alexametrics
Jumat, 07 Aug 2020
radarkudus
Home > Pendidikan
icon featured
Pendidikan

UMM Ngaji Bareng Gus Baha’

20 Juli 2020, 10: 33: 26 WIB | editor : Ali Mustofa

Dari kiri ke kanan, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., Gus Baha’, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang Dr. Abdul Haris, M.A.

Dari kiri ke kanan, Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd., Gus Baha’, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang Dr. Abdul Haris, M.A. (ISTIMEWA)

Share this      

MALANG - Tradisi silaturahmi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke sejumlah tokoh, cendekiawan, negawaran, hingga ulama di Indonesia berlanjut. Kali ini (14/7), rombongan Kampus Putih bertandang ke salah satu ulama kharismatik, KH. Ahmad Baha’uddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha’. Beliau merupakan pengasuh Pesantren Tahfidzul Quran Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah.

UMM mengirimkan dosen dan karyawan mengikuti pengajian di pesantren yang di asuh Gus Baha’ di Narukan, Kragan, Rembang, ini. Kedatangan rombongan Kampus Putih ini selain untuk silaturahmi juga mengadakan pengajian dalam jaringan (daring/online) yang dapat disaksikan di akun resmi YouTube UMM, UMM Tube. Beberapa jam siaran pengajian ini diunggah, sudah ditonton puluhan ribu kali.

Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. memimpin langsung rombongan. “Silaturahmi ini merupakan cara kami untuk tholabul ‘ilmi . Biasanya kami mengundang, tapi juga biasanya bersilaturahmi. Alhamdulillah, pagi ini kita bisa bersilaturahmi. Kehadiran kita bersama dalam rangka untuk menambah wawasan keilmuan kita, khususnya adalah memperbaiki cara beragama kita. Mudah-mudahan menjadi kaffah,” ungkap Fauzan.

Pengajian Gus Baha’ selama ini sangat digemari. Karena semua materi disampaikan secara jelas dengan bahasa yang mudah dimengerti masyarakat umum. Selain itu melalui uraian Gus Baha’, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyampaikan materi Gus Baha’ juga banyak humor-humor cerdasnya. Tak heran Gus Baha’ dikagumi banyak masyarakat Islam dari lintas organisasi.

Selain itu melalui uraian di setiap pengajian Gus Baha’, Islam hadir dengan wajah yang sangat menyenangkan. Apalagi ketika menyampaikan materi, ulama nusantara ini juga banyak diselipkan humor-humor cerdasnya. Kehadiran Gus Baha’ menjawab kebutuhan umat di tengah banyaknya da’i atau pendakwah yang kering dalam menyampaikan ajaran Islam. Rektor Dr. Fauzan, M.Pd. lantas menyebut pentingnya untuk mengkaji Islam dari banyak tokoh. Mengkaji dalam rangka belajar untuk tidak hanya memahami satu sisi dari ajaran agama Islam. Satu versi dari ajaran agama.

“Akan tetapi agama ini diturunkan untuk semua, maka terjadinya perbedaan ijtihad-ijtihad para ulama itu pada dasarnya menjadi rahmat bagi semester alam. Rahmatan lil’alamin,” ungkapnya.

Dalam pengajiannya, Gus Baha’ menyebut belakangan ini banyak dai’ yang mengklaim, dirinya mengajak ke Allah dan Rasul. Tetapi sesungguhnya hakikatnya mengajak ke kelompoknya sendiri.

“Saya ini termasuk kiai yang masih orisinil. Artinya, suatu saat saya tidak laku lagi sebagai kiai, asal Islam jalan saya senang. Karena nggak penting yang popular saya, itu nggak penting. Yang penting agama Islam jalan,” katanya.

Gus Baha’ dalam inti pengajiannya juga mengajak para jamaah pengajian yang hadir untuk berkaca dari kemahsyuran ulama-ulama Nusantara terdahulu. Banyak fatwa ulama Nusantara yang dipakai oleh kelompok yang justru dianggap berseberangan. Sebutlah Syaikh Khatib Minangkabau, Syaikh Nawawi Banten, atau Syaikh Bagir Nur Jogja. Mereka, berhasil menampilkan wajah agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Dengan menyitir cerita gurunya KH. Maimun Zubair, yang menafsir Al Quran surat al-Anbiya ayat 107: Wama arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin. Yang artinya, “Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”. Disebutkan, dalam ajaran Agama Islam, perbedaan manusia berdasarkan agama, suku, etnis dan ras tidak berlaku bagi risalah kerasulan Nabi.

Gus Baha’ meyakini bahwa Allah SWT tidak mungkin menghasilkan ulama hanya orang Arab saja. Allah SWT pasti akan munculkan ulama dari bangsa lainnya, termasuk Indonesia. “Kenapa? Kata Mbah Mun, karena sebenarnya manusia semua ini kena khitobnya (pengajaran atau dakwah) Islam. Kalau tidak ada ulama yang dari berbagai negara, kesannya agama ini hanya milik orang Arab. Itulah kenapa Allah SWT bikin ulama non-Arab,” jelasnya.

Menurut Gus Baha’, Allah ingin memaklumatkan bahwa orang yang bukan Arab pun bisa belajar Islam. Bahkan, tingkat kealimannya tidak kalah dengan orang Arab. Hal ini menjadi tugas bersama bagaimana agar orang arab juga bisa belajar Islam di Indonesia. “Bahkan saat ini liga umat Islam dunia juga orang Indonesia masuk di dalamnya. Saya berharap ulama ini bisa lahir dari Malang, terkhusus dari UMM,” katanya. 

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia