alexametrics
Selasa, 11 Aug 2020
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

Seni Ukir Jadi Muatan Lokal Wajib SD dan SMP di Jepara

23 Juli 2020, 09: 49: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

KUKUHKAN: Seni ukir saat ini dijadikan mulok wajib di SD dan SMP.

KUKUHKAN: Seni ukir saat ini dijadikan mulok wajib di SD dan SMP. (FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA - Pada tahun ajaran baru ini, seni ukir ditetapkan sebagai muatan lokal (mulok) wajib di tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Kebijakan ini tak lain untuk menambah kompetensi siswa sekaligus untuk melestarikan seni ukir di wilayah Kabupaten Jepara.

Hal tersebut tertuang dalam surat edaran yang dikeluarkan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara tertanggal 7 Juli 2020. Dalam surat tersebut dijelaskan, ada beberapa tambahan materi pembelajaran yang harus dilaksanakan di sekolah pada tahun ajaran 2020/2021, salah satunya seni ukir.

Kepala Disdikpora Jepara, Agus Tri Harjono mengatakan, dalam pelaksanaannya materi pembelajaran seni ukir bisa dilakukan melalui kegiatan kurikuler, kokurikuler, intrakurikuler atau ekstrakurikuler.

Lebih lanjut dijelaskan, khusus di tingkat SD seni ukir menjadi mulok wajib untuk siswa di kelas IV, V dan VI. Sedangkan mulok yang lain seperti bahasa asing, lingkungan hidup, dan pariwisata dijadikan sebagai mulok pilihan. ”Pelaksanaan pembelajarannya dijadikan sebagai mata pelajaran mulok tersendiri atau dijadikan kegiatan ekstrakurikuler wajib seni ukir. Durasinya sendiri 2 jam pelajaran,” katanya.

Sementara untuk di tingkat SMP, di semua tingkatan seni ukir menjadi mulok wajib dan mulok pilihannya bisa disesuaikan dengan kearifan lokal di lingkungan sekolah masing-masing. Sama seperti pelaksanaan di tingkat SD, seni ukir bisa dijadikan sebagai mata pelajaran mulok tersendiri atau dijadikan kegiatan ekstrakurikuler wajib.

Terkait dengan diwajibkannya seni ukir sebagai salah satu materi pembelajaran di sekolah, Ketua MKKS SMP Kabupaten Jepara, Darono Ardi Widodo mengatakan, untuk di tingkat SMP yang paling memungkinkan yakni melaksanakan tambahan pembelajaran seni ukir dalam kegiatan ekstrakurikuler. ”Hal ini karena jika dijadikan materi pelajaran tersendiri, banyak sekolah yang tidak mampu,” ungkapnya.

Kendalanya salah satunya yakni pada guru atau pendidik. ”Tidak semua sekolah punya guru dengan kompetensi tersebut. Terlebih harus menyiapkannya untuk masing-masing kelas. Kalau ektrakulikuler memungkinkan,” pungkasnya.

(ks/emy/him/top/JPR)

 TOP