alexametrics
Jumat, 14 Aug 2020
radarkudus
Home > Cuitan
icon featured
Cuitan

Contoh Keterbukaan dari Grobogan

20 Juli 2020, 10: 10: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi

Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

SAYA sudah diwanti-wanti oleh Pratono, redaktur senior Radar Semarang, agar tidak menulis tentang Covid-19. Sudah terlalu banyak tulisan tentang itu. Bahkan, sudah membosankan. Namun, tak bisa menahan diri. Mengenai keterbukaan Sekda Grobogan Sumarsono yang positif terkena virus mematikan itu.

Saya angkat dua jempol kepada Pak Marsono. Begitu bersahajanya eksekutif I Grobogan tersebut. Semangatnya luar biasa. Beliau sampaikan sendiri apa yang dialami kepada para kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Apa adanya.

Pesannya antara lain seperti ini: Assalamualaikum Wr Wb… Bapak Ibu Kepala OPD yg sy hormati… hasil tes swab saya di RS UNS Solo pada hari Sabtu 11 Juli 2020 dinyatakan positif covid-19… mohon dengan sangat Bapak Ibu yang pernah kontak dengan saya agar memeriksakan diri baik rapid ataupun tes swab….

Dalam waktu singkat pesan WA (yang saya tulis persis seperti aslinya) tersebut, menyebar ke mana-mana. Termasuk ke WA saya. Wartawan Radar Kudus Sirojul Munir juga mendapatkan. Radar Kudus memberitakan 14 Juli lalu. Saat itu Sumarsono tengah dirawat di RSUD R. Soedjati Purwodadi. Semoga lekas sembuh.

Sumarsono adalah satu dari sedikit korban Covid-19 yang mau terbuka. Itu sangat berarti. Orang yang pernah kontak dengannya segera memeriksakan diri. Pemerintah setempat memfasilitasi.

Bupati Grobogan Sri Sumarni juga luar biasa. Beliau segera melakukan tes swab. Secara terbuka. Dilihat banyak orang. Diliput wartawan. Tidak sedikit pun tergurat di wajahnya ekspresi ketakutan. Dia tersenyum. Padahal belum tentu negatif. Hasilnya baru keluar tiga hari kemudian.

Apa yang dilakukan Bu Sri membangkitkan semangat masyarakat. Memberikan optimisme. Beliau memberi contoh langsung. Tidak sekadar berkoar-koar. Toh berhalo-halo dengan pengeras suara keliling kampung sekalipun, belum tentu dipercaya orang.

Apa yang dilakukan orang nomor satu di Grobogan itu, lantas diikuti semua kepala OPD dan orang-orang yang pernah kontak dengan Sumarsono. Tesnya juga dilakukan terbuka. Di pendapa kabupaten. Alhamdulillah, sejauh ini belum ada penularan.

Sebenarnya Bu Sri sudah pernah tes swab. Tepatnya 10 Juli 2020. Sehari sebelum Sumarsono melakukan tes yang sama. Tetapi apa yang dilakukan Bu Sri itu, tidak terkait kasus tertentu. Hasil tes Sumarsono pun baru keluar tiga hari kemudian.

Setelah Sumarsono positif, Bu Sri tes lagi. Karena, beliau pernah kontak langsung.

Saya tidak bisa membayangkan seandainya Sumarsono tertutup. Kemungkinan tidak ada tes massal di Kabupaten Grobogan.

Seharusnya keterbukaan seperti itulah kunci penanganan Covid-19. Korbannya terang-terangan. Orang yang pernah kontak langsung pun blak-blakan. Bukan malah menutup diri. Menyimpan rapat-rapat kondisi dirinya. Yang akibatnya bisa menular ke mana-mana.

Tapi, begitulah. Sebagian masyarakat kita belum dewasa. Mereka seolah tidak rela kalau orang dekatnya terkena Covid-19. Ketika KH Majid Kamil (Gus Kamil) wafat, Gugus Tugas sudah menyatakan ketua DPRD Rembang itu positif. Pernyataan videonya ada. Namun sebagian orang bersikukuh Gus Kamil wafat karena penyakit lambung.

Terkena Covid-19 bukan aib. Kenapa harus disembunyikan. Tidak seperti AIDS yang termasuk penyakit menular seksual. Yang penularannya antara lain melalui aktivitas seksual bebas. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP