas di Eropa

25 Juli 2020, 11: 00: 58 WIB | editor : Ali Mustofa

Faqih Abdul Aziz

Faqih Abdul Aziz (Dok Pribadi)

Share this      

Selesai studi S-1 dan S-2 di Maroko, santri asal Kudus Faqih Abdul Azis juga telah menulis kitab. Sudah diterbitkan oleh penerbit di Mesir. Melalui kitab itu, dia ingin membantu memecahkan persoalan fikih bagi minoritas muslim di Eropa.

DIYAH AYU FITRIYANI, Radar Kudus

KITAB setebal 80 halaman berwarna putih dengan gradasi krem itu, karya ilmiah ketiga Faqih Abdul Aziz. Santri asal Kudus ini, memberinya nama Fiqh Al-Áqalliyyát Al-Muslimah atau fikih minoritas muslim. Karya yang diterbitkan berbahasa arab tersebut, dapat dibilang istimewa. Sebab, diterbitkan oleh penerbit di Kairo, Mesir, pada Maret 2020 lalu.

Kitab karangan lelaki asal Desa Hadipolo, Jekulo, Kudus, ini bermula dari tesisnya saat di Universitas Hassan II, Casablanca, Maroko. Pembahasannya terkait fikih atau hukum Islam bagi muslim minoritas, terutama mereka yang ada di Eropa. Mereka memiliki keadaan yang berbeda dengan muslim mayoritas.

”Awalnya dulu saya tidak ada pikiran untuk menerbitkan. Setelah lulus pada 2018, saya pulang lalu ngajar di Sarang, Rembang. Pada September saya ke Maroko, ketemu dosen pembimbing dan disarankan tesis saya diterbitkan,” kata Faqih.

Lelaki kelahiran Kudus, 18 Agustus 1993 ini, mencontohkan permasalahan yang dibahas. Salah satunya terkait puasa di Eropa. Dengan kondisi astronomi yang dekat dengan garis lintang utara, waktu puasa bisa lebih dari 20 jam. Terlebih jika sedang musim panas. Dalam penjelasan medis, jika tubuh terus mengalami kondisi seperti itu akan lemas. Akhirnya para ulama dalam mujamma’ fiqh atau diskusi mencari hukum Islam yang relevan untuk keadaan seperti itu.

Akhirnya ditemukan. Ada dua opsi solusi atas kondisi ini. Pertama, mereka dapat berpuasa dari pukul 03.00-18.00 seperti waktu puasa pada umumnya. Kedua, menganut pada daerah terdekat yang waktunya mendekati normal.

”Kalau perintah agama jelas, puasa mulai terbit fajar sampai maghrib. Tapi kalau seperti itu, nanti kondisi tubuhnya akan lemas,” ungkap penyuka soto dan mendoan ini.

Karya ketiganya ini, merupakan wujud ihtiarnya untuk menjawab tantangan permasalahan hukum. Meski dirinya lama berada di Maroko, namun dia tak memilih menerbitkan di sana. Dia memilih Mesir lantaran harga cetaknya lebih murah. ”Kertas di Mesir lebih murah dari pada di Maroko,” imbuh lulusan MA Qudsiyyah pada 2012 ini.

Riset yang dilakukan untuk menulis kitab ini, selama enam bulan. Dalam proses ini, lulusan S-2 Universitas Hassan II, Casablanca, Maroko, pada 2018 ini, mengaku sempat bertemu dengan syekh tariqah dari Manchester, Inggris. Syekh tersebut menganalogikan apa yang dilakukan pesepak bola Muhammad Salah.

Dengan adanya minoritas muslim yang mensyiarkan agama Islam, kadang bisa mengurangi Islamofobia yang ada di negara minoritas. Wejangan dari syekh tersebut, akhirnya membulatklan tekadnya untuk menyelesaikan karya ketiganya.

Dicontohkan, Muhammad Salah selalu sujud di lapangan setelah mencetak gol. Ternyata ini bisa menurunkan islamofobia. Lalu ada semacam yel-yel yang intinya jika Muhammad Salah bisa bisa mencetak gol, para suporter akan ke masjid dan masuk Islam. ”Ini menunjukkan kalau minoritas muslim mau praktik dan syiar Islam, islamofobia bisa turun. Padahal sujudnya kan tidak sesuai dengan aturan. Dia kan nggak nutup aurat,” kata dosen di STAI Al Anwar Rembang ini.

Prestasi yang dimiliki ketua umum Perhimpunan Pelajar Islam (PPI) Maroko 15-17 ini, memang sudah terlihat sejak dia duduk di bangku sekolah menengah. Saat lulus MA Qudsiyyah, dia mengikuti seleksi beasiswa studi ke Maroko. Dari 15 siswa se-Indonesia, dua di antaranya dari Jawa Tengah. Tak berhenti sampai itu, saat lanjut studi S-2, Faqih juga harus kembali bersaing dengan mahasiswa dari berbagai negara.

”Untuk masuk magister hanya ada jatah 20 orang. 15 untuk orang Maroko dan lima untuk orang asing. Jadi saya bersaing dengan orang Arab Saudi, Mauritania, Aljazair, Malaysia, Thailand, Pattani, Turki, Syiria, dan lainnya. Alhamdulillah lolos,” imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia