alexametrics
Selasa, 11 Aug 2020
radarkudus
Home > Pati
icon featured
Pati

Aplikasi Sistem Pelelangan Ikan Pati Menuju Top 45 KIPP Kemenpan-RB

09 Juli 2020, 09: 52: 46 WIB | editor : Ali Mustofa

INOVASI TPI: Bupati Pati Haryanto didampingi Wabup Saiful Arifin memimpin rapat virtual mempresentasikan inovasi lelang TPI Juwana di Gedung Setda setempat kemarin.

INOVASI TPI: Bupati Pati Haryanto didampingi Wabup Saiful Arifin memimpin rapat virtual mempresentasikan inovasi lelang TPI Juwana di Gedung Setda setempat kemarin. (SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

Share this      

PATI - Aplikasi Sistem Pelelangan Ikan Pati (Sipipa) masuk top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Kemenpan-RB. Bupati Pati Haryanto mempresentasikan teleconference keunggulan Sipipa dengan juri KIPP ke top 45. Itu berbarengan dengan presentasi inovasi lain dimiliki daerah lain se-Indonesia kemarin.

Bupati Pati Haryanto menjelaskan pembuatan Sipipa di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Juwana karena Pati mempunyai potensi pantai sepanjang 60 kilometer. Di sepanjang pantai itu banyak TPI. Sehingga sering terjadi penanganan pelelangan ikan. Di sana, kerap terjadi kendala penanganan pelelangan ikan. Seperti kebocoran hasil lelang atau kekurangan pembayaran lelang ikan.

”Banyaknya laporan itu. Akhirnya kami merumuskan aplikasi Sipipa untuk membantu nelayan, pemilik kapal, bakul, hingga petugas supaya pelaksanaan lelang bisa transparan,” jelasnya.

SIAP DILELANG: Para nelayan menurunkan ikan hasil tangkapan di TPI 2 Juwana.

SIAP DILELANG: Para nelayan menurunkan ikan hasil tangkapan di TPI 2 Juwana. (SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

Sebelum ada Sipipa ini, lanjutnya, sistem pelelangan konvensional. Pelaksanaannya lama dan tidak ada keterbukaan. Sehingga Sipipa ini bisa mengintegrasikan pemilik kapal, nelayan, dan petugasnya langsung.

Ia memaparkan kinerja dari aplikasi ini yakni pihak lelang menitipkan deposit agar pemenang lelang membayar. Setelah lelang, tidak lama kemudian sudah dapat diketahui. Misalnya saja jumlah kapal lelang ada sepuluh. Nantinya bisa diketahui hasil uangnya langsung. Selanjutnya uang hasil lelang ditransfer kepada pemilik kapal atau nelayan.

Dalam proses itu, perbankan juga siap membantu. Karena banyak nelayan mempunyai pinjaman KUR di perbankan. Kalau hasil lelang tersendat, pastinya perbankan juga khawatir. Sudah pasti apabila hasilnya tersendat, maka pembayaran di bank juga tersendat. ”Kalau lancar kan perbankan pasti senang. Makanya berani meminjami,” lanjutnya.

Orang nomor satu di Pati ini menambahkan, aplikasi ini sudah diterapkan selama satu tahun ini. Pihaknya menciptakannya murni untuk kesejahteraan para nelayan supaya tidak dimanfaatkan oknum. Kini, sudah tidak ada lagi permainan pihak tertentu mencari keuntungan pribadi. Petugas juga telah ditingkatkan kesejahteraannya.

Meskipun dalam pelaksanaan tidak ada kendala, lanjutnya, ke depan kami akan terus mengembangkan aplikasi ini. Bahkan sudah banyak daerah lain sampai daerah luar Jawa melakukan study banding tentang aplikasi ini. Tidak menutup kemungkinan diadopsi daerah lain. ”Kami tidak mempermasalahkan. Malah bagus kalau diaplikasikan di daerah lain. Meningkatkan kesejahteraan nelayan,” lanjutnya. 

(ks/put/zen/top/JPR)

 TOP